| ◀ | Jilid : 13 Juz : 7 | Al-Anam : 11 | ▶ |
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Kemenag RI 2019: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”| TAFSIR AL-MAHFUZH | REFERENSI KITAB TAFSIR |
...
Ayat ke-11 dari surat Al-An’am ini merupakan perintah Allah SWT SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengajak berpikir orang-orang kafir yang telah mengingkari kenabiannya. Caranya dengan memerintahkan mereka untuk berjalan di muka bumi dan melihat sisa-sisa peradaban masa lalu yang telah runtuh.
Dengan cara itu maka orang-orang kafir diharapkan bisa merenungi langsung akibat dari penolakan mereka kepada agama yang dibawa oleh Nabi SAW.
Para saudagar Arab pada masa Nabi Muhammad SAW memiliki peluang yang sangat besar untuk melewati, menyaksikan, bahkan singgah di berbagai lokasi bekas peradaban kuno yang telah hancur akibat azab dari Allah SWT. Karena semua itu ada para jalur perdagangan mereka.
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah, maksudnya katakanlah kepada mereka, yaitu orang-orang kafir. Kata kerja ini merupakan fi’il amr dari asalnya (قَال – يَقُول -قُلْ). Allah SWT memberi perintah kepada Nabi Muhammad SAW agar menjawab atau mendebat orang-orang kafir yang telah banyak menghina para nabi dan rasul di masa lalu.
Sedangkan kata siiru (سِيرُوا) artinya : berjalanlah. Kata ini juga merupakan kata perintah alias fi’il amr dari asalnya (سَارَ – يَسِيْرُ - سِرْ).
Maknanya adalah berjalan atau bepergian, atau mengadakan perjalanan, baik dengan berjalan kaki atau berkendara. Kata ini juga sering digunakan untuk menyebutkan perjalanan kehidupan, yaitu sirah.
Kata fil-ardhi (فِي الْأَرْضِ) artinya : di bumi. Maksudnya lakukan berbagai perjalanan jauh ke berbagai negeri, atau bahkan ke wilayah yang tidak berpenghuni sekalipun.
Konteksnya kalau di masa kenabian saat itu adalah keluar dari batas-batas wilayah Mekkah dan Madinah, menelusuri berbagai kawasan yang ada di seputaran jazirah arabia.
Secara geografis dan historis, jalur perdagangan yang dilalui oleh para kafilah Arab—terutama dari kota-kota seperti Makkah dan Madinah, bukan hanya melintasi gurun-gurun terbuka, tetapi juga melalui kawasan-kawasan yang dahulu pernah dihuni oleh bangsa-bangsa besar yang disebutkan dalam Al-Qur'an, seperti kaum ‘Ād, Tsamud, dan Madyan.
Misalnya, reruntuhan kota kaum Tsamūd berada di wilayah al-Ḥijr atau Mada’in Shalih yang sekarang terletak di utara Hijaz, Arab Saudi. Tempat itu memang berada di jalur utama perdagangan dari Yaman menuju Syam (Suriah), yang biasa digunakan oleh para saudagar Arab Quraisy dalam ekspedisi dagang mereka ke utara.
Karena itu, bukanlah hal yang aneh jika Allah SWT memerintahkan mereka untuk "berjalan di muka bumi dan melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." Ayat ini tidak hanya sebuah seruan retoris, tetapi juga sebuah ajakan yang sangat realistis—karena lokasi-lokasi yang dimaksud benar-benar dapat mereka jangkau, bahkan mungkin sudah mereka lihat secara langsung dalam perjalanan dagang.
Lebih dari itu, para saudagar Arab bukan hanya sekadar pelintas, tetapi seringkali mereka berinteraksi dengan penduduk sekitar, mendengar cerita-cerita rakyat setempat, dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana tempat-tempat itu kini hanya menyisakan puing-puing dan tanah kosong tak berpenghuni. Jejak-jejak kehancuran itu semestinya bisa menjadi pelajaran berharga, mengingat kaum-kaum itu dahulu pernah jaya, namun kemudian lenyap karena kesombongan dan penolakan terhadap risalah Allah.
Jadi, ajakan dalam ayat itu sangat logis, kontekstual, dan tidak keluar dari jangkauan nalar maupun pengalaman orang-orang Arab sendiri. Sayangnya, banyak dari mereka yang tetap menutup mata dan hati, tidak mau mengambil pelajaran dari bukti nyata yang terbentang di hadapan mereka.
ثُمَّ انْظُرُوا
Kata tsumma (ثُمَّ) secara harfiah berarti : kemudian, sering dipakai dalam bahasa Arab untuk menunjukkan urutan kejadian yang berjarak, baik dari segi waktu maupun makna. Artinya, setelah sesuatu terjadi, maka disusul dengan hal lainnya, yang bisa jadi memerlukan jeda waktu atau merenung lebih dalam.
Kata unzhuru (انْظُرُوا) artinya secara harfiyah adalah melihat. Namun kata asalnya yaitu (نَظَرَ – يَنْظُرُ - نَظْرًا) punya makna yang jauh lebih luas dari sekedar hanya melihat.
Kata ini tidak hanya merujuk pada penglihatan fisik, tetapi juga mencakup makna berpikir, memperhatikan, merenungkan, memikirkan secara serius, bahkan mempertimbangkan dan menelaah sesuatu dengan penuh kesadaran.
Dengan demikian, ketika perintahnya adalah unzhuru (انْظُرُوا), maka yang dimaksud bukan sekadar menyuruh kita memandang sesuatu secara kasat mata. Melainkan ada ajakan untuk mengamati secara mendalam, menyelami makna di balik peristiwa, dan mengambil pelajaran dari apa yang disaksikan.
Menurut hemat Penulis, perintah ini secara teknis sebenarnya adalah perintah untuk melakukan berbagai studi ilmiah terkait dengan sisa-sisa peradaban di masa lalu. Secara ilmiyah, harus ada pendekatan multidisipliner yang melibatkan beberapa cabang ilmu pengetahuan. Di antaranya adalah:
1. Ilmu Arkeologi, yang secara khusus mempelajari peninggalan-peninggalan purbakala, baik berupa bangunan, artefak, maupun situs-situs kuno yang menunjukkan jejak kehidupan umat masa lalu.
2. Ilmu Sejarah, yang mencoba merekonstruksi kejadian-kejadian masa lampau berdasarkan bukti dan data yang ditemukan, termasuk narasi lisan, prasasti, dan manuskrip.
3. Antropologi, yang meneliti aspek sosial, budaya, dan kebiasaan masyarakat terdahulu melalui peninggalan material maupun non-material mereka.
4. Geologi dan Geografi Sejarah, yang membantu memahami kondisi geografis dan geologis suatu tempat untuk melihat keterkaitan antara lingkungan alam dan kehancuran suatu peradaban.
5. Epigrafi dan Paleografi, yang fokus pada pembacaan dan analisis tulisan-tulisan kuno sebagai sumber informasi penting dari masa lampau.
Dengan demikian, perintah “lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan” bukanlah perintah untuk melihat dengan mata fisik semata, melainkan ajakan untuk melakukan kajian ilmiah dan refleksi mendalam terhadap sejarah umat manusia, agar kita mengambil pelajaran dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Kata kaifa (كَيْفَ) artinya : bagaimana. Kata kana (كَانَ) artinya : telah terjadi. Kata ‘aqibatu (عَاقِبَةُ) artinya : akibat atau kesudahan. Kata al-mukadzdzibin (الْمُكَذِّبِينَ) artinya : orang-orang yang mendustakan.
Di sekitar Jazirah Arab, banyak peradaban besar yang pernah berjaya dan meninggalkan jejak yang mengagumkan, namun kini hanya tinggal kenangan dan puing-puing sejarah. Al-Qur’an menyebutkan sejumlah umat terdahulu yang dulunya memiliki kekuatan luar biasa, bangunan megah, serta kemajuan teknologi, tetapi semuanya hancur karena keingkaran mereka terhadap risalah para nabi.
1. Kaum ’Aad
Salah satu umat yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an adalah kaum ‘Ad. Mereka tinggal di wilayah Al-Ahqaf, yang kini dikenal sebagai daerah gurun antara Yaman dan Oman bagian selatan. Mereka dikenal sebagai bangsa yang kuat secara fisik dan pandai membangun, namun mereka mendustakan Nabi Hud AS yang diutus kepada mereka.
Diperkirakan peradaban besar dan masa kejayaan mereka ada di sekitaran antara 2500 hingga 1900 sebelum masehi. Belum banyak bukti arkeologis konkret, tapi beberapa mengaitkannya dengan kota legendaris Iram Zatul-’Imad sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Fajr ayat 6 hingga 8.
Karena kesombongan dan kekafiran mereka, Allah menghancurkan mereka dengan angin yang sangat dingin dan kencang selama tujuh malam delapan hari, hingga mereka mati bergelimpangan seperti batang kurma yang tumbang.
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَـٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى ٱلْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ
Adapun kaum ‘Ād, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi sangat kencang, yang Allah tundukkan atas mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus, maka kamu akan melihat kaum itu bergelimpangan mati seperti batang kurma yang telah kosong (lapuk). (QS. Al-Haaqqah: 6–7)
2. Kaum Tsamud
Setelah kaum ‘Aad, muncul pula kaum Tsamud yang menetap di daerah Al-Hijr, atau Mada’in Shalih yang kini berada di wilayah Arab Saudi.
Posisinya di masa sekarang ini berada di kota Al-‘Ula (العُلا), yang termasuk wilayah administratif Provinsi Al-Madinah, Arab Saudi bagian barat laut. Dari Madinah ke Al-‘Ula sekitar 400 km ke arah utara. Seperti jarak dari Madinah ke Mekkah jika arah sebaliknya.
Masa kejayaan perdaban ini diperkirakan antara tahun 1500 hingga 600-an sebelum masehi. Keunikan peradaban mereka adalah tinggal di rumah-rumah yang dipahat dari gunung batu. Jejak arsitektur mereka masih bisa dilihat hingga sekarang dan termasuk Warisan Dunia UNESCO.
وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَـٰبُ ٱلْحِجْرِ ٱلْمُرْسَلِينَ وَءَاتَيْنَـٰهُمْ ءَايَـٰتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا ءَامِنِينَ
Sungguh, penduduk Al-Ḥijr telah mendustakan para rasul, dan Kami telah memberikan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan Kami), tetapi mereka berpaling darinya. Mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu untuk dijadikan tempat tinggal yang aman. (QS. Al-Hijr: 80–82)
Namun ketika Nabi Shalih AS diutus kepada mereka untuk mengajak kepada tauhid, mereka justru membangkang dan membunuh unta mukjizat yang menjadi tanda kebenaran Nabi mereka. Akhirnya, mereka dihancurkan oleh suara keras yang mengguntur dari langit dan gempa bumi yang mengguncang tanah mereka.
3. Kaum Madyan
Kaum lainnya yang juga terkenal dalam sejarah adalah kaum Madyan, yang tinggal di wilayah yang kini diyakini berada di sekitar barat laut Jazirah Arab, mencakup wilayah Yordania dan Arab Saudi bagian atas, terutama di sekitar kota Al-Bad' yang masih di wilayah negara Arab Saudi dan wilayah Aqabah yang sudah menjadi negara Yordania. Posisinya lebih tepat di pesisir timur Laut Merah, dekat ujung Teluk ‘Aqabah.
Keberadaan kaum ini dalam timeline sejarah manusia diperkiraan pada sekitaran tahun 1300 hingga tahun 1000 sebelum masehi. Negeri Madyan ini disebut dalam kisah Nabi Syu‘aib dan Nabi Musa, sebagai negeri yang aman, karena jauh wilayah kekuasaan Firaun. Negeri Madyan ini menjadi babak penting dalam kehidupan kenabian Musa AS, termasuk masa pernikahannya dan awal persiapannya menerima wahyu.
وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَآءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَىٰ رَبِّىٓ أَن يَهْدِيَنِى سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ
Dan ketika dia (Musa) menghadap ke arah negeri Madyan, dia berkata, "Mudah-mudahan Tuhanku memberi petunjuk kepadaku ke jalan yang benar." (QS. Al-Qashash : 22)
Nabi Syu‘aib AS diutus untuk memperingatkan mereka, tetapi mereka tetap ingkar. Azab Allah pun menimpa mereka dalam bentuk gempa besar yang mengubur mereka dalam sekejap.
فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا ٱلرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِى دِيَـٰرِهِمْ جَـٰثِمِينَ وَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُۥ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا ٱلصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِى دِيَـٰرِهِمْ جَـٰثِمِينَ
Dan ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu‘aib beserta orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim itu dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, lalu mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka. (QS. Hūd: 94)
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ ٱلظُّلَّةِ إِنَّهُۥ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ
Maka mereka mendustakannya (Syu‘aib), lalu mereka ditimpa azab pada hari yang dinaungi awan. Sesungguhnya itu adalah azab hari yang dahsyat. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. (QS. Ash-Shu‘arā: 189–190)
Hari yang dinaungi awan ini merujuk pada azab dalam bentuk awan hitam panas yang menurunkan suara keras atau api, yang oleh sebagian mufasir disebut sebagai gabungan dari panas, guntur, dan gempa.
Di masa kenabian Muhammad SAW, negeri Madyan ini berada di jalur perdagangan utama Arab dan Syam, terkenal sebagai pedagang tapi suka menipu dalam takaran. Mereka dikenal sebagai kaum pedagang yang makmur, namun suka menipu dalam timbangan dan takaran.
4. Kerajaan Saba’
Di wilayah selatan Jazirah Arab, tepatnya di Yaman, terdapat kerajaan Saba’ yang sangat termasyhur. Kerajaan ini pernah dipimpin oleh Ratu Balqis yang disebut dalam kisah Nabi Sulaiman AS. Mereka memiliki sistem pertanian yang maju dan bendungan raksasa bernama Ma’rib yang menjadi sumber kemakmuran mereka.
Kerajaan ini diperkiraan berada pada masa puncak kejayaan di sekitaran antara tahun 1000 hingga 300 sebelum masehi. Dikenal sangat maju dalam sistem irigasi, pertanian, dan perdagangan. Puncak kemakmurannya terjadi saat Ratu Balqis memerintah, dan pada masa interaksi dengan Nabi Sulaiman AS.
Namun ketika mereka berpaling dari syukur kepada Tuhan, Allah menghancurkan bendungan tersebut dengan banjir besar yang dikenal sebagai Sayl al-‘Arim, yang meluluhlantakkan peradaban mereka.
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا لَهُۥۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ ٱلْعَرِمِ وَبَدَّلْنَـٰهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَىْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَىْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ
Sungguh, bagi kaum Saba’ terdapat tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar (yang disebabkan) oleh bendungan dan Kami ganti dua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi tanaman-tanaman yang berbuah pahit, pohon-pohon Atsl, dan sedikit dari pohon Sidr (bidara).” (QS Saba’ : 15–16)
Bekas-bekas Kerajaan Saba’ (سبأ) di masa sekarang ini terletak di sekitar wilayah kota Ma’rib (مأرب), yang berada di bagian timur laut dari ibu kota Yaman, Sana’a. Berjarak kurang lebih sekitar 170–200 km ke arah timur dari ibu kota Sana’a.
5. Kerajaan Himyar
Di Yaman pula, berdiri kerajaan Himyar yang dipimpin oleh para penguasa bergelar Tubba’. Mereka merupakan raja-raja besar Arab Selatan yang bahkan pernah menaklukkan wilayah utara.
Meskipun sempat memiliki kekuasaan luas, mereka juga termasuk kaum yang mendustakan risalah dan akhirnya dibinasakan. Al-Qur’an menyebut mereka dalam surat Ad-Dukhan sebagai kaum yang menjadi pelajaran bagi yang datang sesudahnya.
6. Mesir Kuno
Mesir Kuno juga menjadi bagian dari kisah umat terdahulu yang binasa. Walaupun secara geografis Mesir berada di luar Jazirah Arab, pengaruhnya merambah hingga ke wilayah Syam dan beririsan dengan sejarah para nabi. Firaun, dengan kekuasaannya yang absolut dan teknologi bangunan yang menakjubkan, menolak dakwah Nabi Musa AS dan mengaku sebagai tuhan. Allah menenggelamkannya bersama bala tentaranya di Laut Merah, dan menjadikan jasadnya sebagai pelajaran bagi umat-umat setelahnya.
Nyaris semua negeri yang dulu pernah berada pada puncak kejayaan, sekarang ini sudah tidak lagi. Perdaban besar mereka sudah Allah SWT hancurkan sejak mereka masih tinggal disana. Jangankan kita di masa sekarang, bahkan di masa kenabian Muhammad SAW saja pun hanya tinggal sisa-sisa saja. Tidak ada bekasnya kecuali hanya tinggal sisa kenangan.
Ada hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah melewati reruntuhan bekas negeri kaum yang diazab (seperti Tsamud), lalu beliau memperingatkan para sahabat agar tidak tinggal terlalu lama di tempat itu dan tidak mengambil air darinya, kecuali untuk berwudhu atau membuangnya.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحِجْرِ قَالَ لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ" ثُمَّ تَقَنَّعَ بِرِدَائِهِ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Ketika Nabi SAW melewati al-Hijr (negeri kaum Tsamud), beliau bersabda: Janganlah kalian masuk ke tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, kecuali kalian dalam keadaan menangis. Jika tidak, kalian akan ditimpa apa yang telah menimpa mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sebagian kalangan memahami hadits semacam ini sebagai larangan untuk berwisata ke bekas negeri yang pernah Allah SWT hancurkan. Nampaknya pendekatan mereka lebih harfiyah dan apa adanya.
Namun tidak semua setuju dengan pendekatan pendek ini. Sebab justru ayat ini malah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk berjalan di muka bumi dan melihat bagaimana negeri-negeri itu pernah dihancurkan.
Jalan tengahnya tentu saja ada, yaitu silahkan lakukan perjalanan kesana, tapi jangan hanya sekedar jalan-jalan dan main-main serta sekedar berwisata belaka. Namun lakukanlah perjalanan itu dalam rangka melakukan riset, studi ilmiyah dan berbagai kajian yang bermanfaat.
Perintahnya bukan untuk melakukan perjalanan ibadah, tetapi studi ilmiyah. Kalau perjalanan ibadah, sudah ada perintah tersendiri dari perintah Nabi SAW, yaitu untuk mendatangi tiga masjid, yaitu Masjid Al-Haram, Masjid Al-Aqsha dan Masjid An-Nabawi.
Namun ayat ini justru merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi SAW untuk melakukan perjalanan dan melakukan pengamatan bagaimana negeri-negeri di masa lalu yang pernah berjaya telah diruntuhkan.