Kemenag RI 2019:Dia (Allah) pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana mungkin Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Prof. HAMKA:Perjalanan semua langit dan bumi. Bagaimana akan ada bagi-Nya anak? Padahal tidak ada bagi-Nya istri! Dan Dialah yang menjadikan segala sesuatu. Dan Dia atas tiap-tiap sesuatu adalah Mengetahui.
Segala sesuatu yang ada hanyalah ciptaan-Nya, bukan bagian dari diri-Nya. Selain itu, Allah mengetahui segala sesuatu secara sempurna, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Pesan utama ayat ini adalah penolakan terhadap anggapan bahwa Allah memiliki keturunan, sekaligus penegasan bahwa hanya Dia yang berhak disembah karena kekuasaan dan pengetahuan-Nya meliputi seluruh ciptaan.
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Kata badi‘u (بَدِيعُ) berasal dari akar kata بَدَعَyang berarti mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya atau menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Dari akar inilah lahir istilah bid’ah (بدعة)yang artinya hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Biasanya yang sering kita baca dalam Al-Quran terkait Allah SWT menciptakan langit dan bumi adalah khalaqa (خَلَقَ). Namun kali ini kita bertemu dengan kata lain, yaitu badi’ (بَدِيعُ) yang terpaksa diterjemahkan menjadi : Pencipta, juga.
Sebenarnya keduanya sama-sama berarti menciptakan, tetapi keduanya memiliki nuansa makna yang sangat berbeda. Kata khalaqa (خَلَقَ) menggambarkan proses penciptaan dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Artinya, ada bahan, bentuk, atau unsur yang kemudian dibentuk, diatur, atau disusun menjadi ciptaan baru. Karena itu, dalam konteks makhluk, manusia juga bisa disebut “mencipta” dalam arti mengolah sesuatu yang sudah ada.
Sedangkan kata badi’ (بَدِيعُ) menunjukkan penciptaan yang sepenuhnya baru, yang sama sekali belum pernah ada contohnya sebelumnya. Ketika Allah disebut sebagai (بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) karena Dia menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan, tanpa bahan, tanpa contoh, dan tanpa pengetahuan yang ditiru dari mana pun.
Kata as-samawaati (السَّمَاوَاتِ) merupakan bentuk jamak yang menunjukkan jumlah yang banyak. Bentuk tunggalnya adalah as-sama’ (السَّمَاء) yang artinya: langit. Jika langit disebut dalam bentuk jamak, biasanya berkonotasi langit dalam arti angkasa raya. Berarti matahari, bulan, planet, tata surya, guguran bintang, galaksi dan seterusnya. Sementara jika yang disebut hanya langit saja yaitu as-sama’ (السَّمَاء) umumnya mengacu kepada atmosfer bumi, dimana ada awan hujan.
Kata wal-ardhi (وَالْأَرْضِ) bisa diartikan sebagai bumi, tanah, ataupun juga negeri. Namun jika disandingkan dengan langit, maka yang lebih tepat dimakanai menjadi bumi.
أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ
Kata annaa (أَنَّىٰ) artinya: bagaimana mungkin. Ungkapan ini bukan sekadar pertanyaan, melainkan bentuk penegasan yang menunjukkan ketidakmungkinan secara mutlak. Maksudnya, tidak ada jalan atau cara apa pun yang memungkinkan Allah memiliki anak, karena hal itu bertentangan dengan hakikat keesaan dan kesempurnaan-Nya.
Kata yakuunu (يَكُونُ) artinya: ada atau menjadi ada. Kata lahu (لَهُ) artinya: bagi-Nya. Kata waladun (وَلَدٌ) artinya: anak. Ungkapan ini menunjukkan dugaan yang keliru dari kaum musyrik yang menisbatkan kepada Allah sesuatu yang mustahil bagi Dzat yang tidak serupa dengan makhluk.
وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ
Kata wa lamtakun (وَلَمْ تَكُنْ) artinya: padahal tidak ada. Kata lahu (لَهُ) artinya: bagi-Nya. Kata shahibatun (صَاحِبَةٌ) artinya: istri. Secara bahasa, kata ini berasal dari akar kata صَحِبَ – يَصْحَبُ – صُحْبَةً yang bermakna menemani, bersahabat, menyertai, hidup bersama dengan kedekatan dan kebersamaan yang lama. Maka, صاحِبَة berarti seorang pendamping yang dekat dan selalu bersama, baik dalam arti pasangan hidup, teman, maupun kawan dekat.
Lantas pertanyaannya adalah : mengapa tidak menggunakan kata zaujah(زَوْجَة) atau imraah (اِمْرَأَة), bukankah keduanya juga bermakna : istri?
Jika kita dalami makna kata zaujah (زَوْجَة), ternyata kata ini lebih menekankan pada pasangan dalam sistem berpasangan, yaitu dua entitas yang saling melengkapi dalam konteks jenis kelamin dan fungsi biologis, seperti suami-istri, jantan-betina, siang-malam. Maka jika Al-Qur’an menggunakan kata zaujah, seolah-olah memberi ruang bagi kemungkinan adanya pasangan jenis bagi Allah, padahal Allah Mahasuci dari sifat berpasangan atau bergantung pada sistem ciptaan.
Sedangkan kata imraah (اِمْرَأَة) lebih spesifik menunjuk pada perempuan dalam pernikahan atau konteks sosial tertentu, bukan semata hubungan batin atau kebersamaan. Maka, kata ini juga tidak tepat digunakan untuk menggambarkan “pasangan” dalam makna metafisik yang dinafikan dari Allah.
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ
Kata wa khalaqa (وَخَلَقَ) artinya: dan Dia menciptakan. Kata kulla (كُلَّ) artinya: segala. Kata syai-in (شَيْءٍ) artinya: sesuatu.
Secara logika bahasa, kata kulla syai-in (كُلَّ شَيْءٍ) itu berarti segala apapun makhluk selain Allah SWT. Segala yang bukan Allah bisa kita sebut makhluk. Maka makhluk itu ada begitu banyak jenis dan macamnya, baik yang kongkrit maupun yang abstrak, baik makhluk yang nyata maupun makhluk ghaib, baik makhluk hidup maupun benda mati, baik makhluk yang sangat besar ukurannya seperti bintang di langit, maupun makhluk yang amat kecil ukurannya, seperti atom, elektron, proton, molekul, sel dan lainnya.
Penggalan ini akan terulang lagi nanti pada ayat 102 surat Al-An’am. Hanya bedanya di ayat 102 nanti akan berbentuk kata kerja, yaitu khalaqa yang berarti : Menciptakan. Sedangkan di ayat 101 berbentuk isim fa’il, yaitu badi’ (بديع) yang berarti : Pencipta.
Jika disebut : (خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ) maka artinya : sudah menciptakan segala sesuatu. Menunjukkan peristiwa yang sudah terjadi sejak lama.
وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Kata wa huwa (وَهُوَ) artinya: dan Dia. Kata bikulli (بِكُلِّ) artinya: terhadap segala. Kata syai-in (شَيْءٍ) artinya: sesuatu. Kata ‘alim (عَلِيمٌ) artinya: Maha Mengetahui.
Ketika Allah SWT sudah selesai menciptakan segala sesuatu, maka Allah SWT menegaskan bahwa segala yang telah diciptakan-Nya itu tidak terlepas begitu saja. Dia tetap mengetahui semuanya secara rinci dan detail-detailnya. Ini berbeda dengan konsep Deisme, yaitu keyakinan bahwa Tuhan memang menciptakan alam semesta, tetapi setelah menciptakannya, Tuhan tidak lagi ikut campur dalam urusan dan perjalanan ciptaan itu. Tuhan hanya berperan sebagai pencipta awal, the first cause, semacam penggerak pertama yang memulai segalanya, lalu membiarkan alam berjalan sendiri menurut hukum-hukum alam yang telah Ia tetapkan.
Pengetahuan Allah meliputi seluruh ciptaan-Nya secara menyeluruh dan rinci.