Kemenag RI 2019:Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, ) kemudian Dia bersemayam di atas ?Arasy. ) Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk pada perintah-Nya. Ingatlah! Hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan urusan. Maha Berlimpah anugerah Allah, Tuhan semesta alam. Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya Tuhan Pemelihara kamu ialah Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (enam masa), kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (berkuasa dan mengatur segala yang diciptakan-Nya sehingga berfungsi sebagaimana yang Dia kehendaki). Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang, (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha banyak berkah Allah, Tuhan Pemelihara seluruh alam. Prof. HAMKA:Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi di dalam enam hari, kemudian bersemayamlah Dia di atas Arsy. Dia tutupkan malam kepada siang, yang mengiringinya dengan cepat, dan matahari, bulan, dan bintang-bintang, semuanya tunduk kepada ketetapan-Nya. Ketahuilah, bagi-Nyalah seluruh penciptaan dan ketentuan. Mahasucilah Allah pemelihara sekalian alam.
Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah SWT menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. Disini Allah SWT menekankan proses bergantinya siang kepada malam yang diungkapkan dengan pendekatan menarik.
Terkait dengan pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang, Allah SWT tegaskan bahwa semua benda angkasa itu bergerak di bawah kontrol dan perintah-Nya.
Sekali lagi Allah SWT mengingtkat bahwa segala hal yang terkait dengan penciptaan dan urusan, maka Dia-lah yang jadi pemiliknya.
Penutup ayat ini merupakan sebuah ungkapan bahwa Allah SWT Tuhan semesta alam itu Maha Berlimpah dengan anugerah.
Huruf inna (إنَ) artinya :sesungguhnya. Kata rabbakum (رَبَّكُمُ) artinya : Tuhanmu. Lafazh Allah (اللَّهُ) artinya : adalah Allah. Kata alladzi (الَّذِي) artinya : Yang. Kata khalaqa (خَلَقَ) artinya : menciptakan. Kata as-samawat (السَّمَاوَاتِ) adalah bentuk jamak dari kata sama’ yang artinya : banyak langit. Kata wal-ardha (وَالْأَرْضَ) artinya : dan bumi.
فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ
Ungkapan fi sittati ayyam (فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ) sering diterjemahkan secara harfiyah menjadi : dalam enam hari. Kata sittah (سِتَّةِ) artinya : enam, sedangkan kata ayyam (أَيَّامٍ) adalah bentuk jamak dari yaum yang berarti hari.
Ayat ini bukan satu-satunya ayat yang bicara tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari. Daftar lengkapnya Penulis buatkan tabel sebagai berikut :
Sebenarnya masih ada satu ayat lagi yang bicara tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, namun redaksinya tidak secara langsung menyebut enam hari melainkan dua hari dan empat hari.
Katakanlah: Apakah kamu benar-benar kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan seluruh alam. Dan Dia menjadikan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya, dan Dia memberkahinya serta menentukan padanya kadar rezeki-rezekinya dalam empat hari. (QS. Fussilat : 9–12)
Selain di dalam Al-Quran, sebenarnya proses penciptaan langit dan bumi membuthkan enam hari terdapat juga di dalam kitab umat terdahulu, khususnya Taurat, serta diakui dalam tradisi Kristen melalui Kitab Kejadian. Dalam Taurat, khususnya Kitab Kejadian (Genesis), penciptaan juga digambarkan berlangsung selama enam hari, lalu hari ketujuh sebagai hari berhenti (istirahat):
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…” (Kejadian 1:1)
Lalu penciptaan dirinci menjadi : Hari ke-1 terang dan gelap. Hari ke-2 cakrawala atau langit. Hari ke-3 daratan dan tumbuhan. Hari ke-4 matahari, bulan, dan bintang. Hari ke-5 makhluk laut dan burung. Hari ke-6 hewan darat dan manusia. Kemudian ditegaskan:
“Maka selesailah langit dan bumi serta segala isinya.” (Kejadian 2:1)
Jadi amat wajar jika kebanyakan pemeluk agama ibrahimiyah, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam meyakini bahwa bumi dan langit diciptakan dalam enam hari.
Kebenaran Kitab Suci vs Sains Modern
Tiga agama Ibrahimiyah mengimani bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari.
Namun yang justru menjadi masalah jika proses enam hari penciptaan itu dikaitkan dengan logika sains modern, maka proses enam hari ini lebih seperti mitologi Yunani dan kisah-kisah dongeng. Selain pastinya bertentangan dengan fakta sains, proses penciptaan bumi dan langit dalam enam hari itu bahkan bertentangan dengan logika nalar yang paling sederhana.
Bukankah aneh jika bumi dan langit diciptakan dalam hitungan hari, sementara hitungan hari itu didasarkan pada perputaran bumi pada porosnya? Atau jika pun anggaplah saat itu belum ada pengetahuan tentang bentuk bumi yang bulat yang berputar pada porosnya, namun tetap saja hitungan hari itu didasarkan pada terbit dan terbenamnya matahari. Lantas bagaimana menghitung hari, jika mataharinya saja belum diciptakan?
Artinya bahkan pakai logika yang paling sederhana saja sudah tidak logis. Bumi dan langit diciptakan, tapi prosesnya pakai hitungan yang dasarnya belum ada.
Dalam agama Yahudi dan Nasrani nampaknya ini dikaitkan dengan dasar-dasar keimanan, sehingga jika ada yang menentang konsep ini, mereka akan diposisikan sebagai orang yang tidak beriman.
Lantas bagaimana dengan dunia Islam, apakah konsep penciptaan 6 hari ini juga dianut sebagai bagian dari rukun iman?
Jawabnya iya dan tidak. Kalau terkait rukun iman memang tidak, tapi karena Al-Quran menyebutkan proses enam hari penciptaan secara berulag-ulang, maka sudah dianggap sebagai bagian dari keimanan. Bahkan tidak sedikit kitab tafsir, khususnya yang klasik, yang malah menuliskan rincian nama hari yang enam itu.
Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] meriwayatkan atsar dari Ibn ‘Abbas, Qatadah, dan lainnya:
Allah SWT menciptakan bumi pada hari Ahar dan Senin, dan menciptakan gunung-gunung dan yang ada di dalamnya dari manfaat bumi pada hari Selasa, dan menciptakan langit pada hari Rabu dan Kamis, dan menciptakan cahaya, bintang, bulan, matahari pada hari Jumat.
Hanya saja entah bagaimana, beberapa mufassir justru dengan jujur menjelaskan bahwa angka 6 hari masa penciptaan langit dan bumi itu tidak seperti yang kita kira. Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[2] secara eksplisit menukil riwayat yang sama, lalu memberi catatan kritis:
Al-Qur’an tidak menyebut nama hari-harinya, tetapi hanya menyebut jumlahnya enam hari.
Kita bisa simpulkan bahwa Ibnu Katsir mengakui adanya riwayat dan tidak menolaknya mentah-mentah, meskipun juga tidak menganggapnya qath‘i.
Komentar yang cukup menarik datang dari Al-Qurthubi. Dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[3]. Beliau menjelaskan bahwa penyebutan hari-hari itu dipahami sesuai urutan manusia, meski belum ada matahari saat itu.
Tapi yang paling unik adalah apa yang ditulis oleh Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[4], bahwa hari-hari itu tidak harus dipahami sebagai hari yang kita kenal sekarang berdasarkan matahari.
Tafsir Ulama Modern
Di kalangan ulama tafsir kontemporer, tentu pandangannya sudah jauh berbeda. Salah satunya apa yang ditulis oleh Muhammad ‘Abduh & Rasyid Ridha. Secara eksplisit mereka menolak maka sittata-ayyam alias penciptaan langit dan bumi dalam enam hari secara hafiyah. Berikut komentar mereka :
Penyebutan “hari” bukan tujuan utama, yang ditekankan adalah proses bertahap dalam penciptaan.
Demikian juga dengan Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah[5]. Beliau menuliskan bahwa kata yaum dalam Al-Qur’an tidak selalu berarti 24 jam, tetapi bisa berarti masa yang panjang atau fase tertentu. Yang jelas tidak ada dasar Qur’ani untuk penamaan hari Ahad hingga hari Jumat. Kalau pun ada dalam kitab tafsir, maka rincian hari dalam sebagian tafsir klasik berasal dari riwayat non-Qur’ani. Sementara fokus Al-Qur’an adalah hikmah dan keteraturan penciptaan.
Ibn ‘Ashur dalam Al-Tahrir wa at-Tanwir[6] bahkan lebih tegas secara metodologis. Beliau menuliskan
Menisbatkan “hari-hari penciptaan” kepada nama hari yang dikenal manusia adalah klaim tanpa dalil.
ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
Lafaz tsumma (ثُمَّ) artinya : kemudian, biasanya punya makna urutan antara sebelum dan sesudahnya. Namun, para mufassir sepakat bahwa urutan di sini tidak otomatis berarti urutan waktu bagi Allah, karena Allah tidak terikat waktu. Maka urutan ini dipahami sebagai urutan pemberitaan, atau urutan penyebutan ciptaan, bukan perubahan keadaan pada Dzat Allah.
Kata istawa (اسْتَوَىٰ) berasal dari akar kata (س و ي) yang secara dasar bermakna sama, lurus, seimbang, sempurna. Makna-makna harfiyah istawa dalam bahasa Arab:
1. (اِسْتَقَرَّ / ثَبَتَ) : menjadi tetap, stabil, atau mapan.
2. (عَلَا وَارْتَفَعَ) : naik, meninggi atau berada di atas. Makna ini muncul jika disertai (على) secara bahasa, tanpa menetapkan makna fisik.
3. (تَمَّ وَكَمُلَ) : sempurna, selesai atau matang. Contohnya firman Allah (وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ) : ketika ia telah dewasa dan sempurna.
4. (اعْتَدَلَ) : lurus, seimbang atau tidak condong. (قَصَدَ) : menuju, mengarah. Contohnya : (ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ) : kemudian Dia menuju kepada langit.
Makna-makna ini semuanya sah secara bahasa Arab, dan digunakan dalam syair Arab pra-Islam maupun Al-Qur’an.
Secara bahasa murni frasa istawa ‘ala (اسْتَوَىٰ عَلَى) biasa dipahami sebagai ‘ala berarti di atas atau menguasai. Sedangkan kata istawa berarti stabil, sempurna, berada dalam kondisi penuh.
Namun di titik inilah perbedaan metodologi ulama muncul, karena makna bahasa tidak selalu sama dengan makna teologis otomatis. Jika dimaknai secara fisik, maka artinya duduk, menempel, atau bertempat. Maka pastinya bertentangan dengan prinsip tanzih.
Karena itu kalangan Salaf menetapkan lafaznya, tanpa membahas bagaimana. Ungkapan klasik yang sering dikutip berasal dari Imam Malik ketika ditanya tentang istiwa’:
Istiwa’ itu maknanya diketahui, bagaimana caranya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan mempertanyakan tentangnya adalah bid‘ah.
Sebagian ulama memahami bahwa bukan hanya kaifiyyah yang diserahkan kepada Allah, tetapi juga makna detail lafaz istiwa’.
Mereka membaca ayatnya, mengimaninya, dan menyerahkan hakikat maknanya sepenuhnya kepada Allah, tanpa menafsirkannya dengan makna bahasa tertentu.
Pendekatan ini banyak ditemui dalam riwayat ulama yang sangat ketat menghindari potensi tasybīh. Di kalangan muta’akhkhirin, pendekatan ini sering dikaitkan dengan tafwidh total.
Mazhab Khalaf yang dimotori Asy‘ariyah & Maturidiyah menakwil lafaz istiwa’ demi menjaga prinsip tanzih alias pensucian Allah dari sifat makhluk. Jika istiwa’ dipahami secara zahir bahasa yaitu duduk, naik, atau menetap, maka itu membuka pintu tajsim.
Ada kelompok ekstrem yang memahami istiwa’ secara harfiah fisikal, seperti duduk, bertempat, atau berada di arah tertentu.
Pandangan ini ditolak secara tegas oleh seluruh spektrum Ahlus Sunnah, baik salaf maupun khalaf, karena bertentangan dengan prinsip:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
Karena itu istiwa’ ditakwil dengan makna seperti al-qahr (menguasai), al-sulthan (kekuasaan), ataupun juga al-tadbir (pengaturan). Contoh ungkapan mereka bahwa iIstiwa’ ‘alal-‘Arsy artinya Allah menguasai dan mengatur ‘Arsy.
Ayat-ayat Istiwa’
Dalam Al-Quran kita menemukan beberapa ayat yang berbeda yang bicara tentang bersemayamnya Allah SWT di atas Arsy.
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. (QS. As-sajdah : 4)
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. (QS. Al-Hadid : 4)
Ungkapan ‘alal-arsy (عَلَى الْعَرْشِ) artinya : atas Arsy atau kepada Arsy. Mayoritas ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa ‘Arsy adalah makhluk Allah yang benar-benar ada, bukan sekadar simbol kekuasaan dan bukan pula makna majazi semata. Dalilnya karena ‘Arsy disebut berulang kali dalam Al-Qur’an, disebutkan memiliki hamalah al-‘arsy alias para malaikat pemikul ‘Arsy. Juga disebut memiliki ukuran dan kedudukan tertinggi.
Karena itu mereka cenderung mengatakan bahwa ‘Arsy bukan ide abstrak, tetapi makhluk nyata yang diciptakan Allah. Mereka juga sepakat bahwa ‘Arsy memiliki wujud, namun hakikat bentuknya tidak diketahui. Imam Al-Baihaqi menegaskan prinsip penting, yaitu bahwa ‘Arsy itu makhluk, tetapi tidak boleh dibayangkan bentuknya, juga tidak boleh dianalogikan dengan singgasana makhluk. Hal ini dibahas panjang dalam Al-Asma’ wa as-Sifat.
Apakah ‘Arsy bertempat di ruang?
Di sinilah para ulama sangat tegas bahwa ‘Arsy berada di atas seluruh makhluk. Namun di atas bukan berarti berada dalam sistem koordinat fisika yang kita pahami.
Ibn Katsir menjelaskan dalam Tafsir al-Quran al-‘Azhim[7] bahwa ‘Arsy adalah atap seluruh makhluk, tetapi tanpa implikasi bahwa Allah membutuhkan tempat.
يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا
Kata yughsyi (يُغْشِي) artinya : menutupkan, atau menghalangi pandangan, yaitu membuat sesuatu yang awalnya kelihatan jadi tidak nampak karena tertutup. Dalam konteks ayat ini, malam tidak muncul begitu saja, tetapi Allah menutupkan malam ke atas siang, sehingga cahaya siang terhalangi dan berganti dengan kegelapan.
Kata al-laila (اللَّيْلَ) artinya : malam. Kata an-nahara (النَّهَارَ) artinya : siang. Siang adalah pihak yang ditutupi. Jadi bukan malam yang ditutup oleh siang, tetapi siang yang ditutupi oleh malam.
Yang kita dapat dari ungkapan ini bahwa siang tidak pernah lenyap, siang masih ada, tetapi tertutup oleh kegelapan malam.
Kata yathlubuhu (يَطْلُبُهُ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, asalnya dari tiga huruf yaitu (طلب - يطلب) artinya: mencari, mengejar atau menuntut. Lalu dhamir -hu (ـه) kembali kepada an-nahar (النَّهَارَ) yaitu siang. Maksudnya, malam seakan-akan mengejar siang. Ini bukan pencarian sadar, tetapi gambaran dinamis bahwa pergantian itu berlangsung terus-menerus, tanpa jeda.
Kata hatsitsa (حَثِيثًا) artinya: dengan cepat, bertubi-tubi, tanpa lambat. Kata ini memberi penekanan bahwa malam itu mengejar siang, dimana siang pun tidak diam di tempat.
Gambaran utuh maknanya bahwa Allah menutupkan malam ke atas siang, sehingga cahaya siang hilang dari pandangan. Proses itu berlangsung dinamis: malam terus mengejar siang dengan cepat dan teratur. Semua ini menggambarkan keteraturan kosmik yang sangat presisi—bukan hanya pergantian waktu, tetapi sistem yang berjalan di bawah kendali penuh Allah.
Dr. Maurice Bucaille, seorang dokter bedah dan ilmuwan Perancis yang masuk Islam[8], memandang ayat (يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا) ini sebagai salah satu contoh redaksi Al-Qur’an yang sangat selaras dengan pemahaman astronomi modern, khususnya tentang bumi yang berbentuk bulat dan mengalami rotasi. Kata yughsyi yang artinya menutupkan, menurutnya tidak memberi kesan bahwa siang lenyap atau dihapus, melainkan tetap ada dan hanya tertutup oleh malam. Penggambaran ini menurutnya sulit dipahami secara tepat kecuali dalam konteks bumi yang berputar sehingga satu bagiannya menghadap matahari sementara bagian lain membelakanginya.
Ilmuwan yang berprofesi sebagai dokter bedah ini juga menyoroti dinamika yang tergambar dalam frasa yathlubuhu hatsitsa, yang ia pahami sebagai proses berkesinambungan dan cepat, konsisten dengan pergantian siang dan malam akibat rotasi bumi yang berlangsung terus-menerus. Dalam kerangka besar pemikirannya, Bucaille menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak menggunakan bahasa teknis ilmiah, tetapi redaksinya bebas dari kekeliruan kosmologis dan bahkan menunjukkan kesesuaian yang mencolok dengan fakta-fakta sains modern, sesuatu yang menurutnya sulit dijelaskan jika Al-Qur’an dianggap sebagai produk pengetahuan manusia pada abad ke-7.
Zaghloul El-Naggar[9], salah satu tokoh Muslim kontemporer menyatakan secara tegas dan eksplisit bahwa ayat ini merupakan isyarat ilmiyah terkait keberadaan rotasi bumi. Kata yughsyi yang maknanya menutupkan itulah yang menunjukkan bahwa siang tidak pernah musnah, melainkan tetap ada dan hanya tertutup oleh malam.
Konsep ini sangat sesuai dengan kenyataan bumi yang berputar sehingga sebagian permukaannya menghadap matahari sementara bagian lain membelakanginya. Ungkapan yathlubuhu hatsitsa (يَطْلُبُهُ حَثِيثًا) semakin menguatkan indikasi adanya gerak berkesinambungan dan cepat, yang ia pahami sebagai efek dari rotasi bumi pada porosnya.
Namun tidak ada satupun mufassir klasik yang bicara sampai ke titik ini dalam kitab-kitab tafsir mereka. Dan dalam kenyataannya, memang tidak ada satupun ulama Islam yang karena membaca ayat ini lantas tiba-tiba mendapatkan teori baru terkait rotasi bumi.
Yang terjadi justru sebaliknya, di zaman modern ini konsep bumi berotasi sehingga menimbulkan siang dan malam sudah diterima secara bulat. Lalu para ilmuwan baru menemukan ternyata ada ayat Al-Quran yang agak sejalan dengan konsep rotasi bumi.
Kata wasy-syamsa (وَالشَّمْسَ) artinya : dan matahari. Kata wal-qamara (وَالْقَمَرَ) artinya : dan bulan. Kata wan-nujuma (وَالنُّجُومَ) artinya : bintang-bintang, bentuk tunggalnya an-najm (النجم).
Kata musakkharat (مُسَخَّرَاتٍ) merupakan bentuk isim maf’ul dari kata dasar (سَخَّرَ - يسَُخِّرُ). Makna dasar kata ini adalah menundukkan, membuat patuh, menjadikan sesuatu berjalan sesuai kehendak pihak lain, bukan dengan pilihan bebasnya sendiri. Karena itu, bentuk isim maf‘ul-nya yaitu (مُسَخَّر) berarti sesuatu yang ditundukkan, yang dipaksa patuh, atau yang dikendalikan.
Dengan demikian kata musakhkharat (مُسَخَّرَاتٍ) bermakna makhluk-makhluk yang telah ditundukkan dan dikendalikan. Matahari, bulan dan berbagai macam bintang itu tidak bergerak sendiri, tetapi digerakkan oleh Allah SWT.
Jika dijelaskan dengan pendekatan sains, ungkapan musakhkharat (مُسَخَّرَاتٍ) sangat selaras dengan kenyataan bahwa benda-benda langit tidak pernah bergerak secara acak dan random, tapi pergerakan benda-benda langit itu berlangsung di bawah sistem hukum alam yang ketat dan tidak bisa dilanggar.
Matahari, yang sering disangka diam, sesungguhnya terus bergerak. Matahari berotasi pada porosnya dan sekaligus melaju bersama seluruh tata surya mengelilingi pusat galaksi. Gerakan ini terjadi karena tarikan gravitasi galaksi dan sifat inersia benda bermassa besar. Matahari tidak menentukan jalurnya, tetapi terikat pada lintasan yang sudah “dipatok” oleh struktur kosmik tempat ia berada.
Bulan pun bergerak dalam sistem yang sangat terkunci. Bulan mengorbit bumi karena keseimbangan antara tarikan gravitasi bumi dan kecepatan geraknya. Jika keseimbangan ini sedikit saja berubah, bulan bisa jatuh atau terlepas. Fakta bahwa bulan selalu berada pada jarak yang stabil dan selalu memperlihatkan sisi yang sama kepada bumi menunjukkan bahwa geraknya benar-benar berada dalam kendali sistem, bukan kebetulan.
Bintang-bintang juga demikian. Mereka tidak diam di ruang hampa, melainkan bergerak mengikuti orbit dalam gugus dan galaksi. Gerak mereka ditentukan oleh medan gravitasi raksasa dan distribusi massa kosmik. Tidak ada bintang yang keluar jalur atau bertabrakan secara acak, karena seluruh sistem langit bekerja dengan keteraturan yang sangat presisi.
Dalam bahasa sains, semua ini disebut keterikatan pada hukum fisika dan gravitasi. Dalam bahasa Al-Qur’an, keadaan itu disebut ditundukkan alias musakhkharat (مُسَخَّرَاتٍ). Istilahnya berbeda, tetapi maknanya bertemu pada satu kenyataan: matahari, bulan, dan bintang bergerak karena dikendalikan, bukan karena kehendak mereka sendiri.
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
Penggalan ini diawali dengan alaa (أَلَا) yang berfungsi sebagai tanbih, atau penegasan keras untuk menarik perhatian. Seakan-akan ayat ini berkata: perhatikan baik-baik, ini prinsip besar yang tidak boleh terlewat.
Lafaz lahu (لَهُ) yang artinya : milik-Nya. didahulukan sebelum penyebutan al-khalq dan al-amr. Secara balaghah, pendahuluan ini bermakna pembatasan dan pengkhususan. Artinya: hanya milik Allah, bukan sekadar milik-Nya di antara yang lain. Tidak ada sekutu, tidak ada pembagian, dan tidak ada pendelegasian hakikat.
Kata al-khalqu (الْخَلْقُ) artinya : penciptaan. Ini mencakup seluruh wujud fisik alam semesta: langit, bumi, waktu, materi, energi, hukum-hukum alam, serta seluruh makhluk yang tampak maupun tidak tampak. Segala sesuatu yang “ada” pada asalnya adalah hasil ciptaan-Nya.
Sedangkan kata al-amru (الْأَمْرُ) bermakna perintah, pengaturan, dan pengendalian. Ini bukan sekadar perintah verbal, tetapi otoritas penuh dalam mengatur, menjalankan, dan mengarahkan ciptaan tersebut. Jika al-khalq adalah menghadirkan wujud, maka al-amr adalah memastikan wujud itu berjalan sesuai kehendak dan ketetapan-Nya.
تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Kata tabaraka (تَبَارَكَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, berasal dari akar kata (ب ر ك) yang bermakna : tetapnya kebaikan, melimpahnya keberkahan, dan terus-menerusnya manfaat. Ketika kata ini digunakan untuk Allah, maknanya bukan Allah diberkahi, tetapi Allah adalah sumber seluruh keberkahan, yang kebaikan-Nya tidak pernah berkurang dan tidak pernah terputus.
Kemudian frasa rabbul-‘alamin (رَبُّ الْعَالَمِينَ) menegaskan posisi Allah sebagai Tuhan yang jadi pemilik, pemelihara, pendidik, dan pengatur.
Kata al-‘alamin (الْعَالَمِينَ) mencakup seluruh bentuk keberadaan: alam manusia, alam malaikat, alam jin, alam benda mati, hingga alam kosmik yang luas. Tidak ada satu alam pun yang keluar dari rububiyyah-Nya.
Dengan penutup ini, ayat seakan menyimpulkan seluruh uraian sebelumnya: Dia yang menutupkan malam atas siang, yang menundukkan matahari, bulan, dan bintang, yang memiliki penciptaan dan perintah sepenuhnya—Dialah Allah, Rabb seluruh alam, sumber keberkahan yang tak terbatas dan tak terhitung.
 
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[2] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)
[3] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
[5] Prof. Dr. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Quran, (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017)
[6] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)
[7]
[8] Dr. Maurice Bucaille Bucaille kemudian terkenal lewat bukunya La Bible, le Coran et la Science (1976), yang menjadi tonggak awal popularisasi wacana Al-Qur’an dan sains di dunia modern.
[9] Zaghloul El-Naggar adalah seorang ilmuwan dan cendekiawan Muslim Mesir yang dikenal luas atas karya-karyanya tentang hubungan antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan modern, termasuk fenomena alam dan kosmologi. Ia lahir di provinsi Gharbia, Mesir, pada 17 November 1933 dan menempuh pendidikan tinggi di University of Cairo sebelum memperoleh gelar PhD di University of Wales (Inggris) dalam bidang geologi. Selama kariernya ia mengajar di berbagai universitas di dunia dan menulis puluhan buku serta ratusan artikel yang menggabungkan pendekatan ilmiah dengan interpretasi ayat-ayat kosmik dalam Al-Qur’an. Zaghloul El-Naggar sudah wafat di Amman, Yordania, pada 9 November 2025 pada usia 91 tahun.