ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh wala tattabi’u (وَلَا تَتَّبِعُوا) adalah fi’il nahiy yang intinya melarang dari suatu pekerjaan, yaitu janganlah mengikuti. Lafazh khuthuwaat (خُطُوَاتِ) merupakan bentuk jamak dari khuthwah (خُطُوَة) yang maknanya langkah. Larangan ini berarti janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.
Lafazh asy-syaithan (الشَّيْطَانِ) diterjemahkan menjadi setan yang sudah menjadi bahasa Indonesia baku. Akarnya dari kata syathana (شَطَنَ) yang berarti jauh, karena jauh dari kebaikan, kebenaran dan perintah Allah. Jadi, setiap yang membangkang kepada Allah swt disebut syaithan.
Namun secara wujud fisik, setan itu tidak selalu berupa jin atau makhluk ghaib, kadang manusia pun bisa juga disebut sebagai setan atau seperti setan, yaitu ketika peranan, perilaku dan akhlaqnya sebagaimana setan juga.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, (QS. Al-Anam : 112)
Di dalam Al-Qur'an diterangkan bahwa di antara tingkah laku keji setan adalah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga, menakut-nakuti akan kefakiran dan menyuruh melakukan kejahatan, menakut-nakuti agar tidak berbuat kebenaran, menipu manusia dengan kata-kata indah, mengelabui manusia sehingga kejahatan dan maksiat terlihat baik di matanya, menimbulkan kebencian dan permusuhan sesama manusia, membuat manusia lupa dari mengingat Allah, dan lain-lain. Karena itu, kita diperintahkan mewaspadai bisikan-bisikan setan, tidak mengikuti langkah-langkahnya, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan-godaannya.
Mengapa kita harus selalu waspada terhadap setan, karena dalam menjalankan aksinya menggunakan pendekatan tipu daya. Sehingga banyak orang yang terjebak. Secara logis bisa dipahami bahwa dalam rangka menyesatkan manusia, kerja setan memang sangat terstruktur mengikuti sunnatullah, yaitu semua dilakukan tidak secara sekaligus, tetapi selangkah demi selangkah.
Setan tidak akan menggoda orang dengan langsung menjadi pelaku dosa dan maksiat tingkat tinggi, tetapi justru melalui langkah-langkah kecil dalam arti dosa-dosa kecil terlebih dahulu.