Kemenag RI 2019:Orang-orang yang kufur dari Bani Israil telah dilaknat (oleh Allah) melalui lisan (ucapan) Daud dan Isa putra Maryam. Hal itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Prof. Quraish Shihab:Telah
dilaknat
orang-orang
kafir dari Bani Israil disebabkan
oleh (ucapan) lisan Daud (yang
melaksanakan syariat Nabi Musa as.)
dan (juga ucapan) ‘Isa putra Maryam
(yang mengukuhkan syariat Nabi
Musa as.). Yang demikian (kutukan
kedua Nabi) itu, disebabkan mereka
telah durhaka dan melampaui batas. Prof. HAMKA:Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dikutuk melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu karena mereka telah berbuat durhaka dan selalu melanggar aturan.
Ayat ke-78 ini berisi pernyataan tegas dari Allah SWT bahwa Dia telah melaknat orang-orang yang kafir dari Bani Israil.
Laknat itu sendiri sebenarnya juga sudah termaktub dalam kita bsuci dan ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul di kalangan mereka, khususnya Nabi Daud alaihissalam dan juga Nabi Isa alaihissalam.
Laknat dari Allah SWT ini bukan tiba-tiba saja turun, melaikan karena hasil ulah dan perilaku mereka sendiri yang durhaka dan selalu melampaui batas.
Ayat ini juga menegaskan bahwa meski mereka masih keturunan orang suci, bahkan punya garis silsilah dari para nabi dan rasul, tetapi kalau kelakuan mereka tidak terpuji, tetap saja mereka dilaknat.
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا
Kata lu’ina (لُعِنَ) artinya : telah dilaknat. Kata alladzina kafaru (الَّذِينَ كَفَرُوا) artinya : orang-orang kafir.
Asal kata laknat itu adalah dijauhi (الإِبْعَاد) dan terbuang (الطَّرْد). Maka orang yang dilaknat Allah SWT itu dijauhkan dari rahmat-Nya, juga dijauhkan dari taufik dan nikmat-Nya, bahkan dijauhkan dari segala macam kebaikan.
Secara umum memang Allah SWT telah menegaskan bahwa orang-orang kafir itu terlaknat, baik mereka itu kaum musyrikin ataupun juga ahli kitab. Setidaknya mereka yang ketika mati dalam keadaan kafir. Bahkan laknatnya itu bukan hanya dari Allah SWT semata, tetapi juga dari para malaikat dan semua manusia.
Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. (QS. Al-Baqarah : 161)
Dan orang yang dilaknat Allah, maka di akhirat tidak akan ada yang dapat menjadi penolongnya.
Siapa pun yang dilaknat Allah niscaya engkau (Nabi Muhammad) tidak akan mendapat penolong baginya. (QS. An-Nisa’ : 52)
مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ
Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata bani israila (بَنِي إِسْرَائِيلَ) artinya : Bani Israil.
Penyebutan Bani Israil itu sesungguhnya adalah sebutan yang bersifat sanjungan dan penghargaan kepada suatu kaum. Bani itu artinya anak keturunan. Sedangkan Israil adalah nama lain dari Nabi Ya’qub alaihissalam. Maka bila ada suatu kaum yang disapa oleh Allah SWT dengan sapaan seperti itu, sebenarnya itu adalah bentuk penghormatan dan penghargaan, bahkan sanjungan.
Namun karena diawali dengan laknat Allah kepada orang kafir, lalu yang pada kafir dari kalangan Bani Israil pun ikut dimasukkan juga, maka penggalan ini jadi terasa satire. Sebuah gaya bahasa yang digunakan untuk mengkritik atau mengejek sesuatu dengan cara halus, kadang malah jadi ironi atau sindiran tajam.
Bahkan di telinga kita kaum muslimin hari ini, setiap kali kita mendengar istilah Bani Israil, konotasinya bagi kita sudah langsung negatif. Konotasi “Bani Israil” di telinga umat Islam berubah, tidak lagi terdengar sebagai panggilan kehormatan, tetapi lebih banyak dikaitkan dengan penyelewengan, kekufuran, dan kedurhakaan. Padahal aslinya itu merupakan sanjungan.
Al-Qurtubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1] berpendapat bahwa dengan adanya ayat ini maka secara hukum kita dibolehkan melaknat orang-orang kafir, meskipun mereka adalah keturunan para nabi. Dan bahwa kemuliaan nasab atau keturunan tidak menghalangi dari dilaknatnya mereka.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ
Kata ‘ala lisani (عَلَىٰ لِسَانِ) artinya : atas lisan. Kata dawuda (دَاوُودَ) artinya : Nabi Daud alaihissalam. Yang dimaksud dengan ‘atas lisan Daud’ maksudnya kitab suci yang turun kepada Nabi Daud alaihissalam,yaitu kitab Zabur berisi laknat Allah SWT kepada mereka.
Begitu juga kata Isab-ni-maryam (وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ) artinya : Isa putera Maryam, maksudnya bahwa Allah SWT juga melaknat mereka di dalam kitab suci Injil yang turun kepada Nabi Isa alaihissalam.
Jadi kedua kitab tersebut sejak awal sudah berisi laknat dari Allah kepada Bani Israil, yaitu mereka yang kafir dan ingkar kepada Allah.
Wujud Laknat Allah
Namun bagaimana wujud dari laknat Allah SWT kepada mereka, para ulama punya pandangan yang berbeda-beda.
§Mujahid, Qatadah, dan selain keduanya berkata: Allah melaknat mereka dengan mengubah (wujud) mereka menjadi kera dan babi.
§Abu Malik berkata: Mereka yang dilaknat melalui lisan Daud diubah menjadi kera. Dan mereka yang dilaknat melalui lisan Isa diubah menjadi babi.
§Ibnu Abbas berkata: Mereka yang dilaknat melalui lisan Nabi Daud alaihissalam adalah orang-orang yang melanggar larangan hari Sabtu. Sedangkan yang dilaknat melalui lisan Nabi Isa alaihissalam adalah orang-orang yang kafir terhadap peristiwa turunnya hidangan dari langit setelah hidangan itu diturunkan. Dan hal semisal itu juga diriwayatkan dari Nabi SAW.
§Ada juga yang mengatakan: Yang dilaknat adalah orang-orang terdahulu dan generasi berikutnya dari kalangan yang kafir kepada Muhammad SAW, melalui lisan Daud dan Isa. Karena keduanya mengetahui bahwa Muhammad SAW adalah nabi yang diutus, maka mereka melaknat orang-orang yang kafir kepadanya.
ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
Kata dzalika (ذَٰلِكَ) artinya : itu, atau hal yang sedemikian itu. Maksudnya adalah dilaknatnya orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil.
Kata bima (بِمَا) artinya : dengan apa. Maksudnya disebabkan oleh hal yang telah mereka lakukan.
Lafazh ‘ashau (عصوا) bermakna maksiat atau durhaka. Durhaka yang dimaksud adalah tidak mau taat dan tunduk kepada syariat yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka.
Sedangkan lafazh ya’tadun (يعتدون) dimaknai sebagai melampaui batas, baik batas kewajaran atau pun batas prikemanusiaan.
Di antara contoh tindakan melampaui batas yang mereka lakukan adalah membunuh para nabi dan rasul yang Allah SWT utus kepada mereka. Padahal seharusnya, kalau pun tidak terima dengan ajakan dakwah para nabi, silahkan saja ingkari, kalau perlu usir saja para nabi itu.
Bahkan seorang Firaun yang durhaka pun tidak sampai membunuh Musa, dia hanya memerintahkan agar Musa pergi saja meninggalkan negeri Mesir. Setidaknya di awal Firaun tidak ingin membunuh Musa. Bahwa setelah itu dia mengejar Musa, itu karena ada pemikiran yang berbeda.