ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh shummum (صُمٌّ) bermakna tuli alias tidak bisa mendengar. Sebenarnya ternak itu tidak tuli karena dia bisa mendengar suara. Namun karena tidak paham apa yang didengarnya, maka di ayat ini disamakan saja dengan tuli.
Lafazh bukmun (بُكْمٌ) maknanya adalah bisu, tidak bisa berkata berkata-kata dan berucap. Ternak itu sebenarnya tidak bisu, karena bisa mengeluarkan suara khas masing-masing. Namun suara ternak itu tidak bisa dipahami oleh manusia selain hanya berisik tidak enak di telinga, juga tidak mengandung informasi verbal. Seperti suara keledai yang digambarkan Al-Quran :
إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman : 19)
Lafazh ‘umyun (عُمْيٌ) dimaknai sebagai buta atau tidak bisa melihat. Sebenarnya ternak-ternak itu bisa melihat, namun karena tidak paham dan tidak bisa menganalisa apa yang dilihatnya, maka disejajarkan kedudukannya sama dengan buta.
Lafazh fahum la ya’qilun (فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ) artinya bahwa ternak-ternak itu tidak punya akal. Dan keadaan ternak inilah yang diumpamakan kepada orang-orang kafir itu.