Wahai, Tuhan kami! Sesungguhnya, Engkaulah yang akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak diragukan lagi padanya." Sesungguhnya, Allah tidaklah menyalahi janji.
Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhanya Engkau tidak menyalahi janji.
Lafazh rabbana (رَبَّنَا) adalah sapaan kepada Allah SWT. Lafazh innaka (اِنَّكَ) bermakna : sesungguhnya Engkaulah. Sedangkan makna jamiun-nas (جَامِعُالنَّاسِ) artinya Tuhan yang mengumpulkan seluruh manusia.
Boleh jadi yang dimaksud adalah kejadian di hari kiamat dimana seluruh manusia sejak dari zaman Nabi Adam alaihimsalaam hingga manusia terakhir yang hidup di hari kiamat dikumpulkan di Mahsyar. Saat dikumpulkan itu mereka masih belum dihisab, sehingga belum lagi menempati surga atau neraka.
Padang Mahsyar adalah tempat dimana semua makhluk Allah, baik manusia, jin, malaikat, dan binatang, berkumpul setelah dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat. Padang Mahsyar digambarkan sebagai tanah yang sangat luas dan datar, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, seperti gunung, sungai, atau tanaman. Matahari akan berada tepat di atas kepala manusia, sehingga mereka akan merasakan panas yang sangat terik.
Di Padang Mahsyar, manusia akan menunggu keputusan Allah tentang amal perbuatannya selama di dunia. Mereka akan dikumpulkan berdasarkan derajatnya masing-masing. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan berada di tempat yang dekat dengan Allah, sedangkan orang-orang yang kafir dan durhaka akan berada di tempat yang jauh dari Allah.
Ada beberapa peristiwa yang akan terjadi di Padang Mahsyar, di antaranya:
· Tiupan sangkakala kedua
· Perhitungan amal perbuatan
· Penimbangan amal perbuatan
· Penyeberangan shirath
· Penyerahan buku catatan amal
· Ketetapan surga atau neraka
Padang Mahsyar adalah tempat yang sangat penting bagi setiap manusia. Di tempat ini, manusia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama di dunia. Oleh karena itu, setiap manusia harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah.
Makna li-yaumin (لِيَوْمٍ) adalah pada hari, sedangkan makna laa raiba fihi (لَارَيْبَفِيْهِ) artinya : yang tidak ada keraguan padanya. Maksudnya hari dimana seluruh makhluk Allah SWT dikumpulkan itu adalah sesuatu yang diimani secara mendasar, sehingga tidak ada satupun yang meragukan akan terjadinya hal itu nanti.
Setidaknya pada penggalan ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa kejadian itu adalah hal yang pasti, tidak perlu diragukan lagi. Memang boleh jadi kalangan yang tidak beriman akan mengingkarinya. Jangankan peristiwa Mahsyar, bahkan akan terjadinya hari kiamat pun mereka ingkari.
Lafazh innallah (اِنَّاللّٰهَ) bermakna : sesungguhnya Allah. Sedangkan makna laa yukhlifu (لَايُخْلِفُ) artinya : tidak akan menyalahi, sedangkan makna al-mi'ad (الْمِيْعَادَ) artinya janji.
Bagian ini nampaknya sudah bukan bagian dari doa yang dipanjatkan. Bagian ini adalah firman Allah SWT yang intinya seperti menjawab doa tersebut bahwa Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.