Kemenag RI 2019:Allah berfirman, “Ini adalah hari yang kebenaran orang-orang yang benar bermanfaat bagi mereka. Bagi merekalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” Prof. Quraish Shihab:Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi ash-shiddiqin (orang-orang yang selalu benar dan jujur, atas) kebenaran dan kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha pada mereka dan mereka (pun) ridha pada-Nya. Itulah keberuntungan yang sangat besar." Prof. HAMKA:Berfirman Allah, “Inilah hari yang akan memberi manfaat kepada orang-orang yang benar, kebenaran mereka. Untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai, hal keadaan kekal mereka di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Yang demikian itulah kemenangan yang besar.”
Ketika Isa berkata, "Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,” Beliau menunjukkan bahwa nasib semua makhluk sepenuhnya di tangan Allah. Tidak ada makhluk, bahkan seorang nabi sekalipun, yang memiliki hak untuk menentukan nasib hamba-hamba lain di hadapan Tuhan.
Ayat ini juga mengukuhkan sifat Allah sebagai Al-Aziz (Maha Perkasa) dalam kuasa-Nya, dan Al-Hakim (Maha Bijaksana) dalam setiap keputusan-Nya. Ini adalah penegasan final tentang kedaulatan mutlak Allah dalam menentukan pengampunan atau siksaan, sebuah pesan inti tauhid yang menekankan bahwa hanya Allah yang berhak atas segala sesuatu.
Kata qaala (قَالَ) artinya : berfirman. Kata allaahu (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata haadzaa (هَٰذَا) artinya : inilah. Kata yaum (يَوْمُ) artinya : hari. Kata yanfa‘u (يَنْفَعُ) artinya : berguna atau memberi manfaat.
Kata ash-shaadiqiina (الصَّادِقِينَ) berasal dari kata (صّدّقّ - يّصْدُقُ) yang berarti jujur atau berkata benar. Lawan dari dusta atau berkata keliru, pelakunya disebut shadiq (صَادِق) dan kalau jumlahnya banyak menjadi shadiqin (صَادِقين). Artinya adalah orang-orang yang jujur atau orang-orang yang benar dalam perkataannya. Kata sidquhum (صِدْقُهُمْ) artinya : kejujuran mereka.
Kata ash-shaadiqiina (الصَّادِقِينَ) itu sering diterjemahkan menjadi : orang-orang yang membenarkan. Padahal sebenarnya kalau maksudnya : orang-orang yang membenarkan, sebutannya adalah mushaddiqin (المُصَدِّقِينَ). Memang keduanya berasal dari akar kata (صدق) yang berkaitan dengan kebenaran, tetapi memiliki makna dan penggunaan yang berbeda dalam bahasa Arab dan Al-Qur’an.
Tentu tidak sama dengan konsep : ’membenarkan kenabian’ yang sebutannya adalah mushaddiqin (المُصَدِّقِينَ). Kata ini lebih spesifik menunjukkan orang-orang yang menerima, membenarkan, dan menguatkan kebenaran sesuatu yang disampaikan, seperti membenarkan kenabian, wahyu, atau berita kebenaran.
Kata ash-shaadiqiina (الصَّادِقِينَ) adalah orang-orang yang jujur dalam mengimani Allah dan jujur juga dalam mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa alaihissalam.
Lalu kenapa mereka dibilang orang jujur? Kenapa bukan ’orang yang membenarkan kenabian’?
Menurut hemat Penulis pribadi, wallahu a’lam, bisa benar bisa tidak, bahwa dalam kasus umat Nabi Isa ’alaihissalam, sepeninggalnya banyak dari umatnya yang mengalami penyiksaan dan pembunuhan. Mereka dimusuhi dan dicari-cari ke ujung dunia. Maka biar aman dari semua itu, banyak dari mereka yang berpura-pura telah keluar dari keimanan yang asli, yaitu mentauhidkan Allah SWT.
Dengan alasan keamanan, mereka kocar-kacir, sebagian melarikan diri sebagai buronan, demi menyelamatkan iman mereka, namun sebagian lagi tidak mampu hidup terus menerus jadi sasaran penangkapan. Maka mereka melakukan berbagai macam kamuflase aqidah, yang sekiranya masih bisa diterima oleh penguasa saat itu.
Singkat cerita, jadilah konsep trinitas alias konsep yang samar-samar antara monoteisme dan politeisme. Konsep yang samar-samar ini mungkin untuk sementara waktu masih bisa diterima akal dan logika, karena pertimbangan keamanan.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, kemudian para raja Romawi yang selama ini menangkapi para pengikut Nabi Isa justru banyak yang memeluk agama itu. Titik balik pentingnya terjadi pada masa Kaisar Konstantinus Agung (Constantine the Great) pada awal abad ke-4 Masehi. Ia menjadi penguasa Romawi pertama yang berpihak pada agama Kristen, terutama setelah mengeluarkan Edik Milan pada tahun 313 M yang menjamin kebebasan beragama bagi umat Kristen.
Sejak saat itu, agama Kristen mulai diterima secara luas di kalangan elite Romawi, bahkan kelak dijadikan agama resmi Kekaisaran Romawi. Peristiwa ini menandai perubahan besar dalam sejarah penyebaran agama Kristen dan menjadi awal dari proses formalisasi doktrin-doktrinnya, termasuk Trinitas.
Seharusnya mereka jujur dengan aqidah dasar terkait tauhid setelah kekuasaan di tangan mereka. Tidak lagi bermain-main dengan konsep perpaduan politeistik dengan monoteistik. Karena berbahaya sekali dan tidak sehat.
Namun disinilah letak ketidak-jujuran mereka. Makanya Allah SWT menekankan sikap jujur dan tidak usah berdusta bahwa agama yang diajarkan oleh Nabi Isa itu adalah monoteistik, yaitu Tuhan hanya ada satu yaitu Allah SWT. Ketika mereka masih saja berpaham trinitas, saat itulah dikatakan mereka tidak jujur.
Kata lahum (لَهُمْ) artinya : bagi mereka. Kata jannaatun (جَنَّاتٌ) artinya : surga-surga. Surga adalah tempat yang Allah SWT sediakan untuk kita orang-orang yang beriman ketika sudah berada di akhirat nanti. Allah SWT menyebutkan jannaat (جَنَّاتٌ) dalam bentuk jamak taksir, yang dipahami bahwa surga itu tidak hanya satu, melainkan ada beberapa. Yang disebutkan dalam Al-Quran diantaranya bernama Firdaus (فردوس), Adn (عدن), An-Na'im (النعيم), Al-Ma'wa (المأوى) dan lainnya.
Kata tajrii (تَجْرِي) artinya : yang mengalir. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata tahtihaa (تَحْتِهَا) artinya : bawahnya. Kata al-anhaar (الْأَنْهَارُ) artinya : sungai-sungai.
Sebenarnya sungai itu tidak mengalir, karena yang mengalir itu air dan bukan sungainya. Sungai adalah tempat air mengalir. Namun tanpa harus disebutkan air mengalir di sungai, semua orang sudah paham bahwa yang mengalir itu airnya dan bukan sungainya. Gaya bahasa ini termasuk salah satu bentuk majaz atau metafora.
Lafazh min tahtiha (مِنْ تَحْتِهَا ) sering diterjemahkan menjadi : mengalir di bawahnya. Kemudian muncul pertanyaan : apa yang dimaksud dengan dari bawah surga mengalir sungai? Apakah sungainya ada di dalam surga, ataukah di luar surga namun sumber asal muasal airnya dari bawah surga?
Lafazh al-anhar (الأنهار) merupakan bentuk jamak dari an-nahr yang bermakna sungai-sungai. Meski pun surga tidak bisa dibayangkan, namun penggambaran di surga ada banyak sungai nampaknya merupakan pendekatan ungkapan bahasa yang disesuaikan dengan sudut pandang bangsa Arab, khususnya dalam hal ini Nabi Muhammad SAW dan para shahabat yang mulia.
Buat bangsa Arab yang umumnya tinggal di gurun pasir, atau setidaknya wilayah mereka memang banyak gurunnya, penggambaran bahwa di dalam surga terdapat banyak aliran sungai merupakan metafora yang paling mudah untuk menggambarkan keindahan secara pandangan umum.
Mengapa demikian?
Sebab bila dibandingkan dengan kita bangsa Indonesia yang tinggal di negeri dengan banyak hutan tropis dan sungai, penggambaran surga dengan penyebutan banyak sungai menjadi tidak terlalu eksotik lagi. Toh setiap hari memang sudah tinggal di daerah yang banyak sungai.
Dan ungkapan di surga ada banyak sungai menjadi semakin simbolik ketika Al-Quran malah menggambarkan sungai dengan aliran susu, khamar dan madu. Tentu akan menjadi sangat abstrak untuk membayangkan sungai yang airnya bukan air. Namun demikian lah memang Allah ingin memberikan gambaran yang abstrak terkait sungai di surga.
(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring. (QS. Muhammad : 15).
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
Kata khalidina (خَالِدِينَ) artinya : mereka kekal. Kata fiihaa (فِيهَا) artinya : di dalamnya. Kata abadan (أَبَدًا) artinya : selama-lamanya.
Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang hidup di surga itu akan mengalami kehidupan yang kekal atau abadi. Istilah yang sering digunakan adalah immortal, yaitu orang yang hidup terus menerus dan tidak mengalami kematian.
Dalam beberapa kisah legenda, ada tokoh-tokoh tertentu yang digambarkan hidup abadi dan tidak mati, setidaknya usianya panjang, sehingga mengalami berbagai pergantian dari satu zaman ke zaman yang lain.
Dalam berbagai legenda dan mitologi di seluruh dunia, ada banyak tokoh yang dianggap immortal atau tidak mengalami kematian. Beberapa tokoh terkenal yang termasuk dalam kategori ini adalah:
1. Achilles (Mitologi Yunani): Meskipun Achilles akhirnya mati karena luka di tumitnya, sebelum itu dia dianggap hampir tak terkalahkan dan semi-immortal karena telah dicelupkan ke dalam Sungai Styx oleh ibunya, Thetis.
2. Gilgamesh (Mitologi Mesopotamia): Dalam Epos Gilgamesh, dia mencari keabadian setelah kematian sahabatnya, Enkidu. Meskipun dia tidak mencapai keabadian fisik, cerita ini sering menyinggung konsep kehidupan abadi melalui kenangan dan prestasi.
3. Tithonus (Mitologi Yunani): Kekasih dari dewi Eos, yang diberikan keabadian namun tidak diberikan pemuda abadi, sehingga dia terus menua selamanya.
4. Chiron (Mitologi Yunani): Centaurus yang bijak dan immortal. Akhirnya dia memilih untuk melepaskan keabadiannya sebagai gantinya melepaskan rasa sakit yang dia alami.
5. Vampir (Berbagai mitologi): Makhluk-makhluk ini dianggap tidak mengalami kematian alami dan memiliki kehidupan abadi dengan menghisap darah manusia.
6. Phoenix (Mitologi Yunani dan Mesir): Burung mitologis yang mengalami siklus kematian dan kelahiran kembali dari abunya sendiri, sehingga dianggap abadi.
7. Dewa dan Dewi (Mitologi berbagai budaya): Sebagian besar dewa dan dewi dari mitologi Yunani, Romawi, Norse, Hindu, dan lainnya dianggap immortal. Misalnya, Zeus, Hera, Odin, Thor, Vishnu, dan Shiva.
8. Al-Khidr (Mitologi Islam): Figur dalam tradisi Islam yang diyakini hidup abadi dan memiliki pengetahuan luas yang diberikan oleh Allah.
Dalam legenda dan mitologi Nusantara, terdapat beberapa tokoh yang digambarkan memiliki sifat immortal atau hidup abadi. Berikut beberapa di antaranya:
1. Semar: Dalam tradisi wayang kulit Jawa, Semar adalah tokoh punakawan yang merupakan penasehat dan pengasuh para ksatria Pandawa. Semar digambarkan sebagai sosok yang abadi dan memiliki kekuatan spiritual yang sangat besar.
2. Nyi Roro Kidul: Nyi Roro Kidul adalah ratu dari laut selatan yang sangat terkenal dalam mitologi Jawa dan Bali. Ia dianggap sebagai sosok yang abadi dan memiliki kekuasaan besar atas laut dan seisinya. Banyak cerita yang menyebutkan bahwa ia masih eksis dan berkomunikasi dengan manusia melalui medium spiritual.
3. Batara Kala: Dalam mitologi Jawa, Batara Kala adalah dewa waktu dan kehancuran. Ia sering digambarkan sebagai makhluk yang abadi yang memiliki tugas untuk menjaga keseimbangan antara hidup dan mati.
4. Sangkuriang: Dalam legenda Sangkuriang dari Sunda, Sangkuriang dikatakan tidak mati meskipun telah melakukan banyak kesalahan. Dalam beberapa versi cerita, ia dianggap sebagai sosok yang terus hidup dan menjadi penjaga alam di Gunung Tangkuban Perahu.
5. Jaka Tarub dan Nawang Wulan: Dalam cerita Jaka Tarub, Nawang Wulan adalah seorang bidadari dari kahyangan yang turun ke bumi dan kemudian menikah dengan Jaka Tarub. Meskipun Nawang Wulan akhirnya kembali ke kahyangan, ia digambarkan sebagai makhluk yang abadi dan memiliki kekuatan magis.
Tokoh-tokoh ini menunjukkan bagaimana konsep keabadian atau kehidupan abadi hadir dalam mitologi dan cerita rakyat Nusantara, sering kali digunakan untuk menggambarkan kekuatan spiritual, pelindung alam, atau figur yang memiliki hubungan khusus dengan dunia gaib.
Secara logika memang seharusnya kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang kekal dan kehidupan dunia adalah kehidupan yang tidak kekal. Sebab pada akhirnya kehidupan di dunia ini akan berujung semuanya ke akhirat. Maka memang sudah seharusnya akhirat itu kekal.
Kekekalan Adalah Puncak Kebahagiaan
Para ulama mengatakan bahwa kekekalan dan keabadian di surga adalah puncak kebahagiaan yang jadi tujuan semua manusia. Sebab buat apa masuk surga kalau ada masa berakhirnya?
Dengan pandangan seperti ini maka jadi wajar bila Nabi Adam alaihissalam melanggar larangan makan buah di surga, rupanya demi agar bisa mendapatkan kekekalan dan keabadian hidup.
Tentu saja itu tipu daya setan yang berhasil membujuk Nabi Adam untuk melanggar larangan tersebut. Tipu dayanya apabila memakan buah itu maka hidupnya akan abadi, imortal, tidak mati-mati hingga selamanya.
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Kata radhiya (رَضِيَ) artinya : Allah meridhai. Kata allaahu (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata ‘anhum (عَنْهُمْ) artinya : kepada mereka. Kata wa-radhuu (وَرَضُوا) artinya : dan mereka pun ridha. Kata ‘anhu (عَنْهُ) artinya : kepada-Nya.
Ungkapan ini beberapa kali terulang di dalam Al-Quran. Kalau kita cermati satu per satu, rata-rata mereka yang disebut sebagai : ’Allah SWT meredhai mereka dan mereka ridha kepada Allah SWT’ biasanya mengacu kepada para shahabat nabi yang mulia. Sehingga penyebutan nama mereka selalu identik dengan ungkapan radhiyallahuanhu atau radhiyallahuanha atau radhiyallahu’anhum.
Namun kalau kita cermati ayat ini, nampaknya ungkapan ini bersifat umum, tidak langsung terkait dengan para shahabat. Bahkan kalau konsisten dengan ayat-ayat sebelumnya, maka yang dimaksud adalah para pengikut Nabi Isa yang jujur dalam keimanan mereka.
ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Kata dzaalika (ذَٰلِكَ) artinya : itulah. Kata al-fawzu (الْفَوْزُ) artinya : kemenangan. Kata al-‘azhiim (الْعَظِيمُ) artinya : yang agung.
Mendapatkan posisi sebagai orang yang Allah SWT ridhai tentu adalah gol paling utama dari seorang hamba. Makanya disebut dengan ungkapan : kemenangan yang besar.
Kalau dibalik logikanya bahwa kemenangan yang besar itu bukan kemenangan di dalam medan laga peperangan di dunia. Juga bukan kemenangan ketika berhasil mengalahkan lawan. Tapi kemenangan yang besar itu adalah kemenagan di akhirat, yaitu menang sebagai orang yang berhasil mendapatkan gelar sebagai orang yang Allah SWT ridha kepadanya.