ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh ma razaqna-kum (مَا رَزَقْنَاكُمْ) artinya : “apa yang kami berikan kepada kamu sebagai rejeki”. Ungkapan ini seakan menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud dengan thayyib itu lebih menekankan sisi cara mendapatkannya dan bukan sisi kandungannya.
Dari ungkapan ini bisa ditarik kesimpulan bahwa rejeki yang Allah SWT berikan itu ada yang hukumnya halal dan ada yang hukum haram. Maka penekanannya lebih diarahkan agar kita memilih rejeki yang halal dan menjauhkan diri dari mendapat rejeki yang haram.
Bentuk-bentuk rejeki yang haram dalam kriteria cara mendapatkannya antara lain dari hasil menipu, mencuri, menguasai hak anak yatim, termasuk juga ketika berlaku tidak amanah dalam urusan hak-hak orang lain.
1. Haram Makan Harta Sesama
Allah SWT mengharamkan kita saling memakan harta sesama kita dengan cara yang batil.
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil. (QS. Al-Baqarah : 188)
2. Haram Berlaku Curang
Allah SWT telah melarang kita melakukan tindak kecurangan ketika menimbang barang dagangan.
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS. Al-Muthaffifin : 1-3)
3. Haram Makan Harta Anak Yatim
Begitu juga Allah SWT mengharamkan kita memakan harta anak yatim dan menyebutkan bahwa makan harta anak yatim itu seperti kita memakan api neraka.
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. An-Nisa : 10)
4. Mencatat Hutang
Dan agar jangan sampai kita saling memakan harta sesama kita dengan cara yang batil, Allah SWT berpesan agar dalam urusan jual-beli yang tidak tunai atau hutang piutang, kita wajib mencatatnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu´amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS. Al-Baqarah : 282)
5. Haram Berkhianat
Al-Quran juga mewanti-wanti kita agar jangan berkhianat dalam hal-hal yang menjadi amanat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfal : 27)
6. Hukum Potong Tangan Pencuri
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah : 38)
7. Haram Makan Riba
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Ali Imran : 130)