Kemenag RI 2019:Mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan malaikat kepadanya (Nabi Muhammad)?” ) Andaikata Kami turunkan malaikat, niscaya selesailah urusan (mereka dibinasakan karena pengingkaran) kemudian mereka tidak lagi ditangguhkan (sedikit pun untuk bertobat). Prof. Quraish Shihab:Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad saw.) seorang malaikat (yang dapat kami lihat secara nyata dan menyatakan kebenaran Muhammad)?" Sedangkan, jika seandainya Kami turunkan malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (mereka akan dibinasakan seketika)." Prof. HAMKA:Dan mereka berkata, “Mengapa maka tidak diturunkan atasnya malak?” Padahal, kalau Kami turunkan malak, tentu selesailah urusan kemudian mereka pun tidaklah akan dipedulikan.
Ayat kedelapan ini masih juga menceritakan bagaimana kaum musyrikin Mekkah mencari-cari alasan untuk tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan meminta diperlihatkan kepada mereka bagaimana malaikat turun dari langit.
وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ
Kata wa qaaluu (وَقَالُوا) artinya : dan mereka berkata. Mereka ini tidak lain adalah orang-orang kafir, khususnya kaum musyrikin, yang di masa kenabian dahulu mayoritas dipelopori para pemuka Quraisy Mekkah.
Kata laulaa (لَوْلَا) adalah partikel dalam bahasa Arab yang tergolong jenis harf atau huruf, yang secara struktur ia terdiri dari dua bagian.
§Pertama adalah lau (لو) yang merupakan huruf imtina‘ li wujud (حرف امتناع لوجود), yaitu huruf yang menunjukkan sesuatu yang tidak terjadi karena adanya sesuatu yang lain. Maknanya : "seandainya tidak" atau "kalau bukan karena".
§Kedua adalah laa (لا) yang merupakan harf nafiyah berfungsi menafikan atau meniadakan hal yang disebut setelahnya.
Jadi laula (لَوْلَا) secara harfiah berarti : ‘kalau tidak karena’ atau ‘mengapa tidak’ dalam konteks tuntutan atau celaan. Kata ini sering digunakan dalam Al-Qur’an dan bahasa Arab klasik untuk menyatakan protes, harap, atau keinginan yang tak terpenuhi, dan kadang dalam bentuk celaan atau tantangan.
Kata unzila (أُنْزِلَ) artinya : diturunkan. Kata ‘alaihi (عَلَيْهِ) artinya : kepadanya. Maksudnya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.Kata malak (مَلَكٌ) adalah bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah malaikah (ملائكة).
Uniknya dalam bahasa Indonesia, katamalaikat digunakan baik untuk tunggal atau jamak. Padahal disini Allah menggunakan bentuk tunggal dan bukan bentuk jamak. Kita langsung kesulitan mencarikan terjemahannya yang memang tidak ada. Terpaksa kita terjemahkan menjadi : malaikat, padahal jumlahnya hanya satu saja.
وَلَوْ أَنْزَلْنَا مَلَكًا
Kata walaw (وَلَوْ) artinya : dan seandainya. Kata anzalnaa (أَنْزَلْنَا) artinya : Kami turunkan. Kata malakan (مَلَكًا) artinya : malaikat.
Sebenarnya ada sedikit masalah ketika kita mencoba memahami apa yang dituntut kaum musyrikin Mekkah kepada Nabi SAW. Muncul pertanyaan yang menggelitik disini yaitu kenapa mereka sampai meminta agar diturunkan malaikat kepada Nabi Muhammad SAW?
Padahal bukankah selama ini memang Malaikat Jibril sudah rutin turun sampai bolak-balik dari langit ke bumi ke langit lagi terus ke bumi lagi dengan membawa sekian banyak wahyu dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW?
Jawabannya karena mereka selama ini memang tidak pernah melihat langsung penampakan malaikat Jibril itu. Jangankan orang-orang kafir, bahkan para shahabat yang mulia sekalipun, tidak ada yang bisa melihatnya.
Namun begitu sebenarnya sempat sekali malaikat Jibril menampakkan diri di hadapan para shahabat, sebagaimana yang bisa kita baca dari hadits shahih riwayat Imam Muslim, yang masyhur disebut dengan : hadits Jibril.
Dari Umar bin Khattab radhiyallahuanhu, ia berkata: “Pada suatu hari, kami duduk di dekat Rasulullah SAW. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berpakaian sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya.
Hadits ini cukup panjang dan menurut hemat Penulis, kita langsung bahas bagian akhirnya saja, yaitu ketika malaikat Jibril kemudian pergi.
Kemudian lelaki itu pergi, dan aku pun terdiam beberapa saat. Lalu Nabi bersabda: ‘Wahai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya itu?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: ‘Itu adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.’ (HR. Muslim)
Jadi benar bahwa malaikat Jibril pernah menampakkan diri di hadapan para shahabat. Namun yang jadi masalah, penampakan itu tidak dalam rupa aslinya sebagai malaikat. Penampilannya hanya seperti manusia biasa, sehingga tidak ada yang mengira kalau dia adalah Jibril.
Walaupun sempat juga Umar menceritakan keheranannya, mengingat rambutnya terlalu hitam dan bajunya terlalu putih, masih ditambah dengan fakta bahwa tidak ada seroang pun yang mengenalnya sebagai penduduk lokal, tapi juga tidak ada bekas tanda bahwa dia musafir yang datang dari jauh. Hanya saja keunikan ini saja tidak lantas menjelaskan bahwa dia adalah malaikat.
Dalam ayat lainnya, juga diceritakan bagaimana Malaikat Jibril menampakkan diri kepada Maryam, ibunda Nabi Isa alaihissalam. Namun lagi-lagi penampakannya seperti manusia biasa, sehingga awalnya dikira bukan malaikat, kecuali setelah memperkenalkan diri sebagai utusan Allah SWT.
maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (QS. Maryam : 17)
Nabi Ibrahim pernah didatangi dua tamu berwujud manusia, namun sebenarnya dua malaikat, sebagaimana Allah SWT ceritakan dalam kisah Al-Quran :
Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth". (QS. Hud : 70)
Namun begitu, dalam semua kasus itu, lagi-lagi malaikat itu membentuk rupa manusia, bukan wujud aslinya. Sehingga buat orang kafir nampaknya itu bukan malaikat. Maka wajar ketika kaum musyrikin Mekkah juga tidak pernah melihat penampakan malaikat, mereka pun jadi punya alasan untuk tidak beriman.
Setidaknya mereka jadi punya alasan untuk berasumsi bahwa Al-Quran itu sekedar hasil mengarang bebas saja. Buktinya yang disebut wahyu itu memang keluarnya lewat mulut Nabi SAW. Bukan dalam bentuk suara dari langit bersumber dari malaikat Jibril yang menampakkan diri di langit Mekkah.
Dari Jabir bin ‘Abdillah, bahwa ia mendengar Rasulullah SAWmenceritakan tentang masa terhentinya wahyu, beliau bersabda: “Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Maka aku menengadahkan pandanganku ke atas, ternyata malaikat yang datang kepadaku di gua Hira sedang duduk di atas kursi yang berada di antara langit dan bumi. Maka aku pun merasa sangat takut darinya, lalu aku pulang dan berkata: ‘Selimuti aku! Selimuti aku!. (HR. Bukhari dan Muslim)
Memang kali ini Jibril nampaknya benar-benar tampil sebagaimana rupa aslinya. Masalahnya, yang lihat hanya Nabi SAW seorang. Sedangkan orang-orang kafir tidak ada yang lihat, bahkan para shahabat pun juga hanya dengar ceritanya saja.
لَقُضِيَ الْأَمْرُ
Kata laqudiya (لَقُضِيَ) artinya : pasti diselesaikan. Kata al-amru (الْأَمْرُ) artinya : urusan.
Mujahid berkata bahwa ungkapan la-qudhiyal amr artinya: Hari Kiamat akan tegak. Sedangkan menurut Adh-Dhahhak, seandainya malaikat datang kepada mereka dalam rupa aslinya, niscaya mereka akan mati.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir menuliskan ada beberapa asumsi yang terkait dengan makna la-qudhiyal amr (لَقُضِيَ الْأَمْرُ).
Pertama: Turunnya malaikat kepada manusia adalah mukjizat yang nyata. Jika malaikat diturunkan kepada orang-orang kafir tersebut, mungkin mereka tetap tidak beriman sebagaimana firman-Nya:
"Dan sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka... Mereka tidak akan beriman kecuali jika Allah menghendaki." (QS. Al-An'am: 111).
Jika mereka tidak beriman, maka mereka wajib dibinasakan dengan azab yang menghancurkan. Sesungguhnya sunnah Allah berlaku bahwa ketika mukjizat nyata telah tampak, jika mereka tidak beriman, maka azab pemusnahan akan menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah SWT tidak menurunkan malaikat kepada mereka agar mereka tidak berhak menerima azab ini.
Kedua: Jika mereka menyaksikan malaikat, nyawa mereka akan melayang karena kengerian yang mereka lihat. Ketika manusia melihat malaikat, ada dua kemungkinan, bisa dalam wujud aslinya atau dalam wujud manusia.
Jika dalam wujud aslinya, manusia tidak akan tetap hidup. Ketika Nabi SAW melihat Jibril dalam wujud aslinya, disebutkan dalam satu riwayat bahwa Beliau SAW itu pingsan.
Namun jika malaikat itu tampil dalam wujud manusia, maka yang terlihat hanyalah sosok berwujud manusia. Sehingga tidak ada perbedaan, apakah ia sebenarnya malaikat atau manusia.
Ketiga: Turunnya malaikat adalah mukjizat nyata yang setara dengan pemaksaan dan menghilangkan pilihan. Hal ini merusak keabsahan taklif (pembebanan syariat).
Keempat: Meskipun turunnya malaikat dapat menolak keraguan yang disebutkan, tapi di sisi lain justru akan melahirkan masalah lain. Mereka akan mengira bahwa Nabi punya kekuatan super yang bukan dari Allah. Dengan begitu mereka tetap bisa menolak beriman dengan alasan : "Kalau kami juga punya kekuatan seperti kamu, kami juga bisa melakukan hal yang sama!"
Maka turunnya malaikat memang bisa menjawab sebagian keraguan, tapi akan menimbulkan keraguan baru yang lebih parah. Karena itu, Allah tidak menurunkan malaikat langsung kepada mereka, sebab hal itu tidak akan membuat mereka beriman, malah bisa memperburuk penolakan mereka.
ثُمَّ لَا يُنْظَرُونَ
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya : kemudian. Kata laa (لَا) artinya : tidak. Kata yunzharuun (يُنْظَرُونَ) artinya : mereka ditangguhkan.
Al-Bahgawi dalam tafsir Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Quran[1] mengutip Qatadah, bahwa seandainya Allah turunkan malaikat lalu mereka tetap tidak beriman, niscaya azab akan disegerakan bagi mereka. Maka mereka tidak akan ditunda walau sekejap mata pun.
Yang menarik dari penggalan ayat ini adalah ancaman Allah SWT kepada kaum musyrikin Arab di masa kenabian. Secara pembagian zaman, mereka ini sudah termasuk umat Nabi Muhammad SAW. Sebab mereka memang bertemu langsung dengan Beliau.
Tapi kalau melihat ayat ini, dimana mereka diancam akan dijatuhi hukuman yang sifatnya instan, langsung turun adzab, maka ini sebenarnya bukan karakteristik hukuman untuk mereka. Hukuman semacam ini hanya diturunkan kepada umat terdahulu. Mereka diperlakukan agak berbeda, dimana segala macam dosa dan kesalahan, selalunya disegerakan siksaan dan adzab.
Sementara kaum musyrikin Mekkah, wabil-khusus para pemuka Quraisy bukanlah bagian dari umat terdahulu. Mereka bagian dari umat Nabi Muhammad SAW. Bila mereka melakukan kesalahan, selalu ada kesempatan yang diberikan selama beberapa waktu, sampai akhirnya mereka sadar dari kesalahan, lalu minta ampun dan bertaubat. Sehingga apapun kesalahan umat Nabi Muhammad SAW, pastinya mereka tidak akan disiksa di dunia.
Boleh jadi kita berasumsi bahwa ancaman akan diturunkan adzab secara instan lebih merupakan gertak sambal, untuk menakut-nakuti mereka. Setidaknya biar mereka berpikir bahwa perbuatan mereka macam ini jika yang melakukannya umat terdahulu, pastilah sudah ditutunkan adzab.
Teguran Allah SWT Buat Nabi SAW
Nabi SAW pernah sekali ditegur Allah SWT dengan cukup keras, yaitu ketika beliau menghentikan Perang Badar di tengah-tengah, tidak sampai membunuh lawannya, malah dibiarkan hidup dengan cara dijadikan tawanan
“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia benar-benar melumpuhkan musuh di bumi. Kalian menginginkan harta dunia, sedangkan Allah menginginkan akhirat. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”(QS Al-Anfal: 67)
Ketika ayat ini turun, Nabi Muhammad SAW merasa sangat bersedih dan sangat takut kepada Allah. Beliau menyadari bahwa keputusannya, meskipun sudah hasil musyawarah, ternyata tidak sesuai dengan kehendak Allah dalam konteks jihad awal itu.
Diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa Nabi SAW bersabda kepada para sahabatnya:
Seandainya azab dari langit turun saat itu, tidak ada yang akan selamat kecuali Umar.
Hanya Umar bin Khattab yang sikapnya selaras dengan kehendak Allah dalam perkara ini. Nabi SAW mengakui bahwa jika ini terjadi pada umat-umat terdahulu, mungkin azab Allah sudah turun atas mereka karena keputusan yang dianggap terlalu lunak terhadap musuh-musuh agama.