Kemenag RI 2019:Tidakkah mereka perhatikan betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan? (Yaitu) generasi yang telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yang belum pernah Kami lakukan kepada kamu; dan Kami curahkan air hujan yang lebat, Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka; lalu Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka, selanjutnya Kami munculkan sesudah mereka generasi lain. Prof. Quraish Shihab:Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka? Padahal Kami telah meneguhkan mereka di bumi, (yaitu) keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu (masyarakat Mekkah), dan Kami kirimkan (awan sehingga menurunkan hujan dari) langit untuk mereka (dengan membawa hujan) yang deras dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, lalu Kami binasakan mereka karena dosa mereka (sendiri), dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. Prof. HAMKA:Apakah tidak mereka lihat berapa banyak angkatan yang telah Kami binasakan sebelum mereka, yang telah Kami beri beriku kekuasaan yang teguh di bumi, yang tidak Kami berikan kepada kamu. Dan telah Kami turunkan hujan lebat kepada mereka dan telah Kami jadikan sungai-sungai yang mengalir di bawah mereka. Maka, telah Kami binasakan mereka itu karena dosa-dosa mereka dan Kami timbulkan sesudah mereka angkatan yang lain.
Ayat ke-6 dari surat Al-An’am ini juga masih sangat erat hubungannya dengan dua ayat sebelumnya, dimana Allah SWT sedang mengisi kekosongan hati Nabi SAW dengan cara menceritakan nasib yang sama yang dialami oleh para nabi dan rasul di masa lalu.
Kali ini Allah SWT mengajak Nabi SAW untuk menggunakan tekhnik kajian sejarah umat terdahulu. Perhatikan lah betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Allah SWT binasakan.Padahal sebelumnya mereka telah diberi kedudukan di muka bumi, yang belum pernah diberikan kepada bangsa lain.
Allah SWT ceritakan bahwa sebab awal dari kemajuan peradaban mereka, yaitu curah air hujan yang melahirkan banyak sungai mengalir di bawah mereka. Dari sanalah kemudian muncul peradaban besar.
Namun pada akhirnya Allah SWT binasakan mereka karena dosa-dosa mereka. Mereka kemudian Allah SWT punahkan dari muka bumi lalu Allah SWT munculkan generasi lain.
أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ
Kata alam (أَلَمْ) artinya : Apakah belum. Kata yarau (يَرَوْا) artinya : mereka melihat. Kata kam (كَمْ) artinya : berapa banyak. Kata ahlakna (أَهْلَكْنَا) artinya : telah Kami binasakan. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata qablihim (قَبْلِهِمْ) artinya : sebelum mereka.
Al-Quran punya begitu banyak kisah terkait kehancuran umat terdahulu, yaitu umat sebelum masa kenabian Muhammad SAW. Allah SWT menggunakan istilah ahlakna (أَهْلَكْنَا) yang artinya : kami binasakan. Istilah ’binasa’ itu konotasinya bukan hanya runtuh, hancur dan mati, tetapi lebih jauh lagi dari itu, mereka pun punah.
Kebinasaan dan kepunahan mereka itulah yang seringkali disebut-sebut dalam banyak kisah Al-Quran. Dari semua kisah itu, ujung-ujungnya tidak lain karena mereka menolak untuk beriman kepada nabi dan rasul yang Allah SWT utus kepada mereka. Dari banyak kisah itu, kita bisa buat semacam sample terkait bagaimana secara teknis Allah SWT punahkan mereka.
1. Angin Yang Sangat Kencang Dan Dingin
Allah menghancurkan kaum ‘Ād dengan angin yang sangat keras, dingin, dan terus-menerus menerpa mereka selama beberapa hari.
Lalu mereka ditimpa suara keras mengguntur, maka jadilah mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (QS. Hud: 67)
3. Gempa Bumi
Selain suara petir, kaum Tsamud juga dikisahkan terkena gempa. Begitu juga kaum Madyan yaitu umat Nabi Syu‘aib, mereka dihancurkan oleh guncangan dahsyat dari bumi.
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah, dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air, lalu bertemulah air itu untuk suatu urusan yang telah ditetapkan.”(QS. Al-Qamar: 11–12)
5. Hujan Batu dan Gempa
Allah membalikkan negeri kaum Luth dan menurunkan hujan batu dari tanah yang terbakar sebagai azab atas perbuatan keji mereka.
Maka Kami tenggelamkan mereka di laut karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami(QS. Al-A‘raf: 136)
مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ
Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata qarnin (قَرْنٍ) artinya : generasi. Kata makkannahum (مَكَّنَّاهُمْ) artinya : yang telah Kami teguhkan kedudukan mereka. Kata fil ardhi (فِي الْأَرْضِ) artinya : di bumi.
Ungkapan makkannahum (مَكَّنَّاهُمْ)berarti Allah SWT sebelumnya telah memberi kepada bangsa itu berbagai hal yang membuat mereka lebih unggul dari bangsa yang lain. Mereka yang punya kejayaan, kemapanan, dominasi, superioritas, kekuatan, pengaruh luas, ketangguhan peradaban, kemandirian strategis dan juga pastinya stabilitas nasional.
مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ
Kata ma (مَا) artinya : sesuatu yang. Kata lam (لَمْ) artinya : belum. Kata numakkin (نُمَكِّنْ) artinya : Kami teguhkan. Kata lakum (لَكُمْ) artinya : untuk kamu.
Berbagai keunggulan itu belum tentu dimiliki oleh bangsa lain. Boleh dibilang belum pernah ada bangsa lain yang mendapatkan keunggulan yang seperti mereka miliki.
Bangsa lain bisa saja jadi pengekor atau bahkan malah jadi jajahan yang harus justru di bawah tekanan mereka.
وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا
Kata wa arsalna (وَأَرْسَلْنَا) artinya : Dan Kami kirimkan. Kata as-samaa (السَّمَاءَ) artinya : langit, tetapi diterjemahkan menjadi hujan. Sehingga kata langit disini mewakili awan. Kata alaihim (عَلَيْهِمْ) artinya : kepada mereka. Kata midrara (مِدْرَارًا) artinya : dengan deras.
Nampaknya pada penggalan ayat ini Allah SWT ingin menjelaskan urutan dan runtutan dari segala kemakmuran dan kemajuan bangsa itu, yang ternyata diawali dengan keberkahan dalam bentuk hujan dari langit.
Hujan lebat disini bukan sekadar peristiwa alam biasa, tetapi awal dari serangkaian keberuntungan dan kemakmuran yang menyertai sebuah kaum. Turunnya hujan deras secara konsisten menunjukkan sistem iklim yang stabil. Stabilitas iklim ini berkontribusi besar dalam membentuk ketahanan pangan suatu negeri. Ketika pangan aman, maka masyarakat hidup tenteram. Ketenteraman membuka jalan bagi berkembangnya perdagangan, lahirnya kota-kota besar, dan majunya peradaban.
Dengan air yang berlimpah, sungai-sungai mengalirkan kehidupan, irigasi bekerja sempurna, peternakan berkembang, dan lahan-lahan tidur menjadi produktif. Maka dari sana, muncullah kejayaan. Sebuah bangsa yang awalnya mungkin biasa saja, bisa menjelma menjadi adidaya, hanya karena langit memberi rahmatnya berupa hujan.
Coba kita bayangkan, bagaimana kondisi suatu negeri jika langitnya tidak menitikkan air hujan bertahun-tahun. Tanah menjadi kering dan pecah, tanaman tak tumbuh, hewan ternak mati kelaparan, dan manusia pun menderita.
وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ
Kata wa ja'alnal (وَجَعَلْنَا) artinya : dan Kami jadikan. Kata al-anhar (الْأَنْهَارَ) artinya : sungai-sungai. Kata tajri (تَجْرِي) artinya : mengalir. Kata mintahtihim (مِنْ) artinya : dari. Kata (تَحْتِهِمْ) artinya : bawah mereka.
Setelah hujan deras yang diturunkan dari langit membasahi bumi mereka dan menyuburkan tanah-tanahnya, Allah SWT menambahkan nikmat itu dengan aliran sungai yang mengalir dari bawah mereka.
Maksud “dari bawah mereka” (مِنْ تَحْتِهِمْ) bisa bermakna secara geografis bahwa tempat tinggal, ladang, atau kota-kota mereka berada di atas lahan yang dialiri sungai. Tapi bisa juga bermakna simbolik yaitu sungai itu betul-betul menjadi bagian dari peradaban mereka yang menghidupi, mengairi, dan menopang kehidupan ekonomi mereka.
Sungai dan Peradaban Besar
Sungai dalam sejarah peradaban manusia adalah faktor penting kemajuan. Bangsa-bangsa besar dunia kuno seperti Mesir dengan Sungai Nil, Mesopotamia dengan Tigris dan Eufrat, India dengan Sungai Indus dan Gangga, hingga Tiongkok dengan Sungai Kuning dan Yangtze.
Demikian pula di kepulauan Nusantara. Banyak kerajaan besar yang lahir dan berjaya berkat keberadaan sungai. Misalnya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur tumbuh di tepian Sungai Mahakam. Sungai ini menjadi jalur vital perdagangan dan sumber kehidupan masyarakatnya.
Kerajaan Melayu Dharmasraya dan kemudian Kerajaan Pagaruyung berkembang di sekitar Sungai Batanghari di Sumatera. Sungai ini menjadi urat nadi ekonomi dan budaya.
Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dahulu bermula di lembah Sungai Progo dan Elo. Sungai-sungai ini penting untuk irigasi sawah serta aktivitas ritual dan sosial masyarakat Jawa kuno.
Kerajaan Majapahit di Jawa Timur berkembang pesat di sepanjang Sungai Brantas, yang mengalir melewati pusat kota raja dan digunakan sebagai jalur transportasi dan logistik utama.
Bahkan Sunda Kelapa, cikal bakal Jakarta, awalnya adalah pelabuhan strategis di muara Sungai Ciliwung, menjadi pintu masuk perdagangan internasional.
Semuanya tumbuh di sekitar aliran sungai besar. Aliran air ini memungkinkan pengairan pertanian yang luas, transportasi antardaerah, sumber air bersih, dan bahkan sebagai jalur perdagangan.
Dengan air yang melimpah dan tanah yang subur, rakyat pun hidup makmur. Hasil pertanian melimpah, ternak berkembang baik, perdagangan hidup, dan stabilitas sosial terjaga. Maka kejayaan sebuah bangsa tak lepas dari nikmat-nikmat lahiriah semacam ini: hujan yang deras dari langit dan sungai yang mengalir di bawah mereka.
فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ
Kata faahlaknahum (فَأَهْلَكْنَاهُمْ) artinya : lalu Kami binasakan mereka. Kata bidzunubihim (بِذُنُوبِهِمْ) artinya : karena dosa-dosa mereka.
Penggalan ini mengajarkan kepada kita bahwa sekalipun suatu bangsa telah dianugerahi berbagai karunia alam, kekayaan sumber daya, dan kejayaan peradaban, namun semua itu tetap bisa musnah jika mereka tidak beriman dan menolak risalah kenabian dari langit.
Dalam sejarah dunia, kita menyaksikan bahwa banyak bangsa yang dahulu amat berjaya justru akhirnya runtuh dan lenyap bukan karena kekurangan alam, bukan karena gagal panen, bukan pula karena kemarau panjang, melainkan karena ulah mereka sendiri. Ketika mereka mulai lalai dari petunjuk Tuhan, tenggelam dalam kesombongan, berbuat aniaya, zalim kepada sesama, dan menuhankan hawa nafsu, maka itu menjadi awal dari kehancuran mereka.
وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ
Kata wa ansya'na (وَأَنْشَأْنَا) artinya : dan Kami ciptakan. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata ba'di-him (بَعْدِهِمْ) artinya : setelah mereka. Kata qarnan (قَرْنًا) artinya : generasi. Kata akharin (آخَرِينَ) artinya : yang lain.
Ayat ini memberi isyarat tentang sunnatullah dalam sejarah umat manusia. Ketika satu peradaban dihancurkan karena kezalimannya dan dosa-dosa mereka, sejarah tak berhenti di sana. Allah tidak membiarkan bumi ini kosong dari penghuni. Maka lahirlah generasi atau umat baru yang menggantikan posisi mereka.
Frasa qarnan akhirin (قَرْنًا آخَرِينَ) merujuk pada suatu kelompok manusia dalam kurun waktu tertentu, bisa satu generasi, bisa juga satu peradaban, atau bisa saja satu bangsa yang datang menggantikan umat sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa keberlangsungan umat manusia adalah bagian dari kehendak dan pengaturan Allah SWT, dan bahwa kepemimpinan duniawi terus bergulir di antara umat-umat, sesuai dengan kadar ketaatan atau kedurhakaan mereka.
Dalam konteks sejarah, ini bisa kita lihat dalam silih bergantinya bangsa-bangsa besar. Ketika Babilonia runtuh, muncul Persia. Ketika Persia jatuh, Romawi bangkit.
Demikian pula dalam sejarah Nusantara ketika Sriwijaya melemah, Majapahit bangkit; dan setelah Majapahit runtuh, kesultanan Islam pun muncul dan menggantikan mereka sebagai penguasa Nusantara.
Semua ini adalah pelajaran bahwa kejayaan bukanlah hak milik abadi suatu bangsa. Jika mereka lalai dan tenggelam dalam dosa, maka sunnatullah akan berjalan: mereka akan digantikan oleh generasi lain yang mungkin lebih baik, lebih kuat, atau lebih taat.
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
Hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia (QS. Ali Imran : 140)
Tidak ada satu pun kekuasaan yang abadi di dunia ini. Bangsa-bangsa besar di dunia itu telah datang dan pergi silih berganti.