ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Para ulama berbeda pendapat tentang kepada siapakah ayat ini ditujukan ketika turun di masa kenabian. Sebagian mengatakan ayat ini ditujukan kepada kaum Yahudi di Madinah yang masih tidak rela menerima kenyataan bahwa kaum muslimin akhirnya berpindah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjid Al-Haram di Mekkah.
Ibu Jarir Ath-Thabari menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk kaum Yahudi dan Nasrani, karena terkait dengan konteks ayat-ayat sebelumnya yang juga sedang membicarakan keberatan pemeluknya dengan pemindahan kiblat kaum muslimin.[1]
Namun sebagian ulama lain meragukan hal itu, karena konten ayat ini banyak menyebut hal-hal terkait keimanan kepada Allah, malaikat, kitab suci dan juga keimanan kepada para nabi. Kalau ada ayat Al-Quran bertema keimanan seperti ini, rasanya lebih tepat ditujukan kepada kaum musyrikin Arab dimana mereka memang bermasalah dengan tema-teman keimanan mendasar. Sedangkan kaum Yahudi umumnya tidak bermasalah dengan rukun iman yang enam, sebab di masanya justru mereka lah yang berdakwah kemana-mana tentang rukun iman yang enam itu.
Prof. Dr. Quraish Shihab menyebutkan bahwa yang lebih baik adalah pandangan bahwa ayat ini diturunkan untuk semua pihak, bukan hanya khusus buat kalangan tertentu, entah itu Yahudi, Nasrani atau orang-orang musyrikin Arab saja. Beliau menegaskan bahwa ayat ini menggarisbawahi kekeliruan bahwa banyak di antara mereka yang hanya mengandalkan shalat atau sembahyang saja. Ayat ini bermaksud menegaskan bahwa yang demikian itu bukan kebajikan yang sempurna, atau bukan satu-satunya kebajikan.[2]
[1] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M), jilid 3 hal. 338
[2] Prof. Dr. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017), jilid 1 hal. 467-468