Kemenag RI 2019:Seandainya Kami jadikan dia (rasul) itu (dari) malaikat, tentu Kami jadikan dia (berwujud) laki-laki, dan pasti Kami buat mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu. ) Prof. Quraish Shihab:Dan jika seandainya Kami jadikan dia malaikat, pastilah Kami menjadikan dia laki-laki dan (jika demikian), Kami (pun) akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu. Prof. HAMKA:Dan kalau Kami jadikan dia itu malak, niscaya Kami jadikan dia seorang laki-laki dan niscaya Kami ragukan mereka sebagaimana mereka (sekarang) ragu-ragu.
Ayat ke-9 dari Surat Al-An’am ini turun sebagai tanggapan atas sikap keras kepala sebagian kaum musyrik Quraisy. Mereka melecehkan Nabi Muhammad SAW dan berkata dengan nada mengejek, "Mengapa Tuhan tidak mengutus malaikat saja menjadi rasul kepada kami? Apa pantas seorang manusia menjadi utusan Tuhan?"
Rupanya bagi mereka, kenabian itu harusnya sesuatu yang spektakuler, berwujud makhluk ghaib yang turun dari langit dan bukan dari golongan manusia biasa.
Namun apa yang mereka suarakan itu justru malah menunjukkan kedangkalan berpikir. Karena seandainya pun Allah benar-benar mengabulkan permintaan mereka dan mengutus malaikat sebagai rasul, tetap saja mereka tidak akan bisa melihat malaikat itu dalam wujud aslinya. Malaikat adalah makhluk gaib, bukan fisik seperti manusia. Maka kalau malaikat itu diturunkan untuk berinteraksi langsung dengan manusia, ia pasti akan diberi bentuk fisik yang bisa dilihat manusia.
Dan bentuk itu tentu saja adalah rupa manusia. Ini bukan karena keterbatasan malaikat, tapi karena keterbatasan manusia dalam menyaksikan hal gaib.
Tetapi memang dasar orang kafir, jika pun malaikat ditampilkan dalam rupa manusia, kaum musyrik itu sudah bisa ditebak, yaitu mereka akan kembali berkata, “Bukankah dia juga hanya manusia seperti kita?” Artinya, mereka akan tetap ragu, tetap menuduh, tetap menolak.
Logika sederhananya bahwa manusia lebih mampu mengikuti, memahami, dan meneladani sesama manusia. Jika yang diutus adalah malaikat dalam wujud aslinya, maka mereka akan berkata, “Dia tidak merasakan lapar seperti kami, tidak tidur, tidak menikah, bagaimana bisa jadi contoh?”
Dengan demikian, ayat ini bukan hanya membungkam ejekan orang-orang musyrik, tapi juga menegaskan bahwa kerasulan Nabi Muhammad ﷺ sebagai manusia adalah pilihan terbaik dan paling logis — sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri dalam menerima petunjuk.
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا
Kata wa law (وَلَوْ) artinya : dan seandainya. Kata ja‘alnahu (جَعَلْنَاهُ) artinya : Kami jadikan dia. Kata malakan(مَلَكًا) artinya : malaikat.
Maksudnya kalaupun utusan Allah SWT kepada manusia, yaitu para nabi dan rasul itu harus dari jenis malaikat. Itu kalaupun seandainya memang demikian.
Tetapi yang pasti Allah SWT tidak akan menjadikan para utusannyaitu dari jenis malaikat. Sebab karakteristik para malaikat itu sangat tidak cocok dengan karakteristik manusia. Malaikan itu tidak punya hawa nafsu, sehingga sejak awal tidak punya ketertarikan apapun terhadap kenikmatan dan kesenangan. Sementara manusia yang menjadi tokoh utama justru makhluk yang punya hawa nafsu.
Maka akan terjadi bentrok, bagaimana manusia yang punya nafsu harus bertindak dan bersikap seperti malaikat yang sejak awal tidak didesain tanpa nafsu.
Maka bisa kita ibaratkan seperti mobil yang berjalan di jalan raya, harus mengikuti kereta api yang berjalan di atas rel. Sejak awal ban mobil itu tidak didesain untuk bisa berjalan di atas rel. Jangankan bisa berjalan dengan cara ditarik oleh lokomotif, sekedar bisa berjalan pelan dengan keempat rodanya menjejak di atas rel kereta saja pun tidak bisa.
Maka sejak awal sudah keliru kalau lokomotif ditugaskan menarik mobil. Yang bisa menarik mobil mogok itu adalah sesama mobil juga yang berjalannya di jalan raya. Mungkin mobilnya berupa truk towing. Namun intinya harus sama-sama kendaraan yang berjalannya di jalan raya, bukan kereta api, bukan kapal laut dan bukan pesawat terbang.
لَجَعَلْنَاهُ رَجُلًا
Kata laja‘alnahu (لَجَعَلْنَاهُ) artinya : pasti Kami jadikan dia. Kata rajulan (رَجُلًا) artinya : seorang laki-laki.
Kalaupun misalnya ada nabi dan rasul yang dari jenis malaikat, maka penampakannya juga harus berwujud manusia juga. Hanya saja dalam hal ini penyebutannya bukan insan (إنسان) atau naas (ناس),melainkan rajul (رجل) yang maknanya tetapmanusia, mengingat bahwa kata rajul (رجل) secara bahasa Arab berarti laki-laki dewasa.
Kata ini menunjuk jenis kelamin dan bentuk jasmani manusia secara tegas: dia bukan perempuan, bukan anak-anak, bukan makhluk lain, tapi manusia laki-laki yang matang dan bisa berbicara, berpikir, dan berinteraksi sebagaimana manusia pada umumnya.
Memang di dalam Al-Quran, kata rajul digunakan ketika ingin menekankan pada aspek fisik dan identitas sosial dari seseorang sebagai lelaki. Maka, jika malaikat dijelmakan, bentuk yang masuk akal untuk disaksikan manusia adalah laki-laki dewasa, karena ia akan berbicara, berdakwah, memimpin, dan berdiri sebagai sosok panutan. Ini yang paling lazim diterima dan diakui dalam masyarakat.
Kata insan (إنسان) -atau bentuk jamaknya, naas (ناس)- adalah kata yang merujuk pada manusia sebagai makhluk, tanpa membedakan laki-laki atau perempuan. Ini kata yang lebih umum, dan sering dipakai untuk menggambarkan manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk Allah yang berakal, lemah, pelupa, dan memiliki ujian. Kata nas (نَّاس) adalah bentuk jamak, berarti umat manusia atau orang-orang. Ini lebih umum lagi, dan biasanya dipakai untuk menyebut masyarakat atau kumpulan manusia, bukan individu.
Tidak Ada Nabi Perempuan
Dalam tradisi Islam, pandangan umum yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah berasal dari kalangan laki-laki. Pandangan ini berdasar pada ayat Al-Qur’an yang secara tegas menyatakan hal itu.
“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad) melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.” (QS. An-Nahl : 43)
Kata "laki-laki" di sini disebut secara eksplisit, dan inilah yang menjadi dasar kuat bagi para ulama untuk menolak kemungkinan adanya perempuan yang menjadi nabi.
Namun, meskipun pendapat mayoritas begitu kuat, tetap ada sebagian kecil ulama yang membuka ruang ijtihad terhadap kemungkinan kenabian perempuan, khususnya dalam kasus-kasus tertentu. Di antara ulama yang mencatat atau membahas pandangan ini adalah Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1].
Ketika menafsirkan ayat-ayat tentang Maryam, ia mencatat bahwa sebagian ulama menganggap Maryam sebagai seorang nabi, karena ia menerima wahyu secara langsung dan berbicara dengan malaikat. Al-Qurthubi sendiri tidak dengan pasti menyetujui pendapat itu, namun ia tidak pula menolaknya dengan keras. Ia membiarkan pendapat tersebut dicatat dalam kitab tafsirnya sebagai bagian dari khazanah pemikiran Islam yang layak diketahui.
Demikian pula Fakhruddin ar-Razi dalam kitab tafsirnya Mafatiḥ al-Ghaib[2]. Ia menyoroti bahwa Maryam dan ibu Nabi Musa menerima wahyu, dan secara definisi, hal itu memenuhi kriteria kenabian. Menurutnya, jika kenabian diartikan sebagai seseorang yang diberi wahyu dari Allah, maka perempuan yang menerima wahyu juga termasuk dalam kategori itu.
Abu al-Hasan al-Asy‘ari, tokoh teolog besar dari mazhab Asy‘ariyah, juga mengakui kemungkinan perempuan menjadi nabi selama mereka menerima wahyu, meskipun ia tidak menyebut mereka sebagai rasul karena tidak ada tugas penyampaian risalah kepada umat. Namun, pendapat ini masih diperdebatkan di kalangan peneliti, sebab tidak semua karya beliau secara eksplisit mencatat hal tersebut.
Asy-Syaukani dalam tafsirnya Fathul Qadir[3], pun membahas perihal ini dengan menyebut bahwa ada pendapat yang menganggap Maryam, Hājar, dan ibu Musa sebagai nabi. Ia sendiri cenderung tidak menyetujui pandangan tersebut, tetapi ia menyebutnya tanpa mengingkari keberadaan pendapat itu. Artinya, ia memberi ruang bagi keragaman pandangan dan tidak menganggapnya sebagai kesesatan.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
Kata wa lalabasna (وَلَلَبَسْنَا) artinya : dan pasti Kami campur-adukkan. Kata ‘alaihim (عَلَيْهِمْ) artinya : atas mereka. Kata ma (مَا) artinya : apa yang. Kata yalbisun (يَلْبِسُونَ) artinya : mereka campuradukkan.
Al-Wahidi menegaskan bahwa ungkapan "labastu al-amra ‘ala al-qawm" dalam bahasa Arab berarti: "Aku membuat perkara itu menjadi samar dan membingungkan bagi suatu kaum, hingga mereka tidak tahu yang sebenarnya.”
Kata labasa (لبس) sendiri secara asal berarti menutup atau menutupi, dan berasal dari akar kata yang juga digunakan untuk memakai pakaian (لبس الثوب), karena pakaian berfungsi menutupi tubuh. Maka dalam konteks ini, talbis atau al-labs berarti menyamarkan kebenaran atau membuat sesuatu tampak bukan seperti hakikat aslinya.
Maka yang dimaksud dari penggalan ini adalah: Jika Allah SWT benar-benar menurunkan malaikat sebagai rasul, maka akan diubah wujud dan bentuknya menyerupai manusia. Tujuannya agar bisa dilihat manusia, maka mereka tetap akan mengira bahwa itu hanyalah manusia biasa. Mereka tidak akan menyadari bahwa itu adalah malaikat.
Maka kembali lagi, mereka akan memunculkan penolakan seperti semula: "Kami tidak menerima kerasulan orang ini karena dia hanya manusia."
Di sinilah letak makna kalimat (وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ), yaitu seandainya Allah SWT betul-betul turunkan malaikat dalam wujud manusia, maka tindakan Allah itu pada akhirnya menyerupai perbuatan mereka sendiri dalam menyamarkan kebenaran.
Maksudnya, jika Allah ubah bentuk malaikat jadi manusia, lalu orang-orang melihat dan tetap mengira bahwa itu manusia biasa, maka itu akan terlihat seakan-akan Allah ikut membuat perkara ini membingungkan bagi mereka — padahal merekalah yang sebenarnya telah melakukan penipuan dengan menyatakan bahwa seorang nabi manusia tidak mungkin benar-benar utusan Tuhan. Mereka menutup-nutupi hakikat kerasulan, dengan berkata: "Dia manusia seperti kalian. Dan manusia tidak mungkin menjadi rasul dari Allah."
Kesimpulan penjelasan ini adalah bila malaikat diubah bentuknya menjadi manusia, itu hanya akan membuat kaum musyrik tetap berada dalam keragu-raguan dan kebingungan yang mereka ciptakan sendiri.
Dan secara tidak langsung, tindakan Allah menurunkan malaikat dalam wujud manusia akan terlihat seperti menambah kerancuan itu,bukan karena maksud Allah menipu mereka, tetapi karena memang hati mereka sendiri sudah menolak dan membungkus kebenaran dengan kebatilan.