Kemenag RI 2019:Maka, gempa (dahsyat) menimpa mereka sehingga mereka menjadi (mayat-mayat yang) bergelimpangan di dalam (reruntuhan) tempat tinggal mereka. Prof. Quraish Shihab:(Karena kesombongan dan perbuatan yang melampaui batas itu), mereka ditimpa gempa (yang dahsyat), maka jadilah mereka (mayat-mayat yang) bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Prof. HAMKA:Maka menimpalah kepada mereka gempa. Lalu jadilah mereka di dalam rumah mereka menjadi kaku.
Hal itu mereka lakukan karena 100% mereka memang tidak percaya bahwa ancaman itu memang ada. Dalam pandangan mereka, apa yang selama ini diancamkan dianggap sebagai pepesan kosong saja oleh mereka. Dan mereka yakin sekali akan hal itu.
Maka akhirnya Allah turunkan keputusan untuk membunuh mereka semua, lewat bencana dahsyat berupa gempa bumi. Dan mereka pun mati tidak sempat menyelamatkan diri, di rumah mereka masing-masing.
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ
Kata fa (فَ) artinya: maka. Kata akhadzat-hum (فَأَخَذَتْهُمُ) artinya: maka menimpa mereka. Kata akhadzat berasal dari akar kata (أخذ) yang bermakna mengambil atau menimpa. Kata ganti hum menunjuk kepada mereka, yaitu kaum Tsamud.
Kata ar-rajfah (الرَّجْفَةُ) artinya: gempa yang dahsyat. Kata ini berasal dari akar kata (رجف) yang bermakna guncangan yang keras atau getaran yang kuat. Dalam konteks ayat ini maksudnya adalah guncangan dahsyat yang menjadi azab bagi kaum Tsamud.
Dalam ilmu geofisika modern, kedahsyatan sebuah gempa bumi tidak dinilai dari satu ukuran saja. Para ahli biasanya melihat beberapa parameter utama sekaligus untuk memahami seberapa besar energi yang dilepaskan, bagaimana dampaknya di permukaan bumi, dan seberapa besar potensi kerusakan yang ditimbulkannya.
1. Magnitudo (energi yang dilepaskan)
Magnitudo adalah ukuran seberapa besar energi yang dilepaskan dari pusat gempa di dalam bumi. Dahulu ukuran ini dikenal dengan Skala Richter, tetapi sekarang yang lebih banyak digunakan adalah Moment Magnitude Scale (Mw). Skala ini bersifat logaritmik, sehingga setiap kenaikan satu angka berarti energi gempa meningkat sekitar 32 kali lipat.
Gempa berkekuatan magnitudo 5 biasanya hanya menimbulkan getaran sedang, magnitudo 6 mulai berpotensi merusak bangunan, magnitudo 7 termasuk gempa besar, sedangkan magnitudo 8 atau lebih sudah tergolong gempa raksasa yang energinya setara dengan ribuan bom nuklir seperti bom Hiroshima.
2. Intensitas guncangan di permukaan bumi
Selain energi yang dilepaskan, para ilmuwan juga mengukur seberapa kuat guncangan yang dirasakan manusia di permukaan bumi. Ukuran ini disebut intensitas, biasanya menggunakan Modified Mercalli Intensity Scale yang memiliki tingkat dari I sampai XII. Skala ini menggambarkan dampak nyata yang dirasakan manusia dan bangunan.
Pada tingkat rendah gempa hampir tidak terasa, tetapi pada tingkat tinggi bangunan mulai retak, roboh, hingga terjadi kehancuran total. Satu gempa yang sama bisa memiliki intensitas berbeda di tempat yang berbeda, tergantung jarak dari pusat gempa dan kondisi tanah.
3. Kedalaman sumber gempa
Kedalaman tempat terjadinya gempa juga sangat menentukan tingkat kerusakan yang terjadi. Gempa yang sumbernya dangkal, yaitu kurang dari sekitar 70 kilometer di bawah permukaan bumi, biasanya paling merusak karena energi getarannya langsung mencapai permukaan. Sebaliknya, gempa yang terjadi sangat dalam di dalam mantel bumi sering kali tidak menimbulkan kerusakan besar meskipun magnitudonya cukup tinggi.
4. Lama getaran gempa
Durasi atau lamanya gempa juga menjadi faktor penting. Gempa kecil biasanya hanya berlangsung beberapa detik, sedangkan gempa besar dapat berlangsung satu hingga tiga menit. Pada gempa raksasa durasinya bisa mencapai lima hingga enam menit.
Semakin lama getaran terjadi, semakin besar kemungkinan bangunan mengalami kerusakan atau runtuh karena struktur bangunan tidak mampu menahan guncangan yang terus-menerus.
5. Luas dan panjang patahan bumi
Gempa besar biasanya terjadi karena patahan atau retakan pada lempeng bumi yang sangat panjang. Semakin panjang dan luas patahan yang bergerak, semakin besar pula energi yang dilepaskan.
Pada gempa besar, panjang patahan bisa mencapai ratusan kilometer. Bahkan pada gempa raksasa seperti gempa Samudra Hindia tahun 2004, panjang patahan yang bergerak diperkirakan mencapai sekitar 1300 kilometer.
6. Percepatan gerakan tanah
Para ahli juga mengukur seberapa cepat tanah bergerak saat gempa. Ukuran ini disebut Peak Ground Acceleration (PGA), yaitu percepatan maksimum tanah ketika gempa terjadi. Nilai ini dibandingkan dengan percepatan gravitasi bumi.
Semakin tinggi percepatan tanah, semakin besar gaya yang bekerja pada bangunan, sehingga risiko kerusakan juga semakin tinggi.
7. Dampak lanjutan dari gempa
Dalam banyak kasus, kerusakan besar bukan hanya disebabkan oleh getaran gempa itu sendiri, tetapi juga oleh dampak lanjutan yang menyertainya. Dampak tersebut bisa berupa tsunami, longsor, retakan tanah, atau fenomena likuifaksi, yaitu ketika tanah yang jenuh air berubah menjadi seperti lumpur sehingga bangunan di atasnya tenggelam atau miring.
Gempa yang terjadi di dasar laut sering kali menjadi sangat mematikan karena memicu tsunami besar.
Dengan demikian, dalam sains modern kedahsyatan gempa tidak hanya dilihat dari satu angka saja. Para ilmuwan memadukan berbagai ukuran seperti energi gempa, kekuatan guncangan di permukaan, kedalaman sumber gempa, lamanya getaran, luas patahan bumi, percepatan tanah, serta dampak lanjutan yang ditimbulkannya. Semua faktor ini bersama-sama menentukan seberapa dahsyat sebuah gempa bumi dan seberapa besar kerusakan yang dapat ditimbulkannya.
فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Kata fa (فَ) artinya: maka. Kata ashbahu (فَأَصْبَحُوا) artinya: maka mereka menjadi atau pada pagi hari mereka berada dalam keadaan. Kata fi darihim (فِي دَارِهِمْ) artinya: di rumah-rumah mereka atau di negeri mereka. Kata jatsimin (جَاثِمِينَ) artinya: dalam keadaan tersungkur atau tergeletak tidak bergerak.
Jika diperhatikan dengan teliti, deskripsi Al-Qur’an tentang kebinasaan kaum Tsamud memberikan sejumlah petunjuk yang cukup spesifik tentang keadaan korban setelah azab datang. Salah satu ungkapan kuncinya adalah (فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ). Frasa ini tidak sekadar menyatakan bahwa mereka mati, tetapi juga menggambarkan posisi tubuh mereka setelah kematian itu terjadi. Di sinilah letak menariknya analisis ayat ini.
Ungkapan fi darihim (فِي دَارِهِمْ) menunjukkan bahwa mereka mati di tempat tinggal mereka sendiri. Artinya, tidak ada indikasi bahwa mereka sedang melarikan diri, terseret air, atau tertimbun tanah di tempat lain. Mereka berada di wilayah tempat mereka hidup sehari-hari, bahkan kemungkinan besar di rumah atau di sekitar rumah mereka. Ini memberi kesan bahwa azab datang secara tiba-tiba dan langsung mengenai mereka di tempat mereka berada.
Kemudian kata jatsimin (جَاثِمِينَ) memberikan gambaran yang lebih spesifik lagi. Secara bahasa, kata ini menunjukkan posisi tubuh yang menempel ke tanah dengan keadaan membungkuk atau bertumpu pada lutut, seperti burung yang meringkuk di tanah. Ini bukan sekadar tubuh yang terbaring, tetapi tubuh yang jatuh dan berhenti dalam posisi tertentu, seolah-olah gerakan mereka terhenti secara mendadak.
Deskripsi ini menimbulkan pertanyaan penting: jenis bencana apa yang bisa menghasilkan keadaan seperti itu? Jika kita membandingkan dengan jenis bencana alam yang umum terjadi, beberapa kemungkinan justru tidak cocok dengan gambaran tersebut.
Gempa bumi, misalnya, pada dasarnya hanyalah pergerakan tanah. Gempa menjadi mematikan biasanya karena runtuhnya bangunan atau longsoran tanah. Dalam kasus seperti itu, korban umumnya ditemukan tertimbun reruntuhan. Namun Al-Qur’an tidak menggambarkan kaum Tsamud sebagai korban yang tertimbun.
Demikian juga dengan tanah longsor. Korban longsor biasanya terkubur oleh material tanah dan batu. Tetapi ungkapan جاثمين justru memberi kesan bahwa tubuh mereka terlihat di permukaan tanah, bukan terkubur di dalamnya.
Begitu pula tsunami. Jika sebuah kaum dihancurkan oleh gelombang air besar, maka pola kematian yang dominan adalah tenggelam atau terseret air. Namun deskripsi Al-Qur’an tidak menunjukkan mereka mati karena air, melainkan mati di tempat tinggal mereka sendiri.
Karena itu sebagian peneliti modern mencoba membaca ayat ini dari sudut pandang fenomena energi alam. Al-Qur’an menyebut beberapa istilah yang berbeda untuk azab Tsamud, seperti ar-rajfah (الرَّجْفَة), ash-shaihah (الصَّيْحَة) dan ash-sha’iqah (الصَّاعِقَة). Ketiga istilah ini secara semantik berkaitan dengan guncangan, suara dahsyat, dan energi mematikan.
Jika digabungkan, ketiga istilah tersebut menggambarkan sebuah peristiwa yang bukan sekadar runtuhan fisik, tetapi lebih menyerupai gelombang energi yang sangat kuat. Energi semacam ini dapat menyebabkan kematian mendadak tanpa harus menghancurkan seluruh struktur bangunan.
Dalam ilmu kebencanaan modern, fenomena seperti ini dikenal dalam bentuk gelombang tekanan atau shock wave. Gelombang tekanan yang sangat kuat dapat merusak organ tubuh manusia secara instan, terutama paru-paru dan sistem saraf, sehingga korban bisa mati seketika di tempat mereka berdiri.
Jika seseorang meninggal secara mendadak akibat gelombang energi seperti itu, tubuhnya sering kali jatuh dalam posisi terakhir yang sempat dilakukan. Inilah yang mungkin mendekati gambaran جاثمين, yaitu tubuh yang berhenti dalam posisi jatuh dan menempel ke tanah.
Fenomena serupa pernah terjadi dalam beberapa peristiwa alam modern, misalnya ledakan atmosfer besar seperti Tunguska 1908 di Siberia. Dalam peristiwa itu, gelombang energi dari udara mampu merobohkan hutan luas tanpa harus menghasilkan kawah besar di tanah. Jika manusia berada di pusat peristiwa semacam itu, kemungkinan besar mereka akan mati seketika oleh tekanan udara yang ekstrem.
Dengan pendekatan ini, deskripsi Al-Qur’an tentang kaum Tsamud menjadi semakin menarik. Ayat tersebut tidak hanya menyatakan bahwa mereka binasa, tetapi juga memberi gambaran bagaimana tubuh mereka ditemukan setelah azab datang.
Tubuh mereka tidak terseret, tidak terkubur, dan tidak hancur oleh bangunan. Mereka hanya jatuh di tempat mereka berada, lalu menjadi jatsimin (جاثمين) yaitu kaku, menempel ke tanah, dan tidak bergerak lagi.
Dari sudut pandang analitis, deskripsi ini memperlihatkan bahwa Al-Qur’an menggunakan gambaran visual yang sangat kuat untuk menunjukkan betapa tiba-tibanya azab itu datang. Kehidupan mereka berhenti dalam satu momen yang sangat singkat, seolah-olah waktu terhenti pada saat itu juga.
Dengan demikian, kata jatsimin (جاثمين) bukan sekadar kata yang menggambarkan kematian. Ia adalah potret visual dari kematian mendadak, sebuah gambaran tentang manusia yang seketika kehilangan kehidupan dan berhenti di posisi terakhir mereka di atas bumi.