ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh aamana (آمَنَ) artinya beriman, yaitu meyakini eksistensi Allah SWT. Bisa kita komparasikan dengan dialog antara Nabi Ibrahim dengan Allah SWT yang menanyakan apakah Ibrahim tidak yakin.
قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ
Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya (QS. Al-Baqarah : 260)
Sebenarnya kalau hanya berhenti sampai ke titik menyakini keberadaan Allah SWT, tidak ada sedikit pun masalah antara dakwah Nabi Muhammad SAW dengan apa yang diyakini oleh bangsa Arab musyrikin kala itu. Mereka semua juga meyakini keberadaan Allah. Mereka namakan Ka’bah dengan Baitullah yaitu rumah milik Allah. Setiap mengawali pekerjaan yang baik, mereka ucapkan bismikallahuma (بسمك اللهم). Bahkan seorang Abdul Muththalib menamakan anak bungsunya dengan nama : hamba Allah alias Abdullah.
Sejatinya justru tidak pernah ditemukan dalam sejarah antropologi peadaban manusia sebuah tatanan masyarakat yang tidak bertuhan, apapun konsep ketuhanannya. Dan masyarakat musyrikin Arab justru sudah lebih spesifik, yaitu mereka mengenal tuhannya bernama Allah dan meyakini keberadannya sebagai tuhan.
Lantas apa yang membedakan antara imannya Nabi SAW dengan imannya kaum musyrikin Arab? Jawabannya adalah sambungan berikutnya yaitu iman kepada hari akhir, malaikat, kitab suci dan para nabi.