Kemenag RI 2019:Allah tidak akan membiarkan orang-orang mukmin dalam keadaan sebagaimana kamu sekarang ini, ) (tetapi Allah akan mengujinya) sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik. ) Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, ) tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya. ) Oleh karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman dan bertakwa, kamu akan mendapat pahala yang sangat besar. Prof. Quraish Shihab:
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang mukmin sebagaimana keadaan kamu selama ini (berbaur dan menyatu dengan orang-orang munafik), sehingga Dia membedakan yang buruk (orang-orang munafik) dari yang baik (orang-orang mukmin yang mantap imannya). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya dari para rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan para rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu pahala yang sangat besar.
Prof. HAMKA:
Tidaklah Allah akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan seperti keadaan kamu (saja), sampai Dia sisihkan antara yang buruk dengan yang baik. Dan tidaklah Allah akan memperlihatkan perkara yang gaib kepada kamu. Akan tetapi Allah memilih rasul-rasul-Nya barangsiapa yang Dia kehendaki. Sebab itu, percayalah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, untuk kamu pahala yang besar.
Ayat ke-179 ini masih kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang bicara dalam rangkaian kisah Perang Uhud. Allah SWT memberitahukan bahwa keadaan-keadaan yang terjadi dalam peristiwa tersebut, seperti pembunuhan dan kekalahan, kemudian seruan Nabi SAW kepada mereka, meskipun mereka terluka untuk keluar mengejar musuh, kemudian seruan beliau kepada mereka sekali lagi untuk pergi ke Hamraul Asad pada janji Abu Sufyan.
Allah SWT memberitahukan bahwa semua keadaan ini menjadi bukti yang jelas perbedaan antara orang beriman dan orang munafik, dimana orang-orang munafik dikenal sebagai kalangan takut dan kembali pulang serta merasa senang dengan banyaknya korban di antara kalian. Mereka juga mencoba menghalangi dan menjauhkan orang-orang beriman dari kembali berjihad.
Allah SWT memberitahukan bahwa dalam hikmah-Nya tidaklah mungkin membiarkan kalian dalam keadaan seperti ini, dimana orang-orang munafik bercampur dengan mereka yang imannya benar-benar serius. Untuk itu haruslah terjadi peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian ini hingga terbukti perbedaan tersebut.
Terkait dengan latar belakang turunnya ayat ini, Al-Qurtubi menuliskan dalam tafsir Al-Jami’ li-Ahkam Al-Quran[1] riwayat dari Abu Al-Aliyah bahwa kaum muslimin yaitu para shahabat meminta penjelasan kepada Nabi SAW tentang hal-hal yang bisa dijadikan identitas siapa yang termasuk munafik di tengah mereka. Maka Allah SWT turunkan ayat ini.
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
Lafazh maa kaanallahu (مَا كَانَ اللَّهُ) artinya : Tidak lah Allah. Kata li-yadzara (لِيَذَرَ) terdiri dari huruf lam (لِــ) yang artinya untuk. Sedangkan kata yadzara (يَذَرَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ yang maknanya : membiarkan. Yang menjadi objek atau maf’ul bihi adalah al-mu’minina (الْمُؤْمِنِينَ) artinya orang-orang mukmin, yaitu para shahabat nabi, khususnya mereka yang ikut dalam Perang Uhud dan mengalami kekalahan.
Ungkapan ‘alaa maa antum ‘alaihi (عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ) diterjemahkan menjadi : “sebagaimana keadaan kamu selama ini”. Prof. Quraish Shihab menambahkan dalam terjemahanya di dalam kurung (berbaur dan menyatu dengan orang-orang munafik)”.
Ayat ini dimulai dengan penggalan yang menegaskan bahwa tidak mungkin Allah SWT membiarkan kaum muslimin para shahabat nabi yang setia, terus menerus disusupi oleh keberadaan mereka yang berpura-pura masuk Islam, padahal hati mereka sama sekali tidak pernah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, alias orang-orang munafik.
Karena keberadaan kalangan munafik di tengah mereka ibarat duri dalam daging, yang kerjaannya suka menohok kawan seiring, menggunting dalam lipatan dan menyalip di tikungan. Ibarat kerikil di dalam sepatu, sangat mengganggu bahkan amat menyakitkan.
Untuk itu maka dijalankan berbagai macam skenario samawi yang pada akhirnya akan menampakkan perbedaan yang teramat jelas antara mereka yang benar-benar beriman dengan mereka yang munafik.
حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ
Lafazh hatta (حَتَّىٰ) artinya : sampai dengan atau sehingga. Lafazh yamiza (يَمِيزَ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’, artinya : membedakan.
Kata al-khabitsa (الْخَبِيثَ) artinya : buruk atau keji, namun yang dimaksud dalam hal ini adalah orang-orang munafik. Kata min (مِنَ) artinya dari. Kata at-thayyib (الطَّيِّبِ) artinya : baik, namun dalam hal ini maksudnya orang-orang yang benar dalam imannya.
Ayat ini punya kembaran yang sangat mirip bahkan identik dengan ayat lain, yaitu surat Al-Anfal ayat 37.
supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al-Anfal : 37)
Kata al-khabits (الْخَبِيثَ) dan lawannya thayyib juga digunakan di dalam ayat lain yang dikaitkan dengan orang yang melakukan dosa zina. Perbuatannya disebut kekejian.
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik.(QS. An-Nur : 26)
Fakhruddin Ar-Razi menuliskan dalam tafsir Mafatih Al-Ghaibi[1]perbedaan pendapat di tengah para ulama tentang bagaimana cara Allah SWT membedakan antara kaum mukimini dan kaum munafik, antara lain :
Pertama, dengan menimpakan cobaan, musibah, pembunuhan, dan kekalahan. Maka siapa yang beriman akan tetap teguh dalam keimanannya dan membenarkan Rasul ﷺ, sedangkan siapa yang munafik akan tampak kemunafikan dan kekafirannya.
Kedua, Allah berjanji untuk menolong orang-orang beriman dan menghinakan orang-orang kafir. Ketika Islam semakin kuat dan kekuasaannya semakin besar, kekafiran dan pengikutnya menjadi hina, dan pada saat itulah terjadi perbedaan tersebut.
Ketiga, tanda-tanda yang menunjukkan hal itu, seperti kaum muslimin yang bergembira dengan kemenangan Islam dan kekuatannya, sedangkan kaum munafik merasa sedih karena hal tersebut.
Lafazh wa maa kaana (وَمَا كَانَ). Allah (اللَّهُ). li-yuthli’a-kum (لِيُطْلِعَكُمْ). ‘ala al-ghaibi (عَلَى الْغَيْبِ).
Allah SWT tidak mungkin memberikan petunjuk siapa yang munafik dan siapa yang tidak dengan cara yang ghaib alias lewat wahyu. Sebab bila informasi datangnya lewat wahyu, selain tidak mendidik, juga tidak ada pembuktian yang bisa dipahami oleh semua pihak.
Maka yang Allah SWT lakukan adalah cara pembuktian yang bersifat kasat mata, yaitu dengan dengan cara Allah memperlihatkan fakta-fakta yang nampak nyata dan pastinya tidak bisa dibantah lagi.
Tidak layak bila Nabi SAW mengatakan bahwa si fulan adalah munafik dan si fulan adalah mukmin, atau si fulan adalah ahli surga dan si fulan adalah ahli neraka. Sunnatullah yang berlaku di masa kenabian Muhammad SAW berbeda dengan cara-cara yang Allah SWT berlakukan kepada para nabi dan umat terdahulu.
Di era kenabian Muhammad SAW, Allah tidak lagi memperlihatkan perkara yang ghaib kepada umat manusia, tetapi pembuktian dilakukan melalui serangkaian ujian, cobaan dan beragam bentuk musibah. Dari situ nanti dengan mudah langsung ketahuan dengan jelas siapa yang yang setia dan siapa yang munafik.
Lafazh wa laakin (وَلَٰكِنَّ) artinya : akan tetapi. Kata Allahuyajtabi (اللَّهَ يَجْتَبِي) artinya : Allah memilih. Kata min rusulihi (مِنْ رُسُلِهِ) artinya : sebagian dari para rasul utusan-Nya. Kata man yasyaa’u (مَنْ يَشَاءُ) artinya : siapa yang Dia kehendaki.
Dalam hal ini para ulama berbeda-beda pandangan tentang apa maksud dan pengertian dari penggalan ini. Sebagian ada yang mengatakan bahwa maksud penggalan ini bahwa :
Bahwa Allah memilih siapa yang Dia kehendaki dari rasul-rasul-Nya, lalu memberikan mereka pengetahuan bahwa ini adalah mukmin dan ini adalah munafik.
Bahwa Allah memilih siapa yang Dia kehendaki dari rasul-rasul-Nya lalu menguji hamba-hamba-Nya dengan syariat melalui tangan para rasul tersebut, sehingga akhirnya perbedaan yang mukmin dan munafik dapat dibedakan melalui ujian tersebut.
Bahwa Allah sekali-kali tidak akan menjadikan kalian semua mengetahui perkara yang ghaib seperti halnya Dia memberitahukan kepada rasul. Sehingga kalian menjadi tidak membutuhkan rasul, tetapi Allah mengkhususkan siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dengan risalah, kemudian membebankan kepada yang lainnya untuk taat kepada para rasul tersebut.
فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ
Lafazh fa-aaminu (فَآمِنُوا) terdiri dari huruf fa (فَ) yang maknanya : maka. Sedangkan kata aaminu (آمِنُوا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il amar yang merupakan perintah untuk melakukan iman. Diterjemahkan menjadi : berimanlah. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : kepada Allah. Sedangkan makna wa rusulihi (وَرُسُلِهِ) adalah : dan para rasul-Nya, namun dalam konteks ketika ayat ini turun, semua rasul itu sudah tidak ada, yang ada hanya Nabi Muhammad SAW.
Perintah ini nampaknya lebih tepat bila diarahkan kepada kaum kafir yang memang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
Namun banyak kalangan mufassir yang cenderung mengatakan lebih tepatnya khitab ini ditujukan kepada kalangan munafikin. Alasannya karena munasbah dan siyaq ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan bahwa yang sedang dibicarakan memang kaum munafikin. Dan alasan lainnya karena mereka selama ini hanya berpura-pura beriman, sedangkan isi hati dan keyakinan mereka belum lagi mengimani Allah dan rasul-Nya.
Namun sebagian kalangan mengatakan bahwa perintah beriman kepada Allah dan rasul-Nya tidak mengapa bila diarahkan kepada kaum muslimin yang nota bene sudah beriman. Sebab pesan untuk beriman itu sifatnya berlaku universal, tidak hanya kepada yang belum beriman, tetapi kepada yang sudah beriman pun tetap harus diwasiatkan. Tentu jenisnya adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas iman itu sendiri.
Lafazh wa in (وَإِنْ). Lafaz tu’minu (تُؤْمِنُوا) artinya : kamu beriman. Lafazh wa tattaqu (وَتَتَّقُوا) artinya : dan bertaqwa. Keduanya menjadi satu bagian utuh yang tidak terpisahkan, yaitu iman dan taqwa. Iman sebagai landasan dasar, sedang taqwa menjadi landasan dalam pelaksaan, yaitu takut melanggar apa-apa yang telah Allah tetapkan.
Kata fa-la-kum (فَلَكُمْ) artinya : maka kalian mendapatkan atau menerima. Lafazh ajrun azhim (أَجْرٌ عَظِيمٌ) artinya : pahala yang besar.
Penggalan terakhir yang menjadi penutup ayat ini menegaskan bahwa bila mereka beriman kepada Allah dan bertaqwa, maka dipastikan nanti di surga akan mendapatkan pahala yang besar.