Kemenag RI 2019:(Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung ) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? (Ketahuilah) sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah. Prof. Quraish Shihab:(Yaitu) mereka yang menjadikan orang-orang kafir sebagai para wali (teman akrab, pembela atau pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi mereka? Karena sesungguhnya kekuatan itu milik Allah semua. Prof. HAMKA:(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir jadi pemimpin-pemimpin, yang bukan dari orang-orang beriman. Apakah mereka hendak mencari kemuliaan dari sisi mereka itu? Padahal sesungguhnya kemuliaan itu adalah bagi Allah belaka.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : mereka yang. Kata yattakhidzuna (يَتَّخِذُونَ) artinya : mengambil, atau bisa juga bermakna : menjadikan. Kata al-kafirina (الْكَافِرِينَ) artinya : orang-orang kafir. Posisinya dalam struktur kalimat menjadi maf’ul bihi atau objek pertama.
Sedangkan objek keduanya adalah kata auliya’ (أَوْلِيَاءَ) yang punya banyak makna. Lafazh ini tersebar di banyak ayat Al-Quran dengan berbagai macam makna yang boleh jadi masing-masing saling berbeda.
1. Raja Atau Pemimpin
Dalam beberapa ayat bisa bermakna pemimpin dalam arti raja atau pemimpin negara, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini :
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (QS. Al-Araf : 3)
2. Teman
Terkadang lafaz wali di dalam Al-Quran bisa juga bermakna teman, sebagaimana yang bisa kita baca di ayat berikut :
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kawan-kawannya (QS. Ali Imran : 175)
Terjemahan Kemenag ini tegas menyebutkan bahwa ‘auliya’ di ayat ini maknanya bukan pemimpin, tetapi teman-teman. Logikanya, setan itu menakuti manusia dan bukan menakuti sesama setan, apalagi menakuti pemimpin setan. Yang dibikin takut itu pastinya manusia, yang posisinya sebagai teman setan dan bukan sebagai pemimpin dari setan.
3. Orang Yang Dekat Hubungan
Kadang ‘wali’ itu bermakna sebagai pihak yang punya kedekatan khusus, seperti sebutan waliyullah atau auliya’ullah pada ayat berikut :
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus : 62)
Sangat tidak mungkin kalau lafazh ‘wali’ di ayat ini kita paksa terjemahkan menjadi : pemimpin Allah. Jelas terlalu kasar dan tidak logis, masak manusia memimpin Allah? Tentu yang dimaksud dengan istilah ‘wali’ disini pastinya bukan pemimpin, tetapi orang-orang yang kedudukannya sangat dekat kepada Allah, yaitu para wali.
4. Bertindak Sebagai Orang Tua
Dan terkadang makna wali dalam Al-Quran juga bisa bermakna sebagai wakil atau yang bertindak sebagai orang tua dari seorang anak kecil yang belum mencapai usia dewasa. Perhatikan ayat berikut ini yang juga merupakan ayat yang paling panjang dalam Al-Quran :
فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ
Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. (QS. Al-Baqarah : 282)
Lafazh wali dalam ayat ini tidak mungkin diterjemahkan sebagai wali dalam arti raja atau pemimpin, apalagi sebagai pemimpin atau kepala negara. Tapi wali disini sebagaimana kita mengenal istilah ‘wali’ murid, yaitu seperti layaknya orang tua sendiri.
Untuk bisa membedakan kapan lafazh wali itu maknanya sebagai pemimpin, teman, yang dekat hubungannya ataupun layaknya orang tua, setidaknya perlu dibaca ulang tafsir dan asbabun-nuzul dari masing-masing ayatnya. Sebab meski satu kata yang sama, begitu posisinya ada di ayat yang berbeda, seringkali maknanya ikut jadi berbeda.
Dengan berbagai macam variasi makna di atas, kalau kita kaitkan dengan ayat ini, maka yang paling sesuai terkait dengan makna wali di ayat ini adalah wali dalam arti sebagai teman atau orang terdekat, termasuk juga bermakna penolong atau sebagai pemimpin.
مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
Kata min duni (مِنْ دُونِ) artinya : selain. Kata al-mu’minin (الْمُؤْمِنِينَ) artinya : orang-orang yang beriman.
Maksudnya, loyalitas orang-orang munafik itu tidak kepada kaum muslimin, tetapi justru kepada orang-orang kafir. Yang dimaksud orang kafir adalah kelompok Yahudi yang memberikan mereka janji dan berbagai fasilitas di dunia.
Sedangkan kepada kaum muslimin, orang-orang munafik tidak pernah memberikan loyalitas apalagi kesetiaan. Mereka hanya berpenampilan seperti orang Islam, tapi hati mereka kepada orang kafir.
Tentu motifasinya jelas, yaitu ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi di mata kaum Yahudi. Sebab secara teknis, kelompok Yahudi merupakan kalangan konglomerat di Madinah. Mereka yang kuasai sumber-sumber kekayaan yang melimpah ruah di Madinah.
Sedangkan kaum muslimin di masa itu kere, tidak punya apa-apa. Sangat tidak layak untuk diharapkan kehidupan dunianya.
أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ
Kata a-yabtaghuna (أَيَبْتَغُونَ) terdiri dari huruf alif atau hamzah yang merupakan istifhamiyah, yaitu pertanyaan yang bersifat retoris : apakah. Kata yabtaghuna (َبْتَغُونَ) artinya : mencari. Kata indahum (عِنْدَهُمُ) artinya : pada mereka. Sedangkan kata al-‘izzah (الْعِزَّةَ) artinya : kekuatan atau kemuliaan.
Fakhruddin Ar-Razi dengan mengutip pendapat Al-Wahidi di dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib menuliskan bahwa makna dasar ‘izzah dalam bahasa Arab adalah asy-syiddah (الشدّة) yang bermakna padat dan kuat. Oleh sebab itu, tanah yang keras dan padat disebut ‘azaz (عزاز).
Juga dikatakan: qad ista‘azza al-marad ‘ala al-marīd (قَدِ اسْتَعَزَّ المَرَضُ عَلى المَرِيضِ) yang berarti penyakit itu semakin berat pada orang sakit, yaitu ketika penyakitnya parah dan hampir membinasakannya.
Makna ‘izzah adalah kekuatan yang diambil dari pengertian kekerasan, karena keduanya memiliki makna yang berdekatan. Sedangkan al-‘azīz adalah orang yang kuat dan tangguh, berbeda dengan orang yang hina.
Maka makna penggalan ayat ini menegaskan bahwa orang-orang munafik mencari kemuliaan dan kekuatan melalui hubungan mereka dengan orang-orang Yahudi. Kemudian Allah SWT membatalkan anggapan mereka ini dengan firman-Nya:
“Maka sesungguhnya kemuliaan itu milik Allah seluruhnya.”
فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
Kata fa-inna (فَإِنَّ) artinya : maka sesungguhnya. Kata al-‘izzah (الْعِزَّةَ) artinya : kekuatan atau kemuliaan. Kata lillahi (لِلَّهِ) artinya : milik Allah. Kata jamian (جَمِيعًا) artinya : semuanya.
Dikatakan bahwa izzah itu semuanya milik Allah SWT. Itulah fakta yang paling hakikinya, meskipun di ayat lain ada juga pernyataan bahwa izzah itu juga dimiliki oleh Rasul-Nya serta juga dimiliki oleh orang-orang beriman.
ولِلَّهِ العِزَّةُ ولِرَسُولِهِ ولِلْمُؤْمِنِينَ
Dan izzah itu milik Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman (QS. Al-Munafikun : 8)
Memang sekilas jadi terkesan kontradiktif, sebab pada penggalan ayat ini, justru ada penagasan bahwa izzah itu milik Allah secara jami’an (جَمِيعًا) yang berarti semuanya. Lalu mana yang benar dari kedua ayat itu?
Jawabannya pada dasarnya izzah itu memang hanya milik Allah SWT semata dan semuanya. Namun bisa saja kalau mau Allah kehendaki, Dia share atau berbagi izzah itu kepada Rasul-Nya, bahkan kepada orang-orang beriman.
Ibarat matahari dan bulan, yang punya sumber cahaya hanya matahari, sedangkan bulan tidak punya sumber cahaya. Lantas dari manakah kita melihat bulan jadi terang bahkan purnama?
Jawabannya itu adalah pantulan cahaya matahari yang terkena pada permukaan bulan. Saking kuatnya cahaya matahari itu, sampai-sampai terkesan bulan pun punya cahaya sendiri. Padahal di bagian yang tidak terkena cahaya matahari, permukaan bulan pun gelap gulita. Itulah mengapa kita sering melihat bulan sabit, tetapi tidak pernah melihat matahari sabit. Dasarnya karena seluruh permukaan matahari adalah sumber cahaya, sedangkan permukaan bulan bisa bercahaya, selama ada cahaya matahari yang jatuh padanya.
Namun begitu, karena bulan itu beruwujud seperti bola, maka selalunya hanya sebagian saja yang akan terkena sinar matahari. Sebagian yang lain tunggu giliran. Oleh karena itu bisa kita katakan bahwa : cahaya itu semuanya milik matahari.
Sebagaimana kita katakan bahwa izzah itu semuanya milik Allah. Kalaupun rasul-Nya ikut punya izzah, itu hanya pantulan dari izzah Allah SWT. Dan begitu juga bila orang-orang beriman ikut punya izzah, itu karena pantulan dari izzah yang aslinya milik Allah SWT.
Dan lucunya, orang-orang munafik malah mencari izzah dari selain Allah. Malah carinya ke orang-orang kafir. Padahal orang kafir tidak punya izzah.
Ibarat kita ingin dapat cahaya, bukannya berharap dari matahari, malah dari planet yang tidak punya cahaya. Bahkan planet itu sendiri tidak menghasilkan cahaya. Kalau nampak bercahaya, cahayanya dari matahari. Semakin jauh jarak planet itu dari matahari, semakin reduplah cahaya mataharinya. Apalagi bila ternyata planet itu dipecat karena tidak setia kepada matahari, seperti Pluto. Kita tidak pernah dapat penerangan di bumi dari cahaya Pluto yang sekarang sudah tidak lagi diakui sebagai planet anggota tata surya.