Kemenag RI 2019:Itulah Allah Tuhanmu. Tidak ada tuhan selain Dia, pencipta segala sesuatu. Maka, sembahlah Dia. Dialah pemelihara segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:Demikianlah Allah, Tuhan Pemelihara kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah Dia. Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Prof. HAMKA:Demikian itulah Allah, Tuhan kamu. Tidak ada tuhan melainkan Dia. Yang menjadikan tiap sesuatu maka sembahlah Dia dan Dia atas tiap-tiap sesuatu adalah Pemelihara.
Ayat ini juga menetapkan lagi prinsip tauhid paling mendasar yaitu bahwa tidak ada tuhan selain Dia. Selain itu juga menegaskan bahwa Allah SWT itu adalah pencipta segala sesuatu.
Lalu sebagai konsekuensi atas semua pengakuan itu, maka kita diperintahkan untuk menyembah Allah SWT, sebagai Tuhan yang jadi Pemelihara segala sesuatu.
ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ
Kata dzalikum (ذَٰلِكُمُ) secara dasar adalah kata tunjuk (ismul isyarah) untuk sesuatu yang letaknya agak jauh, sehingga sering diterjemahkan menjadi : “itu” atau “yang demikian itu”. Namun dalam konteks Al-Qur’an, kata ini sering memiliki makna yang lebih dalam dan bernuansa maknawi. Secara gramatikal dzalikum (ذَٰلِكُمُ) adalah bentuk gabungan dari dzalika (ذَٰلِكَ) yang berarti : itu atau itulah, dengan dhamir -kum (كُم) yang berarti kalian. Jadi, artinya secara literal adalah : “itu (bagi) kalian” atau “yang demikian itu bagi kalian”.
Dalam tiga versi terjemahan kita, dhamir -kum (كُم) ini sepertinya menghilang tidak tertulis. Jika kita perhatikan, Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : ’itulah’ saja. Quraish Shihab menerjemahkannya hanya sampai : ’demikianlah’. Buya HAMKA menerjemahkannya : ’demikian itulah’.
Kata Allah (اللَّهُ) artinya: Allah. Kata rabbukum (رَبُّكُمْ) artinya: Tuhanmu. Secara keseluruhan penggalan dzalikullahu rabbukum (ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ) ini menunjuk pada sifat dan deskripsi terkait Allah SWT yang sudah disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya, yaitu mulai ayat 95 hingga ayat 101, dimana Allah SWT disebut telah melakukan banyak hal, antara lain :
1. Membelah butiran makanan dan biji agar bisa terjadi siklus kehidupan. (إِنَّ اللَّهَ فاْلُقُ الْحَبَّ وَالنَّوَىٰ)
2. Mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (يخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ)
3. Menjadikan gelap malam merekah berganti dengan siang (فَالِقُ الْإِصْبَاحِ)
4. Menjadikan waktu malam untuk istirahat. (وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا)
5. Menjadikan matahari dan bulan dalam menghitung waktu (وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا)
6. Menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk dalam kegelapan darat dan laut. (وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ)
7. Menciptakan manusia dari satu jiwa (وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ)
8. Menurunkan air hujan agar tumbuh berbagai jenis tanaman (وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْ).
9. Dia (Allah) pencipta langit dan bumi. (بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ)
Namun pada ayat ke-100 ternyata manusia telah menuduh Allah SWT punya anak dan istri. (أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ)
لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
Kata la (لَا) artinya: tidak. Kata ilah (إِلَٰهَ) artinya: tuhan. Kata illa (إِلَّا) artinya: kecuali. Kata huwa (هُوَ) artinya: Dia, maksudnya Allah SWT Yang Maha Esa.
Ungkapan la ilaha illa huwa (لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ) adalah salah satu ungkapan tauhid paling agung dalam Al-Qur’an. Kalimat ini mengandung dua unsur utama yang disebut dengan pendekatan nafyi atau penafian dan pendekatan itsbat alias penetapan.
1. Nafyi
Lafazh laa ilaha (لَا إِلَٰهَ) adalah lafazh dimana Allah menafikan, maksudnya menolak dan meniadakan keberadaan segala macam objek yang dipertuhankan oleh manusia dari berbagai peradaban mana pun sepanjang sejarah.
Itu berarti semua bentuk ketuhanan palsu, semua sesembahan selain Allah SWT, baik berupa manusia, malaikat, benda langit, berhala, maupun kekuatan gaib, semua dinafikan k-eilahi-annya. Bagian ini merupakan titik paling penting dalam proses pembersihan akidah, yaitu menghapus segala bentuk kesyirikan dan keyakinan terhadap tuhan-tuhan lain. Inilah fondasi dasar dari tauhid, yaitu menolak segala sesuatu yang disembah selain Allah.
2. Itsbat
Lafazh illa huwa (إِلَّا هُوَ) berarti : kecuali Dia, yaitu Allah SWT. Bagian ini disebut penetapan atau itsbat, yaitu hanya Allah semata yang ditetapkan sebagai satu-satunya Tuhan yang benar.
Kata illa (إلاّ) yang artinya kecuali menjadi batas yang memisahkan antara yang salah dan yang benar.
Sedangkan kata huwa (هو) yang berarti Dia, menunjuk langsung kepada Allah, Zat yang Maha Esa dan Maha Layak untuk disembah. Artinya, setelah segala bentuk ketuhanan palsu disangkal, maka hanya Allah-lah satu-satunya yang diakui sebagai Tuhan sejati.
Penggalan ini nampak menjawab berbagai tuduhan keliru terkait Allah SWT dalam pandangan orang-orang musyrikin, yaitu bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali hanya Dia saja satu-satunya.
خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
Kata khaliq (خَالِقُ) artinya: Pencipta, kata ini menunjukkan bahwa Allah adalah Pencipta sejati, bukan sekadar pembuat atau perancang. Dia yang mengadakan sesuatu dari tiada menjadi ada.
Kata kulli (كُلِّ) artinya: segala, atau tiap-tiap. Kata ini menekankan totalitas, yaitu tidak ada yang luput dari kekuasaan dan penciptaan-Nya. Kata syai’in (شَيْءٍ) artinya: sesuatu, maksudnya apapun itu. Apapun itu semua adalah hasil ciptaan Allah SWT. Bisa dikatakan bahwa selain Allah SWT adalah : segala sesuatu.
Namun begitu ketika menjalankan peranan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta segala sesuatu, rupanya segala sesuatu tidak tercipta secara tiba-tiba dan bersamaan. Dalam banyak riwayat, jauh sebelum Allah SWT menciptakan manusia, Allah SWT sudah menciptakan alam semesta terlebih dahulu, lengkap dengan organisme hidup yaitu hewan dan tumbuhan.
1. Pena Sebagai Makhluk Pertama
Muncul sebuah pertanyaan menggelitik, yaitu sebagai Tuhan yang Maha Pencipta, makhluk apakah yang Dia ciptakan paling awal?
Jawabannya bahwa dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW pernah menjelaskan bahwa makhluk yang Allah SWT ciptakan pertama kali adalah al-qalam alias pena.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan pena terlebih dahulu, lalu Dia berkata: ‘Tulislah.’ Maka pena menulis segala sesuatu sampai hari kiamat. (HR. AtTirmizy)
Pena adalah ciptaan pertama, gunanya untuk menuliskan segala hal apa saja nanti yang akan Allah SWT ciptakan berikutnya, lengkap dengan berbagai macam spesifikasi dan sifat keberadaannya.
2. Lauhil Mahfuzh
Para ulama kemudian juga meyakini selain menciptakan pena, Allah SWT juga ciptakan lembaran tempat untuk menuliskan pena itu. Lembaran atau media itu disebut dengan lauh al-mahfuzh (اللَّوح المحفوظ). Namun di dalam Al-Quran, terkadang lauh al-mahfuzh (اللَّوح المحفوظ) disebut juga dengan al-kitab (الكتاب).
Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yunus : 61)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. Al-Anam : 59)
Allah SWT menegaskan bahwa segala sesuatu sudah tertulis dengan pena di Lauhil Mahfuz tanpa ada satupun yang luput.
مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab. (QS. Al-Anam : 38)
3. Taqdir Segala Sesuatu
Al-Qurtubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1] meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Allah SWT menciptakan pena, diperintahkanlah kepadanya untuk menuliskan segala sesuatu, bahkan lengkap dengan semua spesifikasi dan ukurannya.
Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena, lalu Dia berfirman kepadanya: “Tulislah!” Pena itu bertanya: “Ya Rabb, apa yang harus kutulis?” Allah berfirman: “Tulislah takdir.” Maka pena itu mulai menulis pada saat itu segala yang telah ada dan segala yang akan ada sampai selama-lamanya.
4. ‘Arsy
Abu Hurairah meriwayatkan sabda Nabi SAW tentang penciptaan Arsy sebelum nantinya Allah SWT menciptakan langit dan bumi.
Allah menciptakan ‘Arsy di atas air sebelum menciptakan langit dan bumi.(HR. Muslim)
5. Malaikat
Selain itu Allah SWT juga menciptakan para Malaikat yang asalnya dari cahaya, sebagai hamba-hamba Allah SWT yang sempurna dan mulia, serta penuh dengan ketaatan kepada Allah. Mereka tidak makan atau minum, dan menjalankan perintah Allah tanpa menentang.
Di antara mereka itu ada yang Allah tugaskan sebagai pemanggul Arsy, sebagaimana kita jumpai dalam hadits berikut :
أُذن لي أن أُحدِّث عن ملك من ملائكة الله من حملة العرش إن ما بين شحمة أذنه إلى عاتقه مسيرة سبعمائة عام
Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah bersabda: "Diperbolehkan bagiku untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah, dari para pembawa ‘Arsy. Sesungguhnya jarak antara daun telinganya hingga bahunya adalah perjalanan selama tujuh ratus tahun. (HR. Abu Daud)
6. Langit dan Bumi
Ketika ‘Arsy dan para malaikat sudah Allah SWT ciptakan, maka giliran Allah SWT menciptakan langit dan bumi, serta apa-apa yang ada di antara keduanya, atau bisa kita sebut alam semesta. Penciptaannya pun tidak terjadi secara tiba-tiba, namun melewati proses panjang yang dibahasakan dengan ungkapan : ’enam hari’.
Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (QS. Qaf : 38)
7. Manusia
Adapun manusia boleh dibilang termasuk ciptaan Allah SWT yang paling akhir, yaitu setelah segala sesuatunya Allah SWT ciptakan terlebih dahulu. Meskipun diciptakan paling akhir, namun nampaknya penciptaan manusia adalah penciptaan yang paling unik, istimewa dan lain dari makhluk lainnya.
Dari segi taqwim atau bentuknya, manusia itu disebut dengan ungkapan : fi ahsani taqwim (في أحسن تقويم), yaitu dalam rupa yang sebaik-baiknya. Makhluk lain tidak pernah disebut seperti itu. Bahkan para malaikat saja pun diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam alaihisalam.
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” .(QS. Al-Baqarah : 30)
فَاعْبُدُوهُ
Kata fa’buduhu (فَاعْبُدُوهُ) artinya: maka sembahlah Dia. Kata ini tersusun dari beberapa unsur :
§ Huruf fa’ (فَـ) merupakan harfu ‘athf atau huruf sambung yang berarti maka atau karena itu. Huruf ini berfungsi menghubungkan sebab dan akibat. Dalam konteks ayat, fa menunjukkan bahwa perintah ibadah adalah konsekuensi logis dari pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan (لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ).
§ Kata u’budu (اعْبُدُوا) yang merupakan kata kerja perintah atau fi‘il amr dari akar kata (عَبَدَ) berarti menyembah, mengabdi, tunduk, patuh, merendahkan diri. Maka perintah ini berarti “sembahlah oleh kalian” atau “beribadahlah kalian”, ditujukan kepada jamak (kalian semua).
§ Dhamir hu (ـهُ) merupakan kata ganti orang ketiga tunggal yang berarti : Dia, yaitu Allah SWT.
Jadi secara keseluruhan kata fa’buduhu (فَاعْبُدُوهُ) ini berarti : ”Maka sembahlah Dia (Allah).”
Jika kita cermati ternyata perintah untuk menyembah Allah SWT ini munculnya setelah pengakuan tauhid la ilaha illa huwa. Ini menunjukkan sebuah urutan yang logis, bahwa setelah anda mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, maka tindakan nyata yang seharusnya dilakukan adalah menyembah-Nya saja.
Itu berarti tauhid yang benar harus melahirkan ibadah yang murni, bukan sekadar pengakuan di lisan saja.
وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
Kata wa huwa (وَهُوَ) artinya: dan Dia. Kata ‘ala (عَلَىٰ) artinya: atas. Kata kulli (كُلِّ) artinya: segala. Kata syai’in (شَيْءٍ) artinya: sesuatu. Kata wakil (وَكِيلٌ) artinya: pemelihara.
Dalam konteks manusia, wakil itu berarti orang yang diberi mandat untuk mengurus urusan orang lain. Namun ketika disandarkan kepada Allah, maknanya menjadi mutlak dan sempurna, yaitu Allah adalah Pengatur dan Pemelihara segala urusan makhluk tanpa kekurangan sedikit pun, dan tidak ada satu pun keluar dari pengawasan-Nya.
Itu berarti Allah mengetahui seluruh makhluk secara rinci, tidak ada yang luput. Allah juga mengatur rezeki, hidup, mati, dan perjalanan tiap ciptaan. Dan Allah juga menjaga keseimbangan alam, menetapkan hukum-hukum yang menata seluruh keberadaan.
Dengan kata lain, Allah adalah manajer agung alam semesta, yang tidak ada kejadian apa pun di dunia ini kecuali dengan izin dan pengaturan-Nya.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)