ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh halalan (حَلَالًا) maknanya halal, dimana istilah halal ini sudah masuk terserap ke dalam bahasa Indonesia. Asalnya dari kata inhilal yang artinya terurai, maksudnya terurai dari simpul larangan (انْحِلَالِ عُقْدَةِ الْحَظْرِ عَنْهُ).
Perintah Makan Yang Halal
Perintah untuk memakan makanan yang halal bukan hanya ada di dalam ayat ini saja, di beberapa ayat lain juga muncul ketentuan yang sama, yaitu :
وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS. Al-Maidah : 88)
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. An-Nahl : 114)
Ketika para pemuda ashabul Kahfi terbangun dari tidur panjang selama 300 tahun ditambah dengan 9 tahun, mereka pun merasa lapar dan mengutus salah seorang dari mereka membeli makan. Pesan yang dimintakan adalah membeli makanan yang halal.
فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا
Dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih. (QS. Al-Kahfi : 19)
Selain di dalam Al-Quran, perintah makan makanan yang halal juga termuat dalam beberapa hadits, antara lain :
عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ ض قَالَ: قاَلَ رَسُولُ اللهِ r : إِنَّ اللهَ تَعَالىَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِينَ. فَقَالَ تَعَالىَ(يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحا). وقال تعالى(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَهُ إِلىَ السَّمَاءِ: يَا رَبّ يَا رَبّ وَمَطْعَمُهُ حرَام وَمَشْرَبُهُ حَرَام وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟
Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci. Dan Allah memerintahkan orang mukmin sebagaimana memerintahkan kepada para rasul dalam firman, ’Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan lakukanlah kesalehan’. Dan Allah berfirman, ‘Wahai orang beriman, makanlah dari rezeki yang kami berikan yang baik-baik’. Kemudian Rasulullah SAW menyebut seseorang yang melakukan perjalanan panjang hingga rambutnya kusut dan berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit menyeru, "Ya Tuhan, Ya Tuhan.” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan? (HR. Bukhari)
عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW,”Orang yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram, neraka lebih pantas baginya”. (HR. Al-Hakim) [1]
طَلَبُ الحَلاَلِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Mencari yang halal itu hukumnya wajib bagi setiap muslim. (HR. Ath-Thabrani)
Pengertian Halal
Sedang bahasa, halal itu adalah mubah, sebagimana dituliskan dalam kamus Al-Mu’jam Al-Wasith.[2] Sedangkan Ibnul Atsir mengatakan bahwa halal adalah :[3]
الحَلاَلُ هُوَ المُطْلَقُ مِنْ قَيْدِ الحَظَرِ
Sesuatu yang terbebas dari belenggu larangan.
Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam kitab Al-Halal wa Al-Haram fil Islam mendefinisi halal menjadi : [4]
المُبَاحُ اَّلذِي انْحَلَّتْ عَنْهُ عَقْدَ الحَظَرِ وَأَذَنَ الشَّارِعُ فيِ فِعْلِهِ
Kebolehan yang terlepas dari belenggu larangan dan Pembuat syariat memberi izin melakukannya.
[1] Al-Hakim, Al-Mustadrak ala Ash-Shahihain, jilid 4 hal. 141
[2] Nukhbah Min Al-Ulama, Al-Mu’jam Al-Wasith, (Cairo, Al-Majma’ Al-Lughawi) jilid 1 hal. 193
[3] Ibnu Al-Atsir, An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Islami, Cet. 1, 1383), jilid 1 hal. 428
[4] Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Al-Halal wa Al-Haram fil Islam, (Beirut, Al-Maktab Al-Islami, Cet. 7, 1393 H), hal. 13