ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Khusus di ayat ini Allah mengumpamakan mereka seperti hewan ternak yang tidak memahami bahasa manusia. Sebagai ternak, yang bisa mereka dipahami hanya teriakan penggembala yang mengusir atau menghalau mereka dengan teriakan dan jeritan. Sedangkan bila diajak diskusi dan tukar pikiran serta membahas masalah yang butuh pemikiran, jelas-jelas ternak itu tidak akan mampu melakukannya. Mereka hanya bisa memahami teriakan yang menghalau saja.
Lafazh yan’iqu (يَنْعِقُ) dimaknai dengan : “teriakan”. Makna aslinya adalah istilah khusus untuk menyebut suara yang diteriakkan oleh anak gembala kepada hewan-hewan yang digembalakannya. Memang untuk menghalau hewan ternak harus dengan teriakan yang keras agar mereka bisa mendengar dan memahami apa yang diperintahkan.
Sekedar catatan bahwa beberapa jenis hewan tertentu ada yang bisa diperintah oleh manusia lewat suara vokal dan lisan manusia. Kucing atau anjing peliharaan misalnya, bisa diperintah oleh tuannya untuk duduk, berbaring, pergi, datang dan lainnya. Namun itu hanya terjadi pada ruang lingkup yang amat terbatas serta lewat latihan yang intensif.
Sedangkan kambing, sapi atau unta biasanya tidak secerdas itu. Ternak semacam itu tidak bisa diperintah pakai suara manusia, kecuali untuk menghalau saja lewat teriakan tertentu. Suara teriakan anak gembala ketika menghalau ternaknya itulah yang disebut dengan yan’iqu (يَنْعِقُ)