Kemenag RI 2019:Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar dan tidaklah Allah berkehendak melakukan kezaliman pada semesta alam. Prof. Quraish Shihab:
Itulah ayat-ayat Allah, Kami membacakannya (mewahyukannya) kepadamu (Nabi Muhammad saw.) dengan haq (benar); dan tidaklah Allah berkehendak menganiaya (siapa pun) di seluruh alam.
Prof. HAMKA:
Demikian itulah tanda-tanda dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya. Dan tidaklah Allah bermaksud zalim kepada makhluk
Lafazh tilka (تِلْكَ) adalah kata tunjuk untuk sesuatu yang jauh dan dalam bentuk muannats (perempuan), sedangkan untuk yang mudzakkar digunakan dzalika (ذَلِكَ). Posisi lafazh tilka dalam struktur kalimat menjadi mubtada’, sedangkan yang menjadi khabar-nya adalah lafazh aayaatullah (آيَاتُ اللَّهِ) yang artinya : tanda-tanda Allah.
Sementara lafazh ayaatullahi (آيَاتُ اللَّهِ) merupakan bentuk jama’ dari ayat (آية). Lafazh ini di dalam Al-Quran Al-Karim secara total muncul tidak kurang dari 382 kali, semuanya dalam format ism. Kalau dirinci lebih lanjut :
§ Mufrad : yaitu bentuk tunggal (آية) berjumlah 86 kali.
§ Mutsanna : yaitu bentuk dua muncul hanya sekali, pada surat Al-Isra (وجعلنا الليل والنهار آيتين).
§ Jamak : yaitu dalam bentuk banyak muncul 295 kali.
Sedangkan segi maknanya, lafazh (آية) atau (آيات) bisa berubah-ubah sesuai dengan konteksnya, antara lain :
1. Ayat bermakna tanda kekuasaan, misalnya pada ayat (ومن آياته منامكم بالليل والنهار)
2. Ayat bermakna ayat pada Al-Quran, seperti pada (ما ننسخ من آية أو ننسها)
3. Ayat bermakna kitab suci Al-Quran secara keseluruhan, seperti pada (يسمع آيات الله تتلى عليه)
4. Ayat bermakna mukjizat, seperti pada (فلما جاءهم موسى بآياتنا بينات)
5. Ayat bermakna pelajaran, seperti pada (ولنجعله آية للناس)
6. Ayat bermakna hukum-hukum syariah, seperti pada (كذلك يبين الله لكم آياته).
7. Ayat bermakna tanda atau petunjuk, seperti pada (لقد كان لسبإ في مسكنهم آية)
Dari kesemuanya, yang nampaknya paling mendekati adalah ayat dalam arti ayat Al-Quran. Dasarnya karena pada penggalan berikutnya disebutkan bahwa ayat ini dibacakan dengan hak. Berarti ada unsur tilawah alias dibacakan.
نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ
Kata natluha ‘alaika (نَتْلُوهَا عَلَيْكَ) artinya : Kami bacakan untukmu. Asalnya dari (تلا-يتلو-تلاوة) yang artinya : membacakan, maksudnya membacakan untuk orang lain dan bukan hanya untuk diri sendiri. Dan biasanya membacakan itu dengan suara yang keras, maksudnya agar yang dibacakan itu bisa mendengarnya.
Dalam hal ini ada sedikit perbedaan antara tilawah dengan qiraah. Qiraah itu meskipun artinya sama-sama membaca juga, namun sifatnya lebih umum, bisa dengan suara keras ataupun bisa dengan suara yang lirih ataupun berbisik. Sedangkan tilawah lebih ke arah memperdengarkan atau membacakan.
Kata bil-haq (بِالْحَقِّ) artinya : dengan benar. Pertanyaannya, kenapa harus disebutkan bahwa Al-Quran dibacakan dengan benar? Apa konteksnya di masa itu?
Nampaknya penggalan ini sedikit menyindir bagaimana kalangan ahli kitab dari Bani Israil yang ketika membacakan ayat-ayat yang ada di dalam Taurat, banyak diselewengkan. Penyelewannya bisa saja dari diputar balikkan ayat itu ketika membaca, atau pun juga diputar balikkan makna dan pengertiannya.
Dan semua itu memang seakan menjadi hak dan previlage dari para rahib dan pendeta, sebagaimana diceritakan sebelumnya dalam ayat yang sudah lewat.
Maka, apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka agar percaya kepadamu, sedangkan segolongan mereka mendengar firman Allah lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui(-nya)? (QS. Al-Baqarah : 75)
وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ
Kata wa-mallahu yuridudan (وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ) artinya : tidaklah Allah menginginkan. Lafazh zhulman (ظُلْمًا) artinya kezaliman. Sedangkan lafazh lil-‘alamin (لِلْعَالَمِينَ) maknanya : kepada alam semesta.
Secara makna bahasa kata zhulm adalah menempatkan sesuatu bukan pada posisinya, baik dengan kekurangan atau kelebihan, termasuk juga bukan pada waktu dan tempatnya. Secara prakteknya, tindakan zhalim ini bisa dibagi berdasarkan siapa yang dizhalimi :
1. Zhalim Kepada Allah
Tindakan zhalim kepada Allah SWT yang paling tinggi adalah kekafiran dan juga menyekutukan Allah. Dasarnya adalah firman Allah SWT :
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْم
Sesungguhnya syirik itu kezhaliman yang besar. (QS. Luqman :13)
2. Zhalim Kepada Orang Lain
Selain zhalim kepada Allah, zhalim yang kedua adalah zhalim yang paling sering kita bicarakan, yaitu zhalim kepada orang lain alias menzhalimi orang lain. Bisa mengambil harta, nyawa, kehormatan, termasuk juga melakukan pengrusakan serta berbagai macam makar yang merugikan orang lain.
Dalam hal ini Al-Quran menyebut tentang orang yang berbuat zhalimi kepada sesama manusia.
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia. (QS. Asy-Syura : 42)
3. Zhalim Kepada Diri Sendiri
Zhalim yang ketiga adalah zhalim kepada diri sendiri. Kezhaliman ini banyak kurang disadari, padahal termasuk dilarang juga. Teknisnya antara lain dengan melakukan berbagai kemaksiatan, dosa dan hal-hal yang dilarang syariat. Semua itu zhalim karena dampaknya akan merugikan diri sendiri, baik di dunia ataupun nanti di akhirat.
Tentang orang yang melakukan kezhaliman kepada dirinya sendiri, ada ungkapannya dalam Al-Quran yaitu:
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Fathir : 32)
Namun dalam penggalan ini, justru yang disebutkan adalah bahwa Allah SWT tidak zhalim kepada alam semesta yaitu lil-‘alamin (لِلْعَالَمِينَ) artinya : pada semesta alam.
Penulis dalam beberapa kesempatan sering memaknai lafazh 'alamin (العالمين) bukan sekedar alam semesta, tetapi maksudnya umat manusia yang terdiri berbagai bangsa, ras, suku atau peradaban umat manusia yang berbeda-beda di alam semesta.
Dasarnya ketika Allah SWT menjadikan Bani Israil sebagai bangsa atau umat yang terbaik dibandingkan bangsa atau umat yang lain, Al-Quran menyebutnya dengan ungkapan al-‘alamin (العالمين).
Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (QS. Al-Baqarah : 47)
Hanya saja yang bikin penasaran serta menjadi pertanyaan disini, mengapa sampai disebutkan bahwa Allah SWT itu tidak menzhalimi alam semesta?
Boleh jadi karena ada semacam tuduhan dari pihak tertentu yang menuduh bahwa Allah SWT itu tidak adil dan berlaku zhalim. Dan yang paling mungkin menuduh seperti itu tidak lain adalah orang-orang kafir dari kalangan Yahudi. Mereka memang sangat mungkin berpikir demikian, karena mereka lah yang paling apes nasibnya.
Bukankah mereka dahulu merupakan bangsa yang paling banyak punya nabi serta kitab suci? Bukankah mereka disebut dalam Al-Quran sebagai bangsa yang paling diunggulkan dari semua bangsa yang lain? Bukankah mereka yang paling awal menantikan kedatangan Nabi Muhammad SAW?
Sayangnya begitu Nabi Muhammad SAW benar-benar diutus dengan membawa risalah dan kitab suci, justru orang-orang Yahudi justru malah jadi penentang sang nabi terakhir.
Disinilah boleh jadi mereka menuduh bahwa tidak berimannya mereka karena memang Allah SWT yang mentaqdirkan. Maka Allah SWT menegaskan bahwa Allah SWT tidak ingin menzhalimi.