Kemenag RI 2019:Sungguh, benar-benar telah kufur orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itulah Almasih putra Maryam.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “(Jika benar begitu,) siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Almasih putra Maryam, ibunya, dan seluruh yang berada di bumi?” Milik Allahlah kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:Demi Allah! Sungguh, telah kafirlah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putra Maryam." Katakanlah (wahai Nabi Muhammad SAW):
"Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan semua yang berada di bumi ini?"
Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. HAMKA:Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu adalah al-Masih anak Maryam, mereka telah kafir. Katakanlah, "Jika demikian, siapa yang memiliki kekuasaan untuk menahan sesuatu dari Allah, jika Dia ingin membinasakan al-Masih anak Maryam, ibunya, dan semua orang yang ada di bumi? Bagi Allah-lah kekuasaan atas segala langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Ayat ke-17 ini status kekafiran orang-orang yang berpaham kesatuan Tuhan dengan manusia. Studi kasusnya bahwa mereka yang mengaku sebagai pengikut Nabi Isa telah mengklaim bahwa Allah SWT bersemayam di tubuh Nabi Isa.
Allah SWT menolak tegas hal itu sampai mengatakan bahwa Dia hendak membinasakan Almasih putra Maryam, ibunya, dan seluruh yang berada di bumi. Itu sebagai bantahan sangat tegas tentang lemahnya apa yang mereka klaim secara sepihak terkait menyatunya Allah SWT dengan manusia.
Ayat ini kemudian menekankan bahwa Allah SWT adalah pemilik kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka tidak layak bila disamakan dengan makhluknya, apalagi bersemayang ke tubuh makhluk ciptaan-Nya sendiri.
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا
Kata laqad (لَقَدْ) artinya : Sungguh benar-benar. Kata kafara (كَفَرَ) merupakan kata kerja dan bentuk fi’il madhi. Bentuk mashdar-nya adalah kufrun (كُفْرٌ), bentuk ism fa’il atau yang jadi pelakunya disebut dengan kafir (كافر). Sedangkan kata kafara (كَفَرَ) artinya : telah melakukan kekafiran atau telah menjadi kafir.
Status kafir itu jelas-jelas di luar agama Islam yang Allah SWT ridhai. Maka jika keyakinan itu masuk ke dalam pemikiran kaum nasrani yang mana notabene mengaku sebagai ahli kitab, otomatis keimanan mereka pun gugur dengan sendirinya, dan secara posisi mereka berada di dalam barisan orang-orang kafir.
Demikian juga bila pemahaman sesat ini melanda kaum muslimin, maka status keislaman mereka pun ikut gugur juga.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata qaaluu (قَالُوا) artinya : mereka berkata.
Menarik untuk dibahas bahwa Allah SWT ternyata tidak menyebut mereka adalah orang-orang nasrani, tetapi hanya bilang : “telah kafirlah mereka yang berkata begini atau begitu”. Padahal kita semua tahu ayat ini masih erat sekali kaitannya dengan kisah kaum nasrani, setidaknya lewat ayat-ayat sebelum ini.
Namun di ayat ini, identitas kaum nasrani justru tidak disebutkan. Yang disebutkan justru ‘orang yang berkata’. Dengan demikian, bisa saja yang dimaksud memang kaum nasrani, akan tetapi bisa juga pihak lainnya.
إِنَّ اللَّهَ هُوَ
Kata innallaha (إِنَّ اللَّهَ) artinya : sesungguhnya Allah. Kata huwa (هُوَ) artinya : Dia-lah atau itulah.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Matafih Al-Ghaib menuliskan sebenarnya kandungan ayat ini menimbulkan masalah besar. Sebab di masa kenabian ketika ayat ini turun, faktanya orang-orang Nasrani tidak mengatakan bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam.
Lalu, mengapa Allah menyebutkan bahwa mereka mengatakan demikian?
Jawabannya tidak jadi masalah, toh ayat ini memang tidak menyebut kata nasrani. Ayat ini hanya menegaskan bahwa siapapun dia, kalau mengatakan bahwa Allah itu adalah Al-Masih Isa bin Maryam, maka dia telah kafir. Namun apa benar klaim bahwa di masa kenabian Muhammad SAW kala itu, orang-orang nasrani sama sekali tidak berkata demikian?
Jawabannya bahwa ada dari sebagian kelompok-kelompok pecahan nasrani yang memang benar-benar mengatakan bahwa Allah SWT itu adalah Nabi Isa. Mereka adalah kelompok Ya’qubiyah. Mereka terkena pengaruh konsep penyatuan antara Tuhan dengan makhluk, yang sering disebut dengan istilah hulul. Mereka meyakini bahwa Allah bisa masuk atau bersemayam dalam tubuh atau ruh seseorang.
Konsep Penyatuan Antara Tuhan Dan Manusia
Konsep penyatuan antara Tuhan dan manusia atau al-hulul (الحلول) ini pada dasarnya bukan milik Nasrani. Sebab agama yang dibawa oleh Nabi Isa alaihissalam justru pada dasarnya tegas mengatakan bahwa Nabi Isa bukan tuhan.
Konsep hulul ini rupanya memiliki akar yang sangat tua dan dapat ditemukan dalam berbagai tradisi keagamaan sebelum masuk ke dalam pemikiran Kristen. Secara garis besar, konsep ini muncul dari pengaruh filsafat dan kepercayaan kuno yang berkembang di berbagai peradaban. Berikut adalah beberapa asal muasalnya menurut sejarah:
1. Kepercayaan Mesir Kuno
Di Mesir Kuno, para Firaun dianggap sebagai perwujudan langsung dari dewa, terutama dewa Horus di bumi. Mereka meyakini bahwa raja bukan hanya manusia biasa, tetapi juga memiliki unsur ketuhanan yang menjadikannya sebagai perantara antara manusia dan para dewa. Konsep ini mirip dengan gagasan tentang Tuhan yang "bersemayam" dalam diri seseorang.
2. Filsafat Yunani (Neoplatonisme)
Dalam filsafat Yunani, terutama dalam ajaran Platonisme dan Neoplatonisme, terdapat gagasan bahwa dunia materi hanyalah bayangan dari dunia spiritual yang lebih tinggi.
Plotinus (204–270 M), seorang filsuf Neoplatonis, mengembangkan konsep emanasi, yaitu bahwa segala sesuatu berasal dari "Sang Satu" (Tuhan) dan bisa bersatu kembali dengannya melalui proses penyucian diri. Konsep ini sangat berpengaruh terhadap pemikiran mistik dalam berbagai agama, termasuk dalam teologi Kristen awal.
3. Pengaruh Gnostikisme
Gnostikisme adalah aliran kepercayaan yang berkembang pada abad pertama hingga ketiga Masehi. Para Gnostik percaya bahwa ada percikan cahaya ketuhanan dalam setiap manusia yang bisa kembali bersatu dengan Tuhan melalui ilmu (gnosis).
Dalam beberapa sekte Gnostik, Isa (Yesus) dianggap sebagai perwujudan dari Tuhan yang turun ke dunia dalam bentuk manusia, tetapi tetap memiliki sifat ilahi.
4. Ajaran Hindu dan Konsep Avatar
Dalam agama Hindu, terdapat konsep avatar, yaitu penjelmaan Tuhan dalam bentuk manusia, seperti Krishna dan Rama yang dianggap sebagai perwujudan Dewa Wisnu. Konsep ini memiliki kemiripan dengan doktrin Kristen tentang inkarnasi, di mana Isa dianggap sebagai manifestasi Tuhan di dunia.
5. Pengaruh Persia dan Zoroastrianisme
Dalam ajaran Zoroastrianisme di Persia, terdapat kepercayaan tentang Ahura Mazda, Tuhan yang memiliki aspek kebaikan yang bisa turun ke dunia dalam bentuk manusia untuk menuntun umat manusia. Pengaruh dari kepercayaan ini juga ikut membentuk beberapa pemikiran teologis dalam agama-agama di sekitarnya. Masuknya Konsep Hulul dalam Teologi Kristen
Dalam konteks agama Kristen, konsep hulūl mulai berkembang setelah perdebatan teologis mengenai sifat Isa ‘alaihis-salām. Kaum Monofisit (termasuk Ya‘qūbiyyah) meyakini bahwa keilahian dan kemanusiaan Isa menyatu dalam satu hakikat, sehingga ia dianggap sebagai Tuhan dalam bentuk manusia. Pandangan ini bertentangan dengan kaum Nestorian, yang menganggap bahwa Isa memiliki dua hakikat yang terpisah: sebagai manusia dan sebagai Tuhan.
Dari sini, jelas bahwa konsep hulul dalam teologi Kristen bukan muncul dari ajaran asli yang dibawa oleh Isa ‘alaihis-salām, melainkan hasil dari pengaruh berbagai pemikiran filsafat dan kepercayaan kuno yang berkembang setelahnya.
Bagaimana dengan Kaum Muslimin?
Dalam dunia tasawuf, konsep hulûl sering dikaitkan dengan tokoh-tokoh seperti Al-Hallaj (858-922 M), yang terkenal dengan ungkapannya Ana al-Haqq alias ‘Aku adalah Kebenaran’. Pernyataannya ini dianggap oleh sebagian orang sebagai ekspresi hulul, yaitu bahwa Tuhan telah bersemayam dalam dirinya. Pandangan ini menyebabkan Al-Hallaj dieksekusi karena dianggap menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan tauhid.
Mayoritas ulama Sunni, termasuk Al-Ghazali dan Ibnu Taymiyyah, menolak konsep hulul karena dianggap bertentangan dengan prinsip ketauhidan dalam Islam. Mereka menegaskan bahwa Tuhan berbeda secara mutlak dari makhluk-Nya dan tidak bisa bersemayam dalam tubuh manusia atau makhluk lain. Ibnu Al-Arabi : Wihdatul Wujud
Yang sedikit berkaitan dengan konsep hulum adalah paham wihdatul-wujud versi Muhyiddin Ibnu Al-Arabi Al-Andalusi 1165 - 1240 M. Paham ini sering menimbulkan perdebatan karena dianggap mirip dengan konsep panteisme (Tuhan menyatu dengan alam), meskipun pengikutnya menolak interpretasi ini.
Menurut para pembelanya, paham wahdatul wujûd hanya menekankan bahwa segala sesuatu adalah manifestasi Tuhan, bukan berarti Tuhan berada dalam makhluk. Sedangkan konsep hulul menyatakan bahwa Tuhan bisa masuk ke dalam makhluk tertentu, yang lebih mirip dengan konsep inkarnasi dalam agama lain.
الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
Kata al-masihub-na-maryam (الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ) artinya : Almasih putra Maryam.
Lafazh al-masih (الْمَسِيحُ) sebenarnya bukan nama asli, melainkan gelar yang tersemat pada seorang Nabi Isa alahissalam. Abu Ubaidah dan Al-Laits mengatakan bahwa aslinya dalam bahasa Ibrani adalah masyih (مَشِيحًا), namun di-arab-kan menjadi al-masih. Sedangkan maknanya para ulama saling berbeda, antara lain :
Ibrahim an-Nakha’i mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) adalah ash-shiddiq (الصِّدِّيقُ) yang berarti yang membenarkan.
Ahmad bin Yahya mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) itu dari kata masaha al-ardha (مَسَحَ الْأَرْضَ) yaitu orang yang berjalan atau berkelana di muka bumi.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa al-masih itu dari kata (مَسَحَ - يَمْسَحُ) artinya orang yang mengusap orang sakit parah dan langsung sembuh seperti sedia kala.
Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) karena Dia mengusap dengan minyak barakah yang menjadi ciri para nabi.
Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa makna al-masih adalah orang yang diusap oleh Malaikat Jibril dengan sayapnya ketika lahir ke dunia. Hal itu dilakukan agar Nabi Isa terlindung dari setan.
Lafazh isa (عِيْسَى) bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan asalnya dari bahasa Ibrani yaitu yasyu’ (يَشُوعُ). Sebagaimana Musa yang juga asal dari bahasa Ibrani yaitu musya (مُوشى) atau misya (مِيشا).
Namun ada banyak ulama yang berpendapat bahwa lafazh Isa sudah menjadi bagian dari bahasa Arab. ‘isab-na-maryama (عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ) artinya : Isa putera Maryam.
Bagian ini menarik untuk didiskusikan, yaitu disebutkan bahwa Nabi Isa itu putera Maryam, padahal kita tahu bahwa janin Nabi Isa itu sendiri sebenarnya tidak berasal dari sel telur Maryam. Hal itu karena Maryam disebut sebagai wanita suci yang tidak pernah mendapatkan haidh. Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa tubuh Maryam tidak memproduksi sel telur.
Namun begitu Nabi Isa tetap disebut sebagai putra Maryam. Dan fakta ini membuat para ulama mengatakan sudah bisa disebut sebagai anak asalkan pernah berada di dalam rahim seorang wanita, meski pun tidak tercipta dari sel telurnya.
Karena itulah para ulama sepakat mengharamkan bayi tabung ketika seorang wanita hanya menjadi donor rahim, sedangkan janin atau sel telurnya milik wanita lain. Hal itu tidak diperkenankan secara syariah dengan pertimbangan bahwa dengan sekedar menjadi donor pun sudah termasuk menjadi ibu bagi anak tersebut. Dan ini akan menimbulkan kerancuan nasab antara wanita pemilik sel telur dengan wanita pemilik rahim.
قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
Kata qul (قُلْ) artinya : Katakanlah. Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk berkata atau menjawab.
Kata fa-man (فَمَنْ) artinya : maka siapakah. Kata yamliku (يَمْلِكُ) artinya : memiliki. Kata minallahi (مِنَ اللَّهِ) artinya : dari Allah. Kata syai’an (شَيْئًا) artinya : sesuatu pun.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Matafih Al-Ghaib menuliskan bahwa penggalan ini berupa jumlah syarthiyah (الجملة الشرطية) atau kalimat ber-syarat, namun posisinya dibalik, yaitu bagian jawabnya didahulukan baru kemudian syaratnya disebutkan belakangan. Jika tidak dibalik, maka kalimat aslinya adalah :
Jika Allah berkehendak untuk membinasakan Al-Masih putra Maryam, ibunya, dan seluruh makhluk di bumi, maka siapakah yang mampu menghalangi-Nya dari kehendak dan kekuasaan-Nya?
An-Nasafi menuliskan dalam tafsir At-Taysir fi At-Tafsir bahwa makna penggalan ini adalah :
فمن يمنع من قدرته ومشيئته شيئًا
Maka siapakah yang dapat menghalangi sesuatu dari kekuasaan dan kehendak-Nya?
Kemenag RI menerjemahkan kalimat ini menjadi : “(Jika benar begitu,) siapa yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah”.
Kata in arada (إِنْ أَرَادَ) artinya : jika Dia berkehendak. Kata an yuhlika (أَنْ يُهْلِكَ) artinya : untuk membinasakan. Bahasa yuhilka ini memang terasa agak kasar, karena artinya binasa. Padahal maksudnya sama saja, yaitu mati atau meninggal dunia.
Kata al-masihab-na maryam (الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ) artinya : Al-Masih putra Maryam.
Tentang apakah Nabi Isa alaihissalam itu masih hidup hingga kini ataukah Beliau sudah wafat, sudah pernah kita bahas sebelumnya. Sedangkan di penggalan ini, Allah SWT menyebutkan tentang ‘membinasakan’ Beliau, walaupun datang dengan shighat : jika Dia berkehendak.
Detainya tidak perlu lagi diulang disini, namun biar bagaimana pun nanti pada akhirnya tidak ada makhluk yang bernyata yang hidup abadi. Bahkan pada akhirnya, malaikat maut sendiri pun diperintahkan untuk mencabut nyawanya sendiri oleh Allah SWT.
Kata wa ummahu (وَأُمَّهُ) artinya : dan ibunya. Maksudnya ibunda Maryam sebagai ibu yang melahirkan Nabi Isa sendiri pun juga pada akhirnya wafat juga.
وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
Kata wa man fil-ardhi (وَمَنْ فِي الْأَرْضِ) artinya : dan siapa yang berada di bumi. Kata jamian (جَمِيعًا) artinya : semuanya.
Meskipun kata man biasanya digunakan untuk manusia, namun dalam penggalan ini, maksudnya segala makhluk yang bernyawa, sehingga termasuk juga hewan-hewan di bumi, semuanya pasti akan binasa juga pada akhirnya.
وَلِلَّهِ مُلْكُ
Lafazh mulku (مُلْكُ) maknanya : “kerajaan”. Yang menarik untuk dikaji ungkapan bahwa Allah SWT adalah pemilik kerajaan, pertanyaannya : apakah pemilik kerajaan itu sama juga maknanya dengan raja itu sendiri? Kalau maknanya memang sama, kenapa tidak menggunakan ungkapan bahwa Allah SWT itu raja yang menguasai langit dan bumi? Kenapa harus ada kata : “pemilik” pada kerajaan?
Maka ungkapan ‘pemilik kerajaan’ bisa saja menimbulkan asumsi bahwa ada kerajaan entah itu di langit atau pun itu di bumi, siapa pun yang jadi rajanya. Namun lepas dari itu semua, tetap saja semua kerajaan itu milik Allah SWT. Disini kita jadi bisa membedakan antara pemilik dengan raja, dimana posisi pemilik itu jauh lebih tinggi dari pada sekedar raja.
Sebagaimana dalam perusahaan di masa modern sekarang ini, ada owner yaitu para pemilik modal atau saham yang tentunya paling berkuasa, dan ada CEO, yaitu kalangan profesional yang diberi upah serta bayaran untuk mengelola jalannya sebuah perusahaan. Secara aturan kita semua tahu bahwa kapan pun yang namanya CEO bisa saja diberhentikan, dipecat bahkan diganti dengan orang lain. Sedangkan pihak owner biar bagaimana pun adalah pemilik perusahaan yang bersifat absolut dan mutlak. Terserah pemilik modal kalau mau mencopot para employe bahkan sekelas CEO sekalipun.
Jadi bisa kita katakan bahwa di atas rakyat ada raja, tapi di atas raja ada pemilik aslinya, yaitu Allah SWT.
السَّمَاوَاتِ
Lafazh as-samawati (السَمَوَات) maknanya : “langit”, namun dalam bentuk jama’, kalau dalam bentuk tunggal disebut sama’ (السَّمَاء) saja. Kalau ayat ini dan di banyak ayat lainnya menggunakan bentuk jama’, maka timbul pertanyaan menggelitik : apakah maknanya menjadi : “langit yang banyak jumlahnya”, ataukah maksudnya : “langit yang luas ukurannya”.
Dan juga menjadi pertanyaan, kerajaan apa yang adanya di langit yang banyak atau langit yang luas? Jawabannya pasti bukan kerajaan manusia, melainkan kerajaan yang secara umum kita akan memahaminya sebagai kerajaan makhluk ghaib, entah itu kerajaan para malaikat, atau boleh jadi kerajaan para jin dan entah apa nama makhluk yang menghuni langit.
Sebagian kalangan penggemar cerita fiksi luar angkasa ada yang mencoba mengaitkan ayat ini dengan isyarat tentang adanya kehidupan makhluk cerdas (extra terresterial) di luar angkasa. Dikesankan seolah-olah Al-Quran mengakui adanya alien dengan segala kemajuan teknologinya.
Padahal secara ilmiyah, sampai hari ini masih terlalu dini untuk memperkirakan adanya kehidupan makhluk cerdas di luar bumi, bahkan untuk sekedar makhluk hidup yang paling sederhana pun masih menjadi asumsi dan spekulasi. Belum ada bukti pasti tentang keberadaan makhluk cerdas di luar angkasa. Meskipun ada beberapa laporan tentang penampakan UFO atau benda terbang aneh lainnya yang tidak dapat dijelaskan, namun sampai saat ini tidak ada bukti yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Dalam kesimpulannya, asumsi tentang kemungkinan adanya makhluk cerdas di luar angkasa didasarkan pada bukti dan teori ilmiah yang ada, namun sampai saat ini belum ada bukti pasti yang dapat diandalkan.
وَالْأَرْضِ
Adapun al-ardhu (الأَرْضُ) artinya bisa tanah atau bisa juga bumi, tergantung konteksnya. Kadang dalam satu ayat, lebih pas diterjemahkan menjadi tanah, seperti pada ayat berikut :
Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah. (QS. Al-Baqarah :71)
Menerjemahkan ayat di atas pastinya tidak pas kalau sapi digunakan untuk membajak bumi, yang lebih tepat membajak tanah atau sawah. Namun kadang lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi bumi dalam arti sebuah benda raksasa yang berputar pada porosnya di ruang angkasa, sembari juga bergerak mengelilingi matahari.
Namun penerjemahan sebagai planet bumi adalah penerjemahan yang hanya cocok di masa kini saja. Ada pun sepanjang sejarah, lebih tepat diterjemahkan menjadi : tanah, atau negeri.
Lepas dari perbedaan penerjemahannya, yang jelas penyebutannya berbentuk tunggal, sehingga pengertiannya pasti tidak banyak, hanya satu saja. Dan tidak keliru kalau dimaknai sebagai isyarat luasnya lebih kecil dari luasnya langit.
وَمَا بَيْنَهُمَا
Kata wa ma bainahuma (وَمَا بَيْنَهُمَا) artinya : dan apa yang ada di antara keduanya.
Apa yang dimaksud dengan ‘apa yang ada di antara keduanya’? Apakah ada ruang kosong yang memisahkan antara langit dan bumi?
Jawabannya tidak demikian. Bahwa apa yang ada di antara keduanya merupakan ungkapan bahwa langit dan bumi itu masing-masing ada isinya atau ada penghuninya. Jadi bukan ruang yang memisahkan antara langit dan bumi, tetapi maksudnya segala yang menjadi isi dari langit dan bumi atau yang menghuni langit dan menghuni bumi.
Kalau yang menghuni bumi tentu saja selain tumbuhan dan hewan, ada manusia. Lantas siapakah yang menghuni langit?
Boleh jadi jawabannya adalah makhluk-makhluk ghaib, seperti malaikat, jin dan lainnya. Ada sebagian kalangan yang menerjemahkan langit itu sebagai luar angkasa, dimana gravitasi bumi sudah sangat rendah, sehingga suatu benda melayang-layang di ruang angkasa. Namun di dalam Al-Quran dan juga sastra Arab umumnya, kalau kita menyebut langit, umumnya dikonotasikan dengan alam ghabi.
Makanya Tuhan itu selalu di langit, maksudnya dimensinya bukan benda nyata tapi sesuatu yang ghaib. Begitu juga kita menyebut malaikat itu adanya di langit. Sebenarnya bukan berarti malaikat itu menghuni planet lain, melainkan wujud malaikat yang ghaib itu senada dengan ungkapan langit yang ghaib.
Maka kata langit itu tidak selamanya berarti langit dalam arti astronomi. Meskipun demikian, beberapa ayat Al-Quran juga menyebut langit dalam arti fisika, karena Allah SWT menurunkan hujan pun dari langit. Khusus untuk konteks hujan, maka langit yang dimaksud adalah : dari ketinggian tertentu. Karena awan hujan itu pastinya bukan di luar angkasa, tetapi masih sangat rendah. Ketinggian awan hujan dari permukaan tanah bervariasi tergantung pada jenisnya. Awan yang paling rendah adalah stratus, yang terbentuk pada ketinggian sekitar 100 hingga 2.000 meter. Awan ini tampak seperti lapisan kabut tebal dan biasanya menghasilkan hujan ringan atau gerimis.
Di atasnya, terdapat nimbostratus, yang berada pada ketinggian 600 hingga 3.000 meter. Awan ini berwarna abu-abu gelap dan menutupi langit secara luas, sering kali menyebabkan hujan yang berlangsung lama. Selanjutnya, terdapat cumulus congestus, yang dapat berkembang pada ketinggian 500 hingga 6.000 meter. Awan ini merupakan bentuk peralihan dari awan cumulus biasa sebelum berubah menjadi awan hujan yang lebih besar.
Awan hujan yang paling tinggi adalah cumulonimbus, yang menjulang dari 200 hingga 16.000 meter. Awan ini berbentuk seperti menara besar dan sering kali disertai petir, hujan deras, angin kencang, bahkan hujan es. Dengan demikian, awan hujan dapat terbentuk mulai dari 100 meter hingga lebih dari 16.000 meter di atmosfer, tergantung pada jenis dan kondisi cuaca yang menyertainya.
يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ
Kata yakhluku (يَخْلُقُ) artinya : Dia menciptakan. Kata maa yasyaa’ (مَا يَشَاءُ) artinya : apa yang Dia kehendaki. Ungkapan maa yasyaa’ itu memberikan isyarat bahwa Allah SWT menciptakan beragam makhluk yang belum tentu kita mengetahuinya. Ada berjuta spisies.
Di masa modern ini saja kita baru bisa mendata bahwa jumlah spesies makhluk hidup di Bumi sangat beragam dan terus diperbarui seiring dengan penelitian ilmiah. Para ilmuwan memperkirakan ada sekitar 8,7 juta spesies di dunia, yang terdiri dari berbagai kelompok makhluk hidup. Namun, hingga saat ini, baru sekitar 2,3 juta spesies yang telah dideskripsikan dan diberi nama secara ilmiah.
Biasanya para ilmuwan membuat klasifikasi makhluk hidup ke dalam beberapa kelompok besar, di antaranya:
Bakteri dan Arkea – Mikroorganisme bersel tunggal yang hidup di berbagai lingkungan ekstrem maupun biasa.
Protista – Organisme eukariotik sederhana, seperti ganggang dan protozoa.
Jamur (Fungi) – Organisme yang tidak berfotosintesis, seperti jamur dan ragi.
Tumbuhan (Plantae) – Berbagai jenis tanaman, termasuk lumut, paku-pakuan, dan tumbuhan berbunga.
Hewan (Animalia) – Kelompok yang paling banyak diteliti, termasuk invertebrata (seperti serangga dan moluska) serta vertebrata (seperti ikan, amfibi, reptil, burung, dan mamalia).
Dari kelompok tersebut, serangga merupakan kelompok dengan jumlah spesies terbanyak, diperkirakan mencapai 5,5 juta spesies. Sementara itu, spesies tumbuhan yang telah teridentifikasi sekitar 390.000 spesies, dan mamalia sekitar 6.400 spesies.
Karena masih banyak wilayah yang belum dieksplorasi, terutama di laut dalam dan hutan tropis, jumlah spesies makhluk hidup di Bumi kemungkinan jauh lebih banyak dari yang diketahui saat ini.
وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Lafazh wallahu (وَاللَّهُ) bermakna : Dan Allah. Lafazh’ala kulli sya’in (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ) artinya : atas segala sesuatu. Dan makna qadir (قَدِيرٌ) adalah : Maha Kuasa.
Ayat ini ditutup dengan penggalan yang menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Penutup model kalimat seperti ini biasa terkait apabila konten suatu ayat punya bobot yang cukup berat dan dirasa sulit atau mustahil dalam ukuran kita sebagai manusia.
Maka pernyataan bahwa Allah SWT Maha Kuasa tentunya menjawab semua rasa ragu dan ketidak-yakinan itu. Kita tidak usah merasa susah apalagi merasa lemah, sebab buat Allah tidak ada yang berat dan sulit. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk ketika harus memberikan kekuasaan atau kerajaan Persia dan kerajaan Romawi.
Ketika semua ada dalam genggaman kekuasan-Nya, maka tidak ada yang susah bagi Allah. Dan selama kita bersama Allah, maka Allah SWT akan lakukan yang terbaik buat kita.