ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh yasma’u (يَسْمَعُ) secara harfiyah berarti : “mendengar”. Namun yang dimaksud sebenarnya bukan sekedar mendengar tetapi lebih jauh dari maksudnya adalah : memahami perkataan manusia.
Sesuai dengan sunnatullah, hewan-hewan ternak seperti kambing, sapi atau unta itu meski bisa mendengar suara manusia, namun pada dasarnya tidak bisa memahami apa yang diucapkan oleh manusia. Otak ternak tidak didesain untuk bisa memahami bahasa verbal manusia yang terlalu kompleks bagi hewan, karena terdiri dari kombinasi suara vokal, konsonan, kata, frasa, dan lainnya.
Lafazh illa (إِلَّا) maknanya : “kecuali”, maksudnya hewan tidak bisa mendengar alias tidak bisa memahami bahasa manusia, kecuali hanya bisa menangkap perintah yang sederhana, yaitu dinamakan dengan du’a (دُعَاءً) dan nida’ (نِدَاءً).
Lafazh du’a (دُعَاءً) dan nida’ (نِدَاءً) oleh para ulama dipahami secara berbeda-beda. Dalam tiga versi terjemahan, baik Kemenag RI, Quraish Shihab atau pun Buya HAMKA. keduanya diartikan secara sederhana menjadi ‘panggilan’ dan ‘seruan’ atau ‘teriakan’.
Sebagian ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa antara keduanya tidak ada bedanya secara makna, hanya sekedar sinonim yang fungsinya hanya menguatkan saja, tanpa ada sedikit pun perbedaan makna. Baik du’a (دُعَاءً) ataupun nida’ (نِدَاءً) dianggap sama-sama panggilan khusus untuk hewan.
Namun sebagian ulama ahli tafsir yang lain punya pandangan bahwa keduanya tidak mungkin dianggap sama. Dasarnya karena antara keduanya dipisahkan dengan huruf wawul-‘athaf (وَ).
Hanya saja mereka tidak sependapat ketika menjelaskan makna masing-masing. Ada yang bilang du’a (دُعَاءً) itu panggilan yang terdengar suaranya, sedangkan nida’ (نِدَاءً) adalah panggilan yang bisa terdengar dan bisa tidak. Ada lagi yang mengatakan bahwa du’a (دُعَاءً) itu panggilan untuk sesuatu yang dekat, sedangkan nida’ (نِدَاءً) adalah panggilan untuk sesuatu yang jauh.
Ibnu Asyur mengatakan bahwa du’a (دُعَاءً) adalah suara-suara yang digunakan untuk berkomunikasi dengan domba yang menandakan perintah.[1]
[1] Thahir Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984), jilid 2 hal. 113