Kemenag RI 2019:Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?” (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” Prof. Quraish Shihab:
Dia berkata: "Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedangusia lanjut telah mencapaiku dan istriku pun seorang wanita mandul?" Allah beifi.rman: ''Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. "
Prof. HAMKA:
Dia berkata, "Ya, Tuhanku! Adakanlah untukku suatu tanda." Dia berfirman, "Tanda engkau ialah bahwa engkau tidak akan bercakap-cakap dengan manusia tiga hari, kecuali dengan isyarat, dan ingatlah Tuhan engkau sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah petang dan pagi."
Ayat ke-40 ini menceritakan tentang ungkapan rasa penasaran Nabi Zakaria yang diberi kabar gembira akan punya anak di usia lanjut. Digambarkan Zakaria bertanya bagaimana caranya dirinya bisa diberi anak? Padahal usianya sudah tidak lagi muda dan istrinya pun mandul.
Lalu dijawab bahwa hal itu memang kehendak Allah, dimana Allah SWT itu Maha Kuasa atas apa yang Dia kehendakinya. Walaupun hal itu dianggap menyalahi sunnatullah sendiri.
قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ
Lafazh qaala () artinya : Dia berkata, maksudnya Zakaria bertanya kepada Allah SWT. Lafazh rabbi () maknanya : Wahai Tuhanku.
Lafazh annaa yakunu (أَنَّىٰ يَكُونُ) artinya : Bagaimana bisa, atau bermakna : dari mana. Maksudnya bagaimana atau dari mana logikanya atau penjelasannya secara nalar manusia.
Sedangkan makna li ghulamun (لِي غُلَامٌ) aku memiliki anak. Menarik membahas istilah ghulam, karena memang punya banyak makna dan konotasi. Bisa bermakna anak dalam arti anak biologis, sebagaimana Nabi Ibrahim diberi ghulam.
(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). (QS. Adz-Dzariyat : 28)
Maryam sebagai Ibunda Nabi Isa ketika didatangi Jibril alaihissalam akan diberikan anak di dalam rahimnya, disebutlah anak itu dengan sebutan ghulam.
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. (QS. Al-Kahfi : 74)
Pertanyaan Nabi Zakaria ini pada dasarnya adalah pertanyaan yang sifatnya penasaran dan bukan pertanyaan yang sifatnya mengingkari sifat Allah SWT Maha Kuasa.
وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ
Lafazh wa-qad balaghaniya (وَقَدْ بَلَغَنِيَ) artinya : dan telah sampai usiaku.
Sedangkan kata al-kibaru (الْكِبَرُ) secara bahasa artinya besar. Namun dalam bahasa Arab maksudnya adalah al-kibaru fis-sin (الكبر في السن) yaitu besar dari segi usia atau maksudnya sudah tua.
Menurut riwayat, disebutkan bahwa jarak waktu antara doa permintaannya untuk bisa punya anak dengan mendapatkan jawaban berupa kabar gembira punya anak adalah 40 tahun.
Dan ketika kabar gembira itu datang, dirinya telah berusia 60 tahun. Sedangkan istrinya tidak terlalu jauh terpaut usianya dengan dirinya.
Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak meriwayatkan bahwa Zakaria mendapat kabar gembira akan punya ketika sudah berusia 120 tahun, sedangkan istrinya berusia 98 tahun. Oleh karena itulah dia menyebutkan bahwa istrina itu mandul, karena sudah sampai periode nenek-nenek tidak juga kunjung punya anak.
وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ
Lafazh imrati (وَامْرَأَتِي) artinya secara harfiyah adalah perempuan ku atau wanita ku. Namun terjemahannya disesuaikan dengan rasa bahasa kita menjadi : istriku.
Hal itu disebabkan bahwa dalam rasa bahasa kita agak kurang lazim menyebut istilah : perempuan ku. Mungkin kalau dalam bahasa Inggris, istri disebut dengan my woman adalah hal biasa. Begitu juga suami disebut dengan my man.
Tapi dalam rasa bahasa bahasa kita, sebutan ‘perempuanku’ atau ‘laki-laki-ku’ itu amat sangat kurang lazim dan amat terasa aneh di telinga. Maka umumnya diterjemahkan dengan rasa bahasa yang pas dengan budaya kita saja yaitu : istriku
Lafazh ‘aaqir (عَاقِرٌ) maknanya mandul alias tidak bisa hamil dan punya anak. Asal kata aqir itu dari tanah yang sangat mengandung pasir sehingga tidak ada tanaman yang bisa tumbuh (الْعَظِيمُ مِنَ الرَّمْلِ لَا يُنْبِتُ شَيْئًا).
قَالَ كَذَٰلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
Lafazh kazalikallah (كَذَٰلِكَ اللَّهُ) artinya : demikianlah Allah, atau begitulah Allah, atau seperti itulah Allah SWT.
Ungkapan yaf’alu ma yasya’ (يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ) artinya : Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Walaupun hal itu dianggap mustahil bagi ukuran logika manusia, namun kalau Allah SWT menghendaki, apapun bisa saja terjadi.
Memang benar dalam segala sesuatunya, Allah SWT telah menciptakan hukum alam, atau dalam bahasa iman kita menyebutnya sebagai sunnatullah. Pada dasarnya semua makhluknya diatur dan diikat lewat sunnatullah ini.
Namun tidak mengapa apabila sesekali Allah SWT membuat semacam pengecualian yang tidak harus selalu tunduk dengan sunnatullah yang telah Dia tetapkan.
Itulah makna bahwa Allah SWT bebas melakukan apa saja, termasuk melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan sunnatullah itu sendiri.