Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mendebat kaum musyrikin yang selama ini ingkar, membangkang dan tidak mau beriman kepada risalah yang dibawa oleh Nabi SAW.
Bahkan sebelumnya mereka menantang apakah Nabi SAW bisa menurunkan adzab kepada mereka. Dasarnya karena mereka tidak percaya kalau Nabi Muhammad SAW itu benar-benar utusan Allah. Kalau memang benar utusan Allah, cobalah turunkan adzab yang bisa memusnahkan mereka, sebagaimana konon dahulu umat terdahulu banyak yang dimusnahkan akibat mendustakan para nabi.
Kata huwa (هُوَ) artinya : Dia. Yang dimaksud dengan ‘Dia’ disini adalah Allah SWT. Kata al-qadiru (الْقَادِرُ) artinya : Maha Kuasa. Dalam hal ini meski Allah punya kekuasaan untuk mendatangkan adzab kepada kaum yang ingkar, namun Nabi SAW tidak ingin mereka dimusnahkan karena keingkaran. Nabi SAW lebih berharap mereka bisa diberi kesempatan lagi, biar pada akhirnya mendapat hidayah dari Allah SWT.
Kata ala (عَلَىٰ) artinya : atas. Kata an yab’atsa (أَنْ يَبْعَثَ) artinya : untuk mengutus atau membangkitkan. Kata alaikum (عَلَيْكُمْ) artinya : kepada kalian. Kata azaban (عَذَابًا) artinya : azab.
Bahasa ungkapan yang digunakan cukup unik, yaitu al-ba’tsu (البعث). Kata ini sering juga dimaknai sebagai kebangkitan yang konotasinya adalah kebaikan atau kemakmuran. Nabi SAW menyebutkan bahwa dirinya dibangkitkan untuk menyempurnakan akhlaq.
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al-Baihaqi)
Namun kali ini Allah SWT menggunakan istilah al-ba’ts dalam konotasi yang terbalik yaitu kebangkitan adzab. Ini mirip dengan ayat lain yang menggambarkan Allah menimpakan adzab kepada orang Yahudi sampai hari kiamat.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. (QS. Al-Araf : 167)
فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا
Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. (QS. Al-Isra : 5)
Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata fauqikum (فَوْقِكُمْ) artinya : atas kalian. Huruf aw (أَوْ) artinya : atau. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata tahti (تَحْتِ) artinya : bawah. Kata arjulikum (أَرْجُلِكُمْ) artinya : kaki kalian.
Dalam terjemahan Kemenag RI ada catatan kaki, bahwa azab yang datang dari atas adalah hujan batu, sambaran petir, dan lain-lain. Adapun yang datang dari bawah adalah seperti gempa bumi dan banjir.
1. Adzab Dari Atas
Di antara kisah-kisah Al-Quran yang menceritakan bagaimana dahulu banyak kaum yang Allah SWT binasakan lewat adzab yang datang dari atas, min fauqi-kum (مِنْ فَوْقِكُمْ).
Contohnya adalah hujan batu yang menimpa kaum Nabi Luth.
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنْضُودٍ
Dan Kami hujani mereka dengan batu (yang berasal) dari tanah yang terbakar. (QS. Al-Hijr: 74)
Di ayat lain diceritakan bagaimana kaum yang durhaka disambar petir atau kilat dan memusnahkan mereka.
وَلَمَّا رَآهُمْ صَرَعَهُمُ الرَّعْدُ وَالْبَرْقُ
Ketika mereka melihatnya, guntur dan kilat menimpa mereka. (QS. Al-A‘raf: 96)
Di ayat lain Allah SWT ceritakan ada kaum yang dimusnahkan lewat angin panas dan bertiup dengan kencang.
فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ وَالْحَرَقَ وَالْعَذَابَ
Maka Kami kirimkan kepada mereka angin, panas, dan siksaan. (QS. Al-Anbiya: 68-69)
Pasukan bergajah yang ingin meruntuhkan Ka’bah dirontokkan oleh serombongan burung terbang yang membawa batu dari Sijjil.
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
Dan Dia (Allah) mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. Al-Fil : 3-5)
2. Adzab Dari Bawah
Selain datang dari atas, Allah SWT juga menyebut adzab yang datang dari bawah, yaitu min tahti arjulikum (مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ) : dari bawah kaki kalian. Kaum Nabi Nuh dilanda banjir besar dan ternyata sumbernya berasal dari mata air di bumi.
فَفَجَّرْنَا الأَرضَ عُيُونًا فَالتَقَى المَآءُ عَلَىٰٓ أَمرٍ قَدَرٍ
Maka Kami pancarkan bumi dengan mata air, lalu bertemulah air itu sesuai ketetapan. (QS. Al-Qamar: 11)
Kata yalbisa-kum (يَلْبِسَكُمْ) berasal dari kata dasar (لبس) yang berarti secara harfiyah : memakai, mengenakan, menutupi, atau membalut. Namun dalam konteks ini, arti ‘mengenakan’ atau ‘menutupi’ dipahami secara kiasan, yaitu Allah ‘memakaikan’ perpecahan atau konflik ke tengah persatuan umat, sehingga mereka terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berselisih.
Kata syiya’an (شِيَعًا) adalah bentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah syi‘ah ( شِيعة) yang artinya : sempalan, pecahan, sekte atau serpihan. Bila diibaratkan ada batu besar yang pecah, maka pecahannya itu ada yang berupa batu besar, namun ada juga serpihan-serpihannya. Serpihan itulah yang disebut dengan syi’yaan.
Ungkapan yalbisu syi‘an dipahami bahwa Allah menjadikan mereka terpecah-pecah menjadi faksi-faksi yang saling bermusuhan, sehingga masing-masing pihak berada dalam keadaan lemah dan saling bertentangan. Allah “memakaikan” umat dengan perpecahan internal, sehingga mereka terpecah menjadi berbagai kelompok atau sekte.
Maka adzab ini berbeda dengan adzab secara fisik yang turun dari atas atau datang dari bawah, adzab ini lebih bersifat sosial dan spiritual, karena perpecahan melemahkan kekuatan umat dan menimbulkan konflik, pertikaian, dan kekacauan dari dalam.
Sejak zaman dahulu, bangsa Arab terkenal sebagai masyarakat yang terbagi menjadi banyak suku dan klan. Setiap suku memiliki kepala suku sendiri, wilayah sendiri, dan hukum adatnya masing-masing. Secara umum, mereka menghormati ikatan kekerabatan dan loyalitas kepada suku, namun hubungan antar suku sering tegang dan rawan konflik.
Konflik antar suku terjadi karena berbagai alasan, seringkali tidak jelas atau sulit ditelusuri asal muasalnya. Kadang karena persaingan ekonomi: perebutan sumber air, padang penggembalaan, atau jalur perdagangan. Namun yang lebih banyak justru karena balas dendam. Jika satu anggota suku dibunuh atau dihina, seluruh suku menuntut balas, yang memicu siklus kekerasan berulang.
Hasilnya adalah perang berkepanjangan tak berkesudahan, yang dikenal dalam sejarah Arab pra-Islam sebagai ayyam al-’arab (أيام العرب) atau hari-hari Arab, di mana setiap peperangan bisa berlangsung bertahun-tahun, tanpa ada pemenang yang jelas dan tanpa penyelesaian damai yang permanen.
Tidak seperti kerajaan atau negara modern, tidak ada otoritas pusat yang bisa menegakkan hukum di seluruh Jazirah Arab. Setiap suku memutuskan sendiri hukum dan pembalasan mereka, sehingga konflik terus berulang. Bangsa Arab pra-Islam tidak bisa bersatu menghadapi musuh luar, karena selalu sibuk dengan perang antar suku.
Persaingan ini menciptakan kelemahan internal, sehingga keamanan, perdagangan, dan kesejahteraan masyarakat selalu terganggu. Banyak masalah yang muncul tidak diketahui akar penyebabnya, karena seringkali konflik dimulai dari hal sepele tapi berkembang menjadi pertikaian besar.
Huruf wa (وَ) artinya : dan. Kata yudziqa (يُذِيقَ) artinya : merasakan. Kata ba’dhakum (بَعْضَكُمْ) artinya : sebagian kalian. Kata ba’sa (بَأْسَ) artinya : kekuatan atau siksa. Kata ba’dh (بَعْضٍ) artinya : sebagian.
Bangsa Arab selama ini tidak pernah berperang melawan bangsa lain. Mereka tidak bermusuhan dengan Romawi, Persia, Mesir, Yaman, Habasyah ataupun India, China dan bangsa manapun. Mereka damai-damai saja dengan semua bangsa.
Tapi kalau dengan sesama Arab, mereka punya permusuhan abadi. Mereka saling bunuh, saling rampok, saling tikam, saling membinasakan satu sama lain. Akibatnya, permusuhan antar suku Arab tidak pernah berhenti. Bentuknya bisa berupa bunuh-membunuh antar anggota suku, atau merampok harta atau ternak suku tetangga, bahkan juga dengan menyebar fitnah atau saling tikam secara fisik maupun sosial.
Yang menarik, akar masalahnya seringkali tidak jelas. Bisa dimulai dari sengketa kecil: satu ternak hilang, satu kata hina, atau kesalahan anak-anak muda. Namun, karena adat balas dendam suku, konflik kecil berkembang menjadi perang berkepanjangan yang bisa berlangsung bertahun-tahun.
Perpecahan Umat Islam
Meskipun setelah kedatangan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW telah berhasil mempersatukan seluruh bangsa Arab menjadi satu, bahkan menjadikan mereka bangsa yang paling unggul dan termuliakan, namun perpecahan di tengah mereka terkadang masih kita lihat.
Nabi SAW sudah meminta kepada Allah SWT agar umatnya jangan sampai dilanda perpecahan, namun permintaan itu nampaknya tidak dipenuhi. Abu Bashrah Al-Ghifari meriwayatkan sebuah pernyataan langsung dari Nabi SAW yang menyatakan hal itu.
سَألْتُ رَبِّي أرْبَعًا فَأعْطانِي ثَلاثًا ومَنَعَنِي واحِدَةً سَألْتُ اللَّهَ تَعالى أنْ لا يَجْمَعَ أُمَّتِي عَلى ضَلالَةٍ فَأعْطانِيها وسَألْتُ اللَّهَ تَعالى أنْ لا يُظْهِرَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِن غَيْرِهِمْ فَأعْطانِيها وسَألْتُ اللَّهَ تَعالى أنْ لا يُهْلِكَهم بِالسِّنِينَ كَما أُهْلِكَتِ الأُمَمُ فَأعْطانِيها وسَألْتُ اللَّهَ تَعالى أنْ لا يَلْبِسَهم شِيَعًا ويُذِيقَ بَعْضَهم بَأْسَّ بَعْضٍ فَمَنَعَنِيها
Aku meminta kepada Tuhanku empat perkara. Dia memberiku tiga dan menolak satu.
1. Aku meminta kepada Allah agar Dia tidak mengumpulkan umatku di atas kesesatan, maka Dia memberiku itu.
2. Aku meminta kepada Allah agar tidak menampakkan musuh dari luar umat ini untuk mengalahkan mereka, maka Dia memberiku itu.
3. Aku meminta kepada Allah agar tidak membinasakan mereka dengan paceklik panjang sebagaimana umat-umat sebelum mereka dibinasakan, maka Dia memberiku itu.
4. Dan aku meminta kepada Allah agar Dia tidak menjadikan mereka berpecah-belah menjadi kelompok-kelompok dan sebagian dari mereka merasakan kekerasan dari sebagian yang lain, maka Dia menolak itu dariku. (HR. Ahmad dan Ath-Thbarani)
Yang paling terekspose dari perpecahan kaum muslimin adalah peristiwa fitnah kubra yang melanda para shahabat mulia, yaitu Perang Jamal dan Perang Shiffin. Keduanya ibarat nila setitik yang merusak susu sebelanga.
1. Perang Jamal (656 M)
Pertempuran terjadi antara dua pasukan muslimin. Yang satu dipimpin oleh Khalifah Ali bin Abu Thalib, satunya lagi di bawah kepemimpinan ibunda mukminin istri Nabi, Aisyah radhiyallahuanhuma. Penyebabnya adalah ketidakpuasan sebagian sahabat terhadap kepemimpinan Ali dan tuntutan untuk menegakkan keadilan atas kematian Utsman radhiyallahuanhu.
Konflik antara kedua pasukan akhirnya bisa diselesaikan dengan kemenangan pasukan Ali bin Abi Thalib. Ibunda Mukminin Aisyah selamat dan diperlakukan dengan hormat, kemudian dipulangkan ke Madinah.
Ali bin Abi Thalib kemudian berupaya menenangkan umat, mengajak mereka kembali bersatu, menekankan persaudaraan dan kepatuhan pada Islam. Banyak sahabat yang semula terlibat memahami kesalahan dan kembali mendukung kepemimpinan Beliau.
Namun begitu tidak bisa dipungkiri korban nyawa yang telah berjatuhan. Angkanya sekitar 2.500 hingga 6.000-an orang.
2. Perang Shiffin (657 M)
Pertempuran antara para pendukung Ali sebagai khalifah dan pendukung Muawiyah sebagai gubernur Syam, radhiyallahuanhuma. Perselisihan muncul karena perbedaan politik dan klaim keadilan, serta tuntutan hukum atas kematian Utsman radhiyallahuanhu.
Meskipun mereka menyadang status sebagai shahabat yang Allah SWT ridha kepada mereka, namun konflik ini dampaknya luas sekali, persatuan umat teruji, kepercayaan dan solidaritas melemah, dan muncul perpecahan yang sulit disatukan kembali.
Konflik antara kedua pasukan berakhir dengan arbitrase atau tahkim, bukan kemenangan mutlak salah satu pihak. Memang tidak ada angka pasti terkait jumlah korban. Kalangan pembenci Islam memunculkan jumlah yang berlebihan, yaitu 70 ribu korban. Yang lebih aman jumlahnya puluhan ribu meski tidak dapat dipastikan secara detail.
Yang pasti pertempuran tiga hari itu akhirnya berhenti. Kaum muslimin kembali bersatu. Meski masih menyisakan residu, yaitu kelompok sempalan yang menolak keputusan. Ke depan mereka akan muncul menjadi kelompok Khawarij. Meskipun demikian, mayoritas umat tetap mengakui kepemimpinan Beliau dan sebagian besar kembali bersatu.
Dunia Islam Yang Lumpuh
Perpecahan di tengah umat Islam sampai hari ini masih kita saksikan. Berikut ini sebuah tabel yang berisi 15 negara dengan penduduk muslim namun terlibat konflik bersenjata dengan saudara sendiri.
Negara
Bentuk konflik internal
Waktu kejadian (awal–sekarang)
Sudan
Perang antara militer vs RSF (Rapid Support Forces)
2023 – sekarang
Yemen
Perang saudara: pemerintah, Houthi, dan faksi lain
2014 – sekarang
Syria
Perang sipil, multi-faksi
2011 – sekarang
Afghanistan
Perang internal: Taliban, ISIS-K, kelompok militan
1979 – sekarang (fase baru pasca 2021)
Iraq
Konflik pasca 2003, ISIS (2014–2017), konflik sektarian masih tersisa
2003 – sekarang (eskalasi naik-turun)
Somalia
Perang sipil, al-Shabaab vs pemerintah
1991 – sekarang
Nigeria
Insurgensi Boko Haram & ISWAP, konflik etnis/religius
2009 – sekarang
Burkina Faso
Insurgensi jihadist di Sahel
2015 – sekarang
Mali
Konflik Tuareg + jihadist (AQIM, dll.)
2012 – sekarang
Pakistan
Konflik sektarian, Taliban Pakistan (TTP), militan
2004 – sekarang
Ethiopia
Perang Tigray, konflik etnis (di wilayah dengan populasi muslim besar)
2020 – 2022 (Tigray), konflik lain berlanjut
India (Kashmir)
Konflik separatis di Jammu & Kashmir
1989 – sekarang
Myanmar (Rohingya)
Konflik etnis, kekerasan terhadap Rohingya
2012 – sekarang (memuncak 2017)
Cameroon
Insurgensi Boko Haram di utara, konflik separatis Anglophone
2014 – sekarang
Libya
Perang saudara antar faksi & milisi
2011 – sekarang
Negara yang terlibat perang, baik dengan negara lain ataupun dengan sesama penduduk sendiri, dipastikan merupakan neraka dunia. Lima tujuan utama diturunkannya syariah yaitu menjaga nyawa, agama, akal, keturunan, dan harta, sudah bisa dipastikan gagal total.
Selain itu negara yang terlibat perang hanya akan memicu gelombang pengungsi yang merepotkan negara lain, selain pastinya akan berdampak kemiskinan dan kemelaratan secara jangka panjang. Kalau kita perhatikan sejarah modern, negara-negara yang terjerumus dalam perang hampir selalu mengalami kehancuran menyeluruh, dan dampaknya sangat panjang. Infrastruktur hancur, sumber daya terkuras, generasi muda kehilangan pendidikan, sementara trauma sosial dan politik berlangsung puluhan tahun.
Memang ada negara yang berhasil bangkit sebagian, tetapi selalu dengan waktu yang amat panjang, biaya yang luar biasa besar, serta dukungan eksternal yang intensif.
Jerman dan Jepang pasca Perang Dunia II: benar mereka bisa pulih secara ekonomi, karena intervensi besar-besaran dari luar. Tanpa itu, keduanya hampir mustahil bangkit cepat.
Vietnam setelah perang panjang dengan Amerika Serikat, butuh puluhan tahun hingga bisa mencapai pertumbuhan ekonomi stabil. Itu pun dengan membuka diri kepada kapitalisme global sejak 1986
Sedangkan negeri muslim seperti Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, Somalia, Sudan Selatan dan lainnya, hingga kini masih terjerat konflik berkepanjangan, bahkan sekadar stabilisasi politik pun belum tercapai, apalagi rekoveri ekonomi.
Artinya, hampir tidak ada negara bekas perang yang bisa bangkit murni dari dirinya sendiri. Semua contoh yang ada pun baru bisa pulih dengan syarat ada kestabilan politik total, juga ada dana rekonstruksi yang masif dari luar. Dan pastinya harus lahir dulu generasi baru yang mampu mengubah sistem sosial-ekonomi.
Tanpa itu perang hanya meninggalkan kehancuran abadi. Maka wajar bila para ulama menyebut perang sebagai fitnah kubra (فتنة كبرى) alias ’tragedi paling dahsyat’. Syariat Islam yang bertujuan menjaga lima tujuan utama, yaitu maqashid al-syariah, yang jelas-jelas semuanya gagal terwujud dalam kondisi perang.
Maka nikmat persatuan itu sebenarnya nikmat yang teramat mahal nilainya, sebagaimana firman Allah SWT :
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (QS. Ali Imran : 103)