Kemenag RI 2019:Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti segolongan dari orang yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang kafir setelah beriman. Prof. Quraish Shihab:
"Wahai orang-orang yang beriman, seanda,inya kamu mengi,kuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.
Prof. HAMKA:
Wahai orang-orang yang beriman! Jikalau kamu ikuti (kehendak) segolongan dari orang-orang yang keturunan kitab itu, niscsya akan mereka kembalikan kamu menjadi kafir, sesudah kamu beriman.
Lafazh ya ayyuha (يَا أَيُّهَا) merupakan sapaan atau nida’. Fungsinya untuk menegaskan siapa yang menjadi lawan bicara, maka sebelum disampaikan apa yang menjadi isi pembicaraan, lawan bicaranya itu disapa terlebih dahulu. Untuk mudahnya penerjemahan dalam Bahasa Indonesia sering dituliskan menjadi : “wahai”.
Sedangkan lafazh alladzina (الَّذِينَ) dimaknai menjadi ‘yang’ atau lengkapnya : “orang-orang yang”. Dan lafazh aamanu (آمَنُوا) merupakan kara kerja yang bentuknya lampau alias fi’il madhi yaitu dari asal (آمَنَ - يُؤْمِنً). Makna kata kerja itu adalah : “melakukan perbuatan iman”. Namun sudah jadi kebiasaan dalam penerjemahan disederhanakan menjadi : “orang-orang yang beriman”. Padahal kalau “orang yang beriman”, secara baku dalam bahasa Arab itu disebut mu’min (مُؤْمِن) dan bukan alladzina amanu.
Sapaan yang menjadi pembuka ayat ini menunjukkan siapa yang diajak bicara atau mukhathab oleh Allah SWT, yaitu orang-orang yang beriman, yang di masa turunnya ayat itu tidak lain adalah para shahabat nabi ridhwanullahi ‘alaihim.
Menarik untuk dikalkulasi bahwa di seluruh ayat dan surat Al-Quran, kita menemukan tidak kurang dari 89 kali Allah SWT menyapa dengan sapaan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) dan ayat ke 104 surat Al-Baqarah ini adalah ayat pertama yang menggunakan sapaan seperti ini.
Lafazh in (إِنْ) merupakan alat untuk sebuah syarat yang bisa diartikan menjadi : jika. Lafazh tuthi’uu (تُطِيعُوا) merupakan fi’il mudhari’ yang artinya : kamu mentaati.
Lafazh fariqan (فَرِيقًا) artinya sebagian. Menarik sekali bahwa Allah SWT menyelipkan kata fariqan yang menegaskan bahwa hanya sebagian saja dari mereka yang demikian. Dan mafhum mukhalfahnya bahwa sebagian yang lain tentu tidak demikian.
Lafazh minalladzina uutuul kitab (الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ) artinya : orang-orang yang telah mendapatkan kitab. Menarik untuk digaris-bawahi bahwa sebutan Allah SWT kepada orang-orang Yahudi seringkali berubah-ubah sesuia dengan sikap dan perilaku mereka sendiri.
Sebutan orang yang mendapatkan kitab itu merupakan sebutan yang masih sangat memberikan penghargaan. Sebab tidak semua bangsa di dunia ini diberikan kitab suci samawi. Maka penyebutan sebagai ahli kitab, bahkan dengan kata-kata yang lebih tegas : diberikan kitab, menunjukkan sebuah penghargaan.
Dalam hal ini bisa kita pahami bahwa sebegitu baiknya Allah SWT ketika menegur orang-orang Yahudi dalam ayat ini. Mereka dihimbau dan diingatkan sambil disanjung sebagai orang yang mendapatkan kitab suci.
يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ
Kata yaruddukum (يَرُدُّوكُمْ) artinya : mengembalikan kamu. Yang dimaksud dengan kamu disini adalah orang-orang beriman, yaitu Nabi SAW dan para shahabat mulia. Adapun lafazh bakda imanikum (بَعْدَ إِيمَانِكُمْ) artinya : setelah keimanan kamu.Kata kafirin (كَافِرِينَ) artinya : orang-orang kafir.