Kemenag RI 2019:Tidak lain ucapan mereka kecuali doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, ) tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” Prof. Quraish Shihab:
Tidak ada ucapan mereka selain ucapan (doa); “Tuhan Pemelihara kami, ampunilah dosa-dosa kami dan (tindakan-tindakan) kami yang berlebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan menangkanlah kami atas kaum kafir.”
Prof. HAMKA:
Tidak lain ucapan mereka, selain, 'Ya Tuhan kami! Ampunilah kiranya dosa-dosa kami, pelanggaran-pelanggaran kami dalam hal-ihwal kami; tetapkanlah langkah kami dan tolonglah kami atas kaum yang kafir.’
Di ayat sebelumnya Allah SWT menceritakan kebaikan umat para nabi terdahulu yang digambarkan tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak pula menyerah kepada musuh.
Di ayat ke-147 ini giliran Allah SWT menceritakan kebaikan mereka dari sisi kekuatan ritual ibadah mereka, yaitu ketika mereka berdoa yang dijabarkan lafazhnya antara lain : minta ampun kepada Allah dari hal-hal yang berlebihan. Selain itu juga minta agar dikuatkan pendiriannya, serta minta ditolong dari kaum yang kafir.
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا
Lafazh wa maa kaana (وَمَا كَانَ) artinya : tidaklah. Kata qaulahum (قَوْلَهُمْ) artinya : perkataan mereka. Lafazh illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata an qaaluu (أَنْ قَالُوا) artinya : mereka berkata.
Ungkapan ini untuk mengisyaratkan bahwa mereka tidak menggerutu, tidak mengeluh, juga tidak ada ucapan penyesalan, termasuk juga tidak ada keraguan yang terlontar dari mereka.
Justru mereka banyak sekali berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT ketika menghadapi peran suci dalam rangka menegakkan kalimat Allah.
Lafazh rabbana (رَبَّنَا) artinya : Wahai Tuhan kami, namun Prof. Quriash Shihab menerjemahkannya tanpa kata ‘wahai’. Sebab teks aslinya memang tidak ada kata ya (يا) atau ayyuha (أيها). Sebab menurut beliau dengan tanpa menggunakan kata "ya" yang merupakan panggilan untuk yang jauh, justru mengisyaratan betapa dekatnya mereka dengan Allah.
Kata ighfirlana (اغْفِرْ لَنَا) artinya ampunilah kami. Kata dzunubana (ذُنُوبَنَا) artinya dosa-dosa kami, khususnya yang antara lain dapat menyebabkan kami menderita kekalahan atau tidak meraih sukses.
Huruf waw (وَ) bermakna : dan. Kata israfana (إِسْرَافَنَا) bermakna tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan. Kata fi amrina (فِي أَمْرِنَا) dalam urusan kami. Maksudnya optimisme yang berlebihan yang menjadikan kami tidak mempersiapkan diri menghadapi lawan.
وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا
Lafazh watsabbit (وَ ثَبِّتْ) artinya : dan kuatkan atau kokohkan. aqdamana (أقْدَامَنَا) artinya kaki-kaki kami.
Setelah berdoa menyangkut apa yang dapat mengakibatkan kegagalan, mereka berdoa menyangkut apa yang mengantar kepada keberhasilan.
Ungkapan kokohkan kaki tentu berisfat majazi, karena maksudnya agar tidak merasa takut menghadapi tantangan, tidak juga berubah motivasi dan tidak berpaling dari tujuan semula.
وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Huruf wawu (وَ) adalah isti’nafiyah yang bermakna : dan. Kata unshurna (انْصُرْنَا) bermakna : tolonglah kami. Huruf ‘ala (عَلَى) artinya atas atau dari. Sedangkan makna al-qaum al-kafirin (الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ) adalah kaum kafir.
Penggalan terakhir ini sangat tegas, yaitu perang yang dilakukan oleh para nabi dan para pengikut setia mereka tidak pernah dilakukan kecuali hanya kepada orang-orang kafir.
Termasuk sekian banyak perang yang Nabi Muhammad SAW bersama para shahabat mulia, adalah perang agama dalam artinya melawan orang kafir.
Tidak pernah ada satu pun kejadian perang melawan dengan sesama kaum muslim, baik di masa kenabian Muhammad SAW dan masa para nabi di masa lalu.
Sedangkan umumnya perang yang melibatkat umat Islam di hari ini, kebanyakannya justru perang saudara, dimana nyawa manusia yang mereka renggut ternyata bukan nyawa orang kafir, justru mereka adalah sesama penyembah Allah SWT, sesama orang yang beriman kepada agama yang dibawa oleh Nabi SAW.