Kemenag RI 2019:Sungguh, rasul-rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad) benar-benar telah diperolok-olokkan, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemooh mereka (rasul-rasul) apa (azab) yang selalu mereka perolok-olokkan. Prof. Quraish Shihab:Demi (Allah)! Sungguh, telah diperolok-olok (pula) para rasul sebelummu (Nabi Muhammad saw.), maka turunlah (siksa) kepada orang-orang yang mengejek di antara mereka (sebagai balasan bagi) apa yang (selalu) mereka perolok-olokan. Prof. HAMKA:Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum engkau maka turunlah kepada orang-orang yang telah memperolok-olokkan itu di antara mereka (balasan dari) apa yang mereka perolok-olokkan itu.
Ayat ke-10 dari surat Al-An’am ini menyambung apa yang sudah disampaikan pada ayat sebelumnya, yaitu bahwa para rasul di masa sebelum era kenabian Muhammad SAW juga selalu diperlakukan secara hina, yaitu mereka selalu diolok-olok, dijelekkan, dihina, direndahkan, bahkan dijadikan bahan ejekan.
Tujuan ayat ini tentu untuk menjadi penguat mental bagi Nabi SAW yang juga mengalami proses direndah dan dihina oleh kaumnya sendiri.
Maka itu Allah SWT menyertakan ayat ini dengan kisah bagaimana orang-orang yang mencemooh mereka para rasul itu disiksa dan dijatuhkan adzab.
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ
Kata wa laqad (وَلَقَدِ) artinya : dan sungguh. Kata ustuhzi-a (اسْتُهْزِئَ) artinya : telah diperolok-olok. Kata birusuli (بِرُسُلٍ) artinya : terhadap para rasul. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata qablika (قَبْلِكَ) artinya : sebelummu.
Ejekan, cemoohan, pelecehan dan olok-olok dari suatu kaum kepada nabi mereka adalah hal yang selalu terjadi. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang selaras dengan makna dari:
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّنْ قَبْلِكَ
Dan sungguh, sebelum kamu telah diejek oleh para rasul. (QS. Al-Anbiya’ : 41)
“Dan sesungguhnya sebelum kamu telah diperolok-olok oleh para rasul; lalu Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku siksa mereka. Maka alangkah dahsyatnya siksa-Ku.” (QS. Ar-Ra‘d : 32)
Kedua ayat di atas menegaskan dua hal. Pertama, bahwa ejekan terhadap rasul memang terjadi sebelumnya. Kedua, bahwa Allah memberi kelonggaran waktu kepada kaum kafir, tetapi ketika azab tiba
فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ
Kata fa-haaqa (فَحَاقَ) artinya : maka menimpa. Kata billadzina (بِالَّذِينَ) artinya : kepada orang-orang yang. Kata sakhiru (سَخِرُوا) artinya : memperolok-olok. Kata min-hum (مِنْهُمْ) artinya : dari mereka.
Dalam Al-Qur’an, terdapat dua istilah yang sering kali tampak serupa dalam terjemahannya, yaitu istihza’ (اِسْتِهْزَاءٌ) dan sukhriyah (سُخْرِيَّةٌ), yang keduanya sering diterjemahkan sebagai “mengolok-olok” atau “mengejek”. Namun, bila ditelusuri lebih dalam, keduanya memiliki nuansa makna dan konteks penggunaan yang berbeda secara mendasar.
Kata istihza’ berasal dari akar kata (هزأ - يَهزَأُ – اِسْتِهْزَاء) yang memiliki makna ejekan yang dilakukan dengan niat mencemooh dan merendahkan secara tersembunyi. Karakter dari istihza’ lebih bersifat batiniah dan terselubung, di mana pelakunya sering menyampaikan ejekan bukan secara terang-terangan, melainkan dalam bentuk sindiran, komentar sinis, atau tindakan yang seolah-olah baik namun sebenarnya merendahkan. Istihza’ kerap dilakukan dengan kepura-puraan, dan pelakunya mungkin saja bersikap seakan menghormati atau mengikuti, padahal di balik itu tersimpan niat mempermainkan atau mengejek.
Sedangkan sukhriyah, yang berasal dari akar kata (سَخِرَ - يَسْخَرُ - سُخْرِيَّة) menggambarkan bentuk ejekan yang lebih terang-terangan dan kasat mata. Dilakukan secara terbuka dan tidak jarang disertai dengan tawa, celaan, atau ungkapan verbal yang jelas bernada meremehkan.
Sukhriyah bisa dilihat sebagai bentuk ejekan yang spontan, ekspresif, dan tidak tersembunyi, sehingga mudah dikenali oleh orang lain sebagai sikap mengejek.
Dengan kata lain, perbedaan paling mendasar di antara keduanya terletak pada cara dan kedalaman ejekan. Istihza’ bersifat lebih dalam, lebih halus, dan sering tersembunyi, sedangkan sukhriyah bersifat terbuka, vulgar, dan langsung.
Oleh sebab itu, dalam konteks Al-Qur’an, ketika disebutkan bahwa para rasul telah “diistihza’kan” oleh kaumnya, itu menunjukkan adanya upaya mengejek mereka dengan tipu daya dan penghinaan tersembunyi, bukan sekadar celaan biasa. Adapun sukhriyah dalam ayat lain menggambarkan ejekan terang-terangan yang dilakukan oleh kaum yang menolak dakwah para nabi.
Perbedaan ini penting untuk ditangkap agar kita bisa memahami kehalusan bahasa Al-Qur’an serta membedakan bentuk-bentuk penolakan atau permusuhan terhadap dakwah kebenaran, baik yang dilakukan secara terbuka maupun secara licik dan terselubung.
مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
Kata ma-kanu (مَاكَانُوا) artinya : apa yang dahulu. Kata bihi (بِهِ) artinya : dengannya. Kata yastahzi-un (يَسْتَهْزِئُونَ) artinya : memperolok-olok.
Penggalan yang menjadi penutup ayat ini adalah penjelasan bahwa gara-gara suatu kaum ingkar kepada para rasul, bahkan dengan cara yang amat memalukan, yaitu mengejek, menghina, merendahkan dan mengolok-olok, maka turunlah adzab dan siksa kepada mereka.
Sikap mengejek inilah yang ternyata jadi pemicu kenapa Allah SWT sampai menghancurkan suatu kaum. Boleh jadi seandainya mereka tidak sampai ke titik itu, ceritanya akan lain lagi.
Yang menarik untuk dibahas, kenapa ada semacam pola yang berulang, dimana orang-orang yang ingkar kepada para rasul itu selalu mengejek dan menghina. Apa sebabnya dan kenapa demikian?
Menurut hemat penulis, ada beberapa faktor psikologis dan sosiologis yang membuat tindakan mengejek hampir selalu muncul dari kaum yang menolak kebenaran.
Pertama, sikap mengejek sering lahir dari ketidakmampuan mereka untuk membantah kebenaran secara ilmiah atau rasional. Ketika argumen tak lagi bisa dilawan, maka mereka beralih pada cara paling rendah: mencemooh, menghina, dan memperolok. Ini adalah bentuk pertahanan diri yang putus asa. Mereka tidak bisa membungkam kebenaran dengan argumentasi, maka kebenaran itu dilumpuhkan dengan olok-olok.
Kedua, mengejek itu adalah cara membangun solidaritas kelompok dalam penolakan. Bila satu orang mulai menghina, dan yang lain ikut tertawa dan mem-bully, maka terbentuklah satu komunitas yang bersatu dalam ejekan. Di balik tawa mereka ada rasa takut yang dalam akan perubahan, dan rasa nyaman dalam kebersamaan sesat.
Ketiga, ejekan sering dipakai sebagai pelipur lara ketika mereka kecolongan, gagal menjawab argumen, lalu mencari hiburan batin dengan cara tolol, yaitu merendahkan pihak yang menegur.
Pada akhirnya, mencemooh bukan hanya menyakiti hati para rasul, ia adalah penghinaan terang‑terangan terhadap Allah dan wahyu‑Nya—suatu kesombongan yang selalu mengundang murka dan azab dari-Nya.
وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
Kata wa-innanii (وَإِنَّنِي) artinya : dan sesungguhnya aku. Kata barii-un (بَرِيءٌ) artinya : berlepas diri. Kata ini bukan hanya penolakan biasa, tetapi menyiratkan pemutusan ikatan dan keterlepasan moral serta aqidah dari apa pun yang dijadikan sekutu bagi Allah.
Kata mimmaa (مِمَّا) artinya : dari apa. Kata tusyrikuun (تُشْرِكُونَ) artinya : kalian sekutukan.
Penggalan yang jadi penutup ayat ini intinya menjadi deklarasi resmi yang dengan tegas menjadi pemutusan total antara Nabi SAW dengan segala bentuk kemusyrikan.
Penggalan ini juga merupakan cerminan sikap para nabi sejak dulu, sebagaimana juga diucapkan oleh Nabi Ibrahim `alaihissalam :
إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ
Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah.