Kemenag RI 2019:Maka, ketika siksaan Kami datang menimpa mereka, keluhan mereka tidak lain hanyalah ucapan “Sesungguhnya kami adalah orang-orang zalim.” Prof. Quraish Shihab:Maka, tidak ada keluhan (yang) mereka (ucapkan) di waktu datang kepada mereka siksa Kami, kecuali (penyesalan dan pengakuan dosa, seraya) mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang zalim.” Prof. HAMKA:Maka tiadalah ada seruan mereka ketika datang siksaan Kami itu, kecuali mereka berkata, “Sesungguhnya kami ini orang-orang yang zalim.”
Allah SWT ungkapkan bahwa ucapan mereka tidak lain hanyalah ucapan “Sesungguhnya kami adalah orang-orang zalim.”
Sebuah pengakuan yang jujur dan datang dari lubuk hati yang paling dalam, namun sayangnya semua sudah terlambat dan sia-sia saja. Seandainya bilang seperti itu sebelumnya dan jadi orang-orang yang beriman, taat, tunduk, patuh dan mengikuti petunjuk, tentu bagus sekali pernyataan semacam itu.
فَمَا كَانَ دَعْوَاهُمْ
Kata fa-ma kaana (فَمَا كَانَ) artinya : maka tidaklah. Kata da’wa-hum (دَعْوَاهُمْ) artinya : keluhan atau seruan mereka. Asal katanya dari (د ع و) yang bermakna dasar: memanggil, menyeru, mengajak, memohon, atau menyampaikan permintaan. Dari akar inilah lahir berbagai kata yang maknanya berputar di sekitar seruan yang keluar dari lisan, baik dalam bentuk ajakan, permohonan, maupun keluhan.
Kata da‘wa (دَعْوَى) sendiri secara bentuk adalah isim mashdar, yang menunjukkan isi seruan itu, bukan sekadar tindakan memanggil. Karena itu, ia bisa bermakna seruan, pengakuan, klaim, keluhan, atau teriakan permohonan.
Dalam konteks ayat ini, da‘wahum bukan doa yang tenang, apalagi ajakan yang terencana, tetapi teriakan spontan yang keluar saat azab datang. Seruan terakhir yang terlontar dari lisan mereka ketika tidak ada lagi ruang untuk berpikir atau berargumentasi.
إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا
Huruf idz (إِذْ) berarti : ketikam berfungsi sebagai penunjuk waktu yang membawa kita pada satu momen tertentu. Bukan rentang panjang, tetapi detik krusial saat peristiwa itu terjadi.
Kata jaa-a-hum (جَاءَهُمْ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, yang maknanya datang atau mendatangi. Bentuk madhi ini menunjukkan bahwa peristiwa itu sudah benar-benar terjadi, bukan ancaman di masa depan.
Objeknya adalah dhamir hum (هُمْ) yang menempel pada kata kerja ini. Dalam hal ini adalah para penduduk yang dimaksud dan menjadi sasaran langsung dari peristiwa itu.
Sedangkan pelakunya justru berada di posisi belakangan, yaitu kata ba’suna (بَأْسُنَا). Bentuknya bisa bermacam-macam bencana, beberapa di antaranya disebutkan dalam ayat-ayat lain, yaitu :
Maka Kami tenggelamkan mereka di laut karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami. (QS. Al-A‘rāf: 136)
6. Terbenam ke dalam Bumi
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ
Maka Kami benamkan dia beserta rumahnya ke dalam bumi. (QS. Al-Qaṣaṣ: 81)
7. Gabungan Beberapa Azab
فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ
Maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar. (QS. Saba’: 16)
إِلَّا أَنْ قَالُوا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ
Huruf illa (إِلَّا) artinya: kecuali. Maksudnya, tidak ada jawaban lain sama sekali, selain yang akan disebutkan sesudahnya. Huruf an (أَنْ) bisa dipahami sebagai: bahwa, yang berfungsi mengantarkan isi ucapan yang menjadi satu-satunya jawaban mereka.
Kata qalu (قَالُوا) artinya: mereka berkata. Ini ucapan yang benar-benar keluar dari mulut, bukan sekadar penyesalan di dalam hati. Kata inna (إِنَّ) artinya: sesungguhnya. Kata ini dipakai untuk menegaskan ucapan, seakan berkata bahwa ini pengakuan yang serius, bukan main-main. Kata kunna (كُنَّا) artinya: kami memang telah. Bukan hanya sekali dua kali salah, tapi sudah lama berada dalam keadaan seperti itu.
Kata zalimin (ظَالِمِينَ) artinya: orang-orang yang zalim. Zalim di sini maksudnya berbuat salah dengan sadar, menolak kebenaran, dan menyakiti diri sendiri dengan pilihan hidupnya.
Kalau dirangkai maknanya, kalimat ini menggambarkan suasana yang sangat jelas, yaitu saat azab datang nanti, barulah mereka tidak membantah dan mengakui bahwa selama ini mereka telah zalim. Pada saat itu tidak ada dalih, tidak ada kata “tapi”. Yang keluar dari lisan mereka hanyalah pengakuan polos dan jujur : “Kami memang orang-orang yang salah.” Tapi itu terjadi bukan karena tiba-tiba sadar, tetapi karena semua jalan sudah tertutup.