ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Sapaan wahai manusia ini oleh para mufassir dianggap sebagai sapaan kepada orang-orang musyrikin Mekkah.
Huruf ya (يا) disebut dengan harfun-nida yaitu huruf hijaiyah dalam bahasa Arab, gunanya untuk menyapa orang yang posisinya agak jauh. Sedangkan ayyuha terdiri dari ayyu dan ha, dimana ayyu (أي) adalah ism munada dan ha (ها) berfungsi sebagai tanbih : memberi perhatian.
Secara keseluruhan sulit untuk bisa dicarikan padanan kata yang pas dan presisi karena keterbatasan bahasa, sehingga para penerjemah sering ambil jalan pintas dengan menerjemahkannya dengan sederhana menjadi : Wahai.
Lafazh an-nas (الناس) bermakna manusia, dalam hal ini Allah SWT menyapa manusia yang mana termasuk juga selain orang beriman. Umumnya para mufassir mengenali ayat yang turun di masa Mekkah apabila panggilannya ditujukan kepada manusia (الناس).
Sebaliknya apabila panggilannya khusus hanya orang-orang beriman (يآأيها الذين آمنوا), itu menujukkan ciri bahwa ayat itu turun sudah di masa Madinah.
Para ulama fiqih menggunakan panggilan Allah SWT kepada manusia dalam ayat ini sebagai dasar bahwa orang-orang kafir yang bukan muslim tetap jadi objek dalam menjalankan perintah ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya.
Meskipun begitu, apabila orang kafir menjalankan perintah ibadah itu hukumnya tidak sah, karena syarat diterimanya ritual ibadah harus berstatus sebagai muslim. Ini bisa diibaratkan dengan perintah mengerjakan shalat bagi seorang muslim yang belum berwudhu’.
Dia wajib mengerjakan shalat dan berdosa bila meninggalkannya, namun kalau dia mau mengerjakan shalat dia harus berwudhu’ terlebih dahulu. Bila dia nekat mengerjakan shalat tapi belum berwudhu’, maka shalatnya tidak diterima.
Begitu juga dengan orang kafir, mereka tetap diwajibkan menjalankan ibadah-ibadah ritual sebagaimana kita sebagai muslim. Namun selama mereka belum membaca syahadat menjadi muslim, semua ibadah yang mereka lakukan tidak sah dan tidak diterima Allah SWT.
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. (QS. Al-Araf : 147)