ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Ini adalah penggalan kedua dari ayat ke-165, dimana intinya Allah SWT membuat menyatakan bahwa orang kafir itu sulit bisa diharapkan kesadarannya, dengan cara menggunakan pengandaian yang cukup unik.
Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (itu) mengetahui ketika mereka melihat azab (pada Hari Kiamat), bahwa semua kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-(Nya, niscaya mereka menyesal).
Secara harfiyah penggalan ini terasa agak janggal, karena diawali dengan kata “seandainya”, namun tidak ada terusannya. Seandainya begini dan begini dan begini, lantas apa? Sama sekali disebutkan apa-apa.
Maka para ulama mencoba meraba-raba dan mengira-ngira, kira-kira apa jawabannya. Dalam hal ini kalau kita baca terjemahan dari Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab, keduanya sepakat menyebutkan : (niscaya mereka menyesal).
Sedangkan dalam terjemahan Buya HAMKA sama sekali tidak menuliskan apapun, sehingga kalimatnya memang terasa janggal dan belum selesai. Penjelasannya baru kita temukan ketika kita buka Tafsir Al-Azhar karya Beliau. Disana dituliskan sebagai berikut :
Kalau mengertilah orang yang zalim itu bahwa kelak di akhirat akan ternyata bahwa segala tandingan-tandingan itu tidak ada kekuatannya sama sekali, walaupun apa macamnya dan siapa pun orangnya, niscaya dari masa hidup di dunia ini mereka tidak akan mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah.