ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh qaaluu (قَالُوا) artinya mereka berkata, maksudnya mereka menjawab ajakan itu dengan penolakan. Lafazh bal (بَلْ) bisa diterjemahkan menjadi : tidak mau atau bisa juga diterjemahkan menjdi : tetapi.
Lafazh alfaina (أَلْفَيْنَا) adalah fi’il madhi yang bermakna (وجدنا) yaitu : ‘mendapati’. Dan ada ayat-ayat lain yang jadi kembarannya :
قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". (QS. Al-Maidah : 104)
بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. (QS. Luqman : 21)
Lafazh aabaa-ana (آبَاءَنَا) adalah bentuk jamak dari ab (أَب) yang berarti : “ayah-ayah”. Bukan berarti ayahnya ada banyak, tetapi maksudnya urutan ayah, lalu ayahnya-ayah, lalu ayahnya ayahnya ayah dan terus ke atas.
Penyebutan ayah-ayah ini maksudnya adalah para pendahulu mereka dalam masalah agama. Disebut dengan ayah-ayah kami karena di masa lalu agama itu memang diwariskan turun temurun. Termasuk juga warisan mewarisi dalam masalah kenabian.
Namun dalam versi terjemah ke dalam Bahasa Indonesia, tiga sumber terjemahan yang selama kita gunakan, yaitu Kemenag RI, Prof. Qurasih Shihab dan Buya HAMKA sama-sama kompak menerjemahkannya menjadi : “nenek moyang”.
Penerjamahan seperti itu tidak salah juga, sebab kalau dihitung jarak dari zaman Nabi Musa hingga ke zaman dimana orang-orang Yahudi hidup bersama Nabi Muhammad SAW, memang cukup panjang durasinya. Diperkirakan Beliau hidup di sekitaran 1.300 tahun sebelum Masehi. Bila ditambahkan angka 610 tahun, maka jaraknya 19 abad. Sudah cukup untuk menyebut Nabi Musa sebagai nenek moyang.