.::FIKRAH

Hukum Wanita Haji Tanpa Suami atau Mahram

Hukum Wanita Haji Tanpa Suami atau Mahram

by.
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah. Itu artinya bahwa jutaan muslimin akan melaksanakan ibadah haji di tanah suci Mekah. Timbul pertanyaan, bagaimana hukum perempuan yang berhaji tanpa ditemani suami atau mahram? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua kubu. Berikut rinciannya:

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah. Itu artinya bahwa jutaan muslimin akan melaksanakan ibadah haji di tanah suci Mekah. Timbul pertanyaan, bagaimana hukum perempuan yang berhaji tanpa ditemani suami atau mahram?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua kubu. Berikut rinciannya:

Ulama Yang Melarang

Ulama madzhab Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa haram bagi perempuan pergi haji tanpa suami atau mahram. Walaupun sah hajinya, namun dia berdosa. Alasan mereka adalah hadis-hadis berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيّ قَالَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ.فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ ارْجِعْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahunahu dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya." Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata, "Wahai Rasulullah, isteriku berangkat hendak menunaikan haji sementara aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini." beliau bersabda: "Kalau begitu, kembali dan tunaikanlah haji bersama isterimu."(HR. Bukhari)

عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ قَالَ لاَ تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ ثَلاثًا إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

Dari Nafi' dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu dari Nabi SAW, beliau bersabda,"Janganlah seorang wanita bepergian selama tiga hari kecuali bersama mahramnya. (HR. Ahmad)

Hanafiyah

Pendapat madzhab Hanafi ini dapat dicek dalam kitab Bada’i ash-Shona’i karya imam al-Kasani (w. 587) juz 2 hal. 123.

وأما الذي يخص النساء فشرطان: أحدهما أن يكون معها زوجها أو محرم لها فإن لم يوجد أحدهما لا يجب عليها الحج

“Adapun khusus bagi perempuan, maka ada dua syarat wajib haji (lagi); salah satunya adalah ditemani suami atau mahramnya. Jika tidak ada maka hukum hajinya tidak wajib”.

Hanabilah

Pendapat madzhab Hambali juga terekam dalam kitab al-Mughni karya imam Ibnu Qudamah (w. 620 H) juz 2, hal. 229.

فَمَنْ لَا مَحْرَمَ لَهَا لَا تَكُونُ كَالرَّجُلِ، فَلَا يَجِبُ عَلَيْهَا الْحَجُّ. وَقَدْ نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ، فَقَالَ أَبُو دَاوُد: قُلْت: لِأَحْمَدَ: امْرَأَةٌ مُوسِرَةٌ، لَمْ يَكُنْ لَهَا مَحْرَمٌ، هَلْ يَجِبُ عَلَيْهَا الْحَجُّ؟ قَالَ: لَا.

“Bagi wanita yang tidak punya mahram maka dia tidak seperti pria, maka dia tidak wajib haji. Imam Ahmad telah menash pendapat ini. Abu Dawud berkata; “ Saya berkata kepada imam Ahmad; Ada perempuan kaya, tapi tidak punya mahram, apakah wajib haji baginya? Dia menjawab: TIDAK”.

Pendapat Yang Membolehkan

Pendapat ini diusung oleh ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Zhahiriyah. Mereka membolehkan wanita haji dengan beberapa kawannya yang dipercaya sebagai ganti suami atau mahramnya. Diantara dalil yang dipakai mereka adalah zhahir dari ayat :

{ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا} [آل عمران: 97] 

“ Dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah adallah melaksanakan ibadah haji ke baitullah, bagi orang yang mampu”.

Selain ayat di atas juga mereka berdalil dengan hadis Adiy bin Hatim.

بَيْنَا أَنَا عِنْدَ النَّبِيِّ ص إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَشَكَا إِلَيْهِ الْفَاقَةَ ثُمَّ أَتَاهُ آخَرُ فَشَكَا إِلَيْهِ قَطْعَ السَّبِيلِ. فَقَالَ يَا عَدِيُّ هَلْ رَأَيْتَ الْحِيرَةَ ؟ قُلْتُ لَمْ أَرَهَا وَقَدْ أُنْبِئْتُ عَنْهَا. قَالَ : فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنْ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْكَعْبَةِ لا تَخَافُ أَحَدًا إِلاَّ اللَّهَ

“Dari Adiy bin Hatim berkata,"Ketika aku sedang bersama Nabi SAW tiba-tiba ada seorang laki-laki mendatangi beliau mengeluhkan kefakirannya, kemudian ada lagi seorang laki-laki yang mendatangi beliau mengeluhkan para perampok jalanan". Maka beliau berkata,"Wahai Adiy, apakah kamu pernah melihat negeri Al Hirah?". Aku jawab,"Belum pernah Aku melihatnya namun Aku pernah mendengar beritanya". Beliau berkata,"Seandainya kamu diberi umur panjang, kamu pasti akan melihat seorang wanita yang mengendarai kendaraan berjalan dari Hirah hingga melakukan tawaf di Ka’bah tanpa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah". (HR. Bukhari)

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menyatakan bahwa Umar RA memberi izin kepada istri-istri Nabi SAW untuk melakukan ibadah haji. Dia mengirim Utsman Bin Affan dan Abdurrahman untuk menemani mereka.

Malikiyah

Imam Ibnul Hajib (w.776 H) mengabadikan pendapat madzhab Maliki dalam kitab at-Taudhih syarah al-Mukhtashor al-Far’i, juz 2 hal. 489.

وقوله: (فَإِنْ أَبَى) أي: الزوج أو المحرم. (أَوْ لَمْ يَكُنْ) أي: أحدهما. (فَرُفْقَةً مَامُونَةً) ابن بشير وابن بزيزة: وفي هذه المسألة ثلاثة أقوال: قيل: لا تسافر إلا بأحدهما للحديث، كانت ضرورة أو لا. وقيل: تسافر م الرفقة مطلقاً، والمشهور تسافر في الفريضة خاصة

“ Dan perkataan (Jika dia enggan) yaitu suami atau mahram, (atau tidak ada) yaitu salah satunya, (maka boleh dengan teman-teman yang dipercaya) Ibnu Basyir dan Ibnu Bazizah (berkata): dalam masalah ini ada 3 pendapat; pertama : wanita itu harus haji dengan suami atau mahramnya karena alasan hadis, baik darurat atau tidak. Kedua, wanita itu boleh haji dengan kawannya. Dan pendapat yang masyhur adalah dia pergi dalam haji wajib secara khusus”.

Syafi’iyah

Dalam kitab al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab, imam an-Nawawi (w. 676 H) juga memaparkan perndapat madzhab Syafi’i, pada juz 8 hal. 343

قَدْ ذَكَرْنَا تَفْصِيلَ مَذْهَبِنَا فِي حَجِّ الْمَرْأَةِ وَذَكَرْنَا أَنَّ الصَّحِيحَ أَنَّهُ يَجُوزُ لَهَا فِي سَفَرِ حَجِّ الْفَرْضِ أَنْ تَخْرُجَ مَعَ نِسْوَةٍ ثِقَاتٍ أَوْ امْرَأَةٍ ثِقَةٍ وَلَا يُشْتَرَطُ الْمَحْرَمُ وَلَا يَجُوزُ فِي التَّطَوُّعِ وَسَفَرِ التِّجَارَةِ وَالزِّيَارَةِ وَنَحْوِهِمَا إلَّا بِمَحْرَمٍ

وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَجُوزُ بِغَيْرِ نِسَاءٍ وَلَا امْرَأَةٍ إذَا كَانَ الطَّرِيقُ آمِنًا وَبِهَذَا قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَدَاوُد

“Sudah kami sebutkan rincian dari madzhab kami tentang hajinya perempuan. Kami sebutkan bahwa pendapat yang benar bahwa perempuan boleh haji (yang wajib) ditemaniwanita-wanita dipercaya atau satu wanita dipercaya. Tidak disyaratkan dengan mahram. Namun ini tidak dibolehkan dalam haji sunah, safar untuk berdagang, safar untuk ziarah/silaturahim, kecuali dengan mahramnya. Sebagian ulama kami bahka membolehkan wanita haji sendirian jika jalannya aman, dan inijuga pendapat al-Hasan al-Bashri dan Dawud.

Zhahiriyah

Ibnu Hazm juga berpendapat bolehnya wanita haji tanpa suami atau mahram., dalam kitab al-Muhalla bil Atsar juz 5 hal. 456.

وَوَجَدْنَا اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: {وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا} [آل عمران: 97] ثُمَّ وَجَدْنَا الْأَسْفَارَ تَنْقَسِمُ قِسْمَيْنِ سَفَرًا وَاجِبًا، وَسَفَرًا غَيْرَ وَاجِبٍ؛ فَكَانَ السَّفَرُ الْوَاجِبُ بَعْضَ الْأَسْفَارِ بِلَا شَكٍّ، وَكَانَ الْحَجُّ مِنْ السَّفَرِ الْوَاجِبِ؛ فَلَمْ يَجُزْ أَخْذُ بَعْضِ الْآثَارِ دُونَ بَعْضٍ وَوَجَبَتْ الطَّاعَةُ لِجَمِيعِهَا وَلَزِمَ اسْتِعْمَالُهَا كُلُّهَا وَلَا بُدَّ: فَهَذَا هُوَ الْفَرْضُ، وَكَانَ مَنْ رَفَضَ بَعْضَهَا وَأَخَذَ بَعْضَهَا عَاصِيًا لِلَّهِ تَعَالَى، وَلَا سَبِيلَ إلَى اسْتِعْمَالِ جَمِيعِهَا إلَّا بِأَنْ يُسْتَثْنَى الْأَخَصُّ مِنْهَا مِنْ الْأَعَمِّ، وَلَا بُدَّ؛ فَكَانَ نَهْيُ الْمَرْأَةِ عَنْ السَّفَرِ إلَّا مَعَ زَوْجٍ، أَوْ ذِي مَحْرَمٍ عَامًّا لِكُلِّ سَفَرٍ؛ فَوَجَبَ اسْتِثْنَاءُ مَا جَاءَ بِهِ النَّصُّ مِنْ إيجَابِ بَعْضِ الْأَسْفَارِ عَلَيْهَا مِنْ جُمْلَةِ النَّهْيِ، وَالْحَجُّ سَفَرٌ وَاجِبٌ فَوَجَبَ اسْتِثْنَاؤُهُ مِنْ جُمْلَةِ النَّهْيِ.

“Kita temui dalam surat Ali Imron ayat 97 Allah berfirman, yang artinya “ Dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah adallah melaksanakan ibadah haji ke baitullah, bagi orang yang mampu”. Kemudian kita dapati bahwa safar itu ada dua macam; safar wajib dan safar tidak wajib. Dan haji termasuk safar wajib. Maka tidak boleh hanya memakai sebagian atsar saja. Wajib mengikuti semua dalil, ini wajib hukumnya. Orang yang menolak sebagian dalil maka dia telah maksiat kepada Allah. Tidak ada jalan untuk memakai semua dalil itu kecuali mengecualikan yang khusus dari yang umum. Maka dalil yang melarang safarnya wanita kecuali dengan suami atau mahram itu umum pada semua safar, adapun haji adalah safar wajib maka dikecualikan dari keumuman terlarangnya wanita bersafar tanpa suami atau mahram.”

Ibnu Taimiyah, juga Ibnu Muflih, menyatakan, “Seorang wanita bisa melakukan haji tanpa mahram selama dia aman.”  Al-Atsram menyampaikan bahwa Imam Ahmad berkata, “Memiliki mahram bukan merupakan syarat untuk haji yang wajib, ini adalah karena seorang perempuan dapat pergi haji bersama perempuan lain dan juga dengan siapa pun yang memberi rasa aman.” Ibnu Sirin menyatakan, “Ia harus pergi dengan Muslim yang baik.”

Syeikh Ali Jum’ah dan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi

Dua ulama al-Azhar ini kompak dalam masalah ini. Mereka memandang bahwa larangan perempuan safar tanpa mahram itu karena illat keamanan. Adapun di zaman sekarang yang sudah aman dengan alat transportasi yang mudah dan nyaman maka seorang wanita jika aman untuk safar baik untuk haji atau menuntut ilmu, maka wanita boleh safar sendiri baik untuk haji atau keperluan lainnya misal menuntut ilmu.

Intinya dalam permasalahan ini para ulama kita berbeda pendapat. Perbedaan ulama dibolehkan dalam perkara furu’ (cabang agama). Bahkan menjadi kemudahan bagi siapapun untuk memilih pendapat ulama tanpa bermaksud meremehkan urusan agama.Wallahu a’lam.

Ganti Mazhab
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Wed 30 October 2024
Masjid : Antara Kampus dan Kantin
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Tue 29 October 2024
Fiqih Negara : Kedudukan Negara Dalam Hukum Syariah
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Fri 25 October 2024
Ibnu Taimiyyah Memotong Pernyataan Syeikh Abdul Qadir al-Jilani tentang Makna Istiwa, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Mon 1 November 2021
Al-Quran dan Kitab-Kitab Suci Samawi Lain Dalam Ajaran Islam
Muhammad Alfatih, Lc | Mon 4 October 2021
Antara Albani dan Ibnu Qayyim Tentang Ziarah Kubur Hari Jumat
Hanif Luthfi, Lc., MA | Fri 1 October 2021
Membaca Biaografi Ulama Menurunkan Rahmat, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Wed 1 September 2021
Bahaya Takhbib
Hanif Luthfi, Lc., MA | Tue 8 September 2020
Ayah Mertua Menikahi Ibu Kandung Menantu, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 9 August 2020
Puasa Ayyam al-Bidh Khusus Bulan Dzulhijjah
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 2 August 2020
more ...
1. Antara Istihadhah dan Haidh
2. Antara Fiqih dan Keimanan
3. Apa Batasan Makmum Mendapat Satu Rakaat pada Shalat Gerhana?
4. Sholat Subuh Berapa Rakaat ?
5. Bolehkah Denda dengan Harta/Uang?
6. Nikah Dengan Syarat Tidak Poligami, Bolehkah?
7. Hukum Wanita Haji Tanpa Suami atau Mahram
8. Ternyata Qunut Subuh Itu Bid'ah
9. Jangan Buru-buru Menyimpulkan Hadis
10. Antara Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah
11. Puasa Wishal: Bolehkah? (Bagian-2)
12. Puasa Wishal: Bolehkah? (Bagian-1)
13. Imam al-Kasani dan Maharnya
14. Puasa Syawwal : Apa dan Bagaimana
15. Singapura Lebih Islami dari Indonesia ?
16. Wanita Haidh Masuk Masjid, Kenapa Tidak Boleh?
17. Koalisi ala Rasulullah
18. Batas Aurat Sesama Wanita
19. Air Dua Qullah dalam Perspektif Madzhab Al-Syafi'i
20. Ternyata, Perempuan Justru Mendapatkan Lebih Banyak
21. Ijtihad, Dulu dan Sekarang
22. Wajibkah Wanita Mengenakan Mukena Ketika Shalat?
23. Tanggung Jawab Vs Tanggung Malu
24. Meninggalkan Sholat Karena Ragu-ragu Darah Haid Sudah Berhenti atau Belum
25. Pesantren, Solusi Sekolah Murah Yang Tidak Murahan
26. Sentuhan Kulit Dengan Lawan Jenis, Batalkah Wudhunya?
27. Ketika Ahli Waris Ada yang Menghilang
28. Ketika Darah Haid Nifas Berhenti di Waktu Ashar atau Isya'
29. Mengulangi Shalat Jamaah Dalam Satu Masjid
30. Sejarah Istilah Fiqih dan Kitab Fiqih Pertama
31. Benarkah Imam Ahmad Seorang Ahli Fiqih?
32. Menyikapi Hidangan Ta'ziyah
33. Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya?
34. Menelusuri Hukum Hiasan Dalam Masjid
35. Penguburan Massal Dalam Pandangan Fiqih
36. Bolehkah Wanita Ziarah Kubur?
37. Sholat Kok Sambil Jalan?
38. Awas, Sepupu Bukan Mahram
39. Ikhtilaf Itu Rahmat, Benarkah?
40. Krisis Ulama': Penyebab dan Dampaknya (bag. 2)
41. Dukun Berkalung Surban
42. Adil Tak Selalu Sama Rata
43. Kompilasi Hukum Islam (KHI) : Antara Kritik dan Harapan
44. Krisis Ulama’: Penyebab dan Dampaknya (bag. 1)
45. Orisinalitas Syariat Islam
Jadwal Shalat DKI Jakarta 30-5-2026
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:52 | Ashar 15:14 | Maghrib 17:48 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia
www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia