Kemenag RI 2019:Kecuali, orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, ) berpegang teguh pada (agama) Allah, dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah, mereka itu bersama orang-orang mukmin. Kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang mukmin. Prof. Quraish Shihab:Kecuali, orang-orang yang telah bertaubat dengan menyesali dan meninggalkan kemunafikan mereka, serta telah mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada agama Allah dengan tulus ikhlas mengerjakan ajaran agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama orang-orang mukmin, dan kelak Allah memberikan pahala yang sangat besar kepada orang-orang mukmin. Prof. HAMKA:Kecuali orang-orang yang telah tobat, memperbaiki diri, berpegang teguh dengan Allah, dan mengikhlaskan agama mereka kepada Allah. Maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang beriman. Dan Allah akan memberikan ganjaran yang besar kepada orang-orang yang beriman.
Sebab biar bagaimanapun juga kerasnya ancaman Allah atas jiwa yang sesat karena tindakan sendiri, pintu untuk kembali kepada jalan yang benar tetap terbuka. Allah lebih mengetahui tentang jiwa manusia. Manusia tersesat karena mengikuti kelemahan jiwa, namun dalam jiwa tersebut tetap ada kekuatan yang selalu menyanggah kesalahan-kesalahannya sendiri. Dalam diri manusia selalu ada peperangan antara nafsu jahat dan cita-cita yang baik.
Oleh karena itu, ayat-ayat ancaman keras selalu diikuti oleh ayat yang mengajak hamba-Nya untuk kembali kepada jalan yang benar. Hati sanubari yang suci bersih itu diketuk oleh Allah untuk bertaubat. Ini dapat kita lihat dalam ayat sambungannya.
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا
Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata alladzina tabu (الَّذِينَ تَابُوا) artinya : orang-orang yang melakukan perbuatan taubat.
Taubat yang dimaksud tidak lain adalah berhenti dari bertindak-tanduk sebagai orang munafik. Khususnya membocorkan rahasia kaum muslimin kepada orang kafir dan juga suka menebar tuduhan serta berbagai macam purbasangka di tengah-tengah kaum muslimin.
Kata taubat sudah jadi unsur serapan dalam Bahasa Indonesia, maka cukup diartikan menjadi taubat saja, semua orang sudah paham apa yang dimaksud dengan taubat. Namun para ulama mendefinisikan taubat dalam bahasa Arab adalah ar-ruju’ (الرجوع) yaitu kembali. Maksudnya kembali dari dosa-dosa kepada yang benar.
Dan secara istilah di dalam kitab Kifayah At-Thalib Ar-Rabbani dan juga kitab Lisanul Arab, taubah itu didefinisikan sebagai :
Kembali dari berbagai perbuatan yang tercela kepada perbuatan yang terpuji secara syariah.
Fungsi dan tujuan dari taubat itu adalah menutup kesalahan-kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan, serta agar bisa masuk ke dalam surga. Selain itu secara khusus, ritual bertaubat itu sendiri pada dasarnya sebuah amal ibadah khusus yang Allah SWT perintahkan dalam kitab-Nya.
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS. At-Tahrim : 8)
Salah satu tehnik dalam bertaubat adalah membebaskan budak serta membayar diyat atau denda, khususnya dalam kasus pembunuhan keliru. Dan memang begitulah pada umumnya suatu pertaubatan, harus ada suatu pemberian yang secara umum termasuk shadaqah yang bermanfaat kepada orang lain.
Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima sedekah-sedekah dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (QS. At-Taubah : 104)
Selain itu taubat itu seharusnya dan idealnya dilakukan sesegera mungkin, bukan ditunda-tunda waktunya. Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa : 17)
وَأَصْلَحُوا
Kata wa ashlahu (وَأَصْلَحُوا) artinya : memperbaiki diri.
Prof. Quraish Shihab mengatakan bahwa maknanya adalah mengadakan perbaikan menyangkut amal-amal mereka, antara lain shalat yang selama ini mereka lakukan dengan malas dan pamrih.
Menurut hemat Penulis, disyaratkan kepada orang-orang munafik dengan ungkapan wa ashlahu (وَأَصْلَحُوا) tidak lain adalah memperbaiki semua hal yang mereka akibatkan selama menjadi orang-orang munafik. Khusunya ketika mereka suka bikin kegaduhan di tengah kaum muslimin, menebar isu, makar, serta suka mengadu domba sesama kaum muslimin.
Dan hal paling utama yang harus mereka lakukan adalah berhenti dari bermuka dua dan tidak lagi jadi orang yang oportunis, sebagaimana yang disebutkan pada ayat sebelumnya yaitu :
Mereka (orang-orang munafik) dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tidak termasuk golongan (orang beriman) ini dan tidak (pula) golongan (orang kafir) itu
وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ
Kata wa’-tashamu (وَاعْتَصَمُوا) artinya : berpegang teguh. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : pada Allah.
Asal kata (َاعْتَصَمُوا) adalah (اعتصم - يعتصم), sedangkan maknanya secara bahasa adalah thalabul ‘ishmah (طلب العصمة) dan artinya : menuntut perlindungan. Namun tiga versi terjemahan kompak memaknainya dengan :”berpegang teguh”.
Maksud berpegang pada Allah adalah memeluk agama Islam dan tidak melepaskannya.
وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ
Kata wa akhlashu (وَأَخْلَصُوا) artinya : dan memurnikan. Kata dinahum (دِينَهُمْ) artinya : agama mereka. Kata lillah (لِلَّهِ) artinya : untuk Allah.
Terjemahan Kemenag adalah : “dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah”. Sedangkan Prof. Quraish Shihab menuliskan maknanya adalah bersungguh-sungguh menghubungkan diri dengan Allah swt. dan tulus ikhlas mengerjakan ajaran agama mereka karena Allah dan bukan karena riya.
Abu Tsumamah meriwayatkan bahwa para pengikut Nabi Isa yaitu para hawariyun pernah bertanya kepada Beliau :
"Wahai Ruhullah, siapakah yang dimaksud dengan orang yang ikhlas kepada Allah?" Nabi Isa menjawab, "Dia adalah orang yang beramal hanya untuk Allah SWT dan tidak suka jika manusia memujinya karena amal tersebut.
فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ
Kata fa ulaaika (فَأُولَٰئِكَ) artinya : maka mereka. Kata ma’a (مَعَ) artinya : bersama. Kata al-mu’minin (الْمُؤْمِنِينَ) artinya : orang-orang mukmin.
Yang dimaksud dengan mereka bersama dengan orang-orang mukmin alias beriman sebenarnya sebuah pernyataan tentang kepastian mereka masuk ke dalam surga. Karena surga itu hanya dihuni oleh orang-orang beriman saja.
وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ
Kata saufa (وَسَوْفَ) artinya : nanti atau kelak. Menunjukkan waktu yang akan datang dan masih agak jauh. Sebab yang dimaksud adalah nanti dalam kehidupan alam akhirat.
Kata yu’tillah (يُؤْتِ اللَّهُ) artinya Allah memberikan kepada. Kata al-mu’minin (الْمُؤْمِنِينَ) artinya : orang-orang mukmin.
أَجْرًا عَظِيمًا
Kata ajran (أَجْرًا) artinya : balasan atau pahala. Kata ‘azhima (عَظِيمًا) artinya : sangat besar.
Maka bisa jadi balasan dari Allah SWT sangat tidak setimpal, maksudnya bukan lebih kecil tetapi jauh lebih besar berkali-kali besarnya dari yang telah diupayakan.
Ibarat pedagang kaya raya, ketika kita beli barang darinya, bukan hanya dia kasih murah harganya, tetapi kita malah diberi hadiah yang jauh lebih besar. Ibarat beli kulkas berhadiah umrah untuk dua orang. Padahal harga kulkas hanya 5 juta, tetapi bonus hadiahnya malah puluhan juta nilainya.
Dan buat Allah SWT, sekedar memberi bonus yang besar-besar pastinya tidak akan rugi. Berbeda dengan hadiah promosi, yang diberi hadiah umrah hanya pemenang undian saja. Sedangkan Allah SWT, sama sekali tidak rugi meskipun semua pembeli diberi hadiah yang nilainya puluhan kali dari nilai pembelian.
Di Al-Quran bertabur ayat-ayat yang menunjukkan betapa Allah SWT seringkali melipat-gandakan pahala kepada hamba-Nya.
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqarah : 245)
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 261)
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS. An-Nisa : 40)
Abu Hayyan dalam tafsir Al-Bahru Al-Muhith fi At-Tafsir[1] menuliskan bahwa yang dimaksud dengan ajran azhima (أَجْرًا عَظِيمًا) adalah kekalnya mereka di dalam surga.
Salah satu indikatornya adalah gara-gara ingin hidup abadi di surga itulah dahulu Nabi Adam alaihissalam dan istrinya sampai mau memakan buah khuldi alias buah keabadian. Walaupun sebenarnya itu hanya tipu daya Iblis saja. Sebab pada akhirnya Nabi Adam dan istrinya tidak hidup abadi.
Namun kepada orang-orang yang dijanjikan masuk surga, ada janji dari Allah SWT tentang keabadian hidup dalam surga.