ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Orang kafir musyrikin tidak beriman dan menolak mati-matian konsep hari akhir, mulai dari alam barzakh, hari kiamat, hari kebangkitan, hisab, hari pembalasan, surga, neraka dan seterusnya. Dan pada titik itulah duduk persoalan yang sesungguhnya yang telah mengharu-biru perjalanan dakwah Nabi SAW selama ini.
Maklum saja, karena keberadaan nabi terakhir di negeri mereka memang sudah terlalu lama jaraknya, sehingga kalau urusan keimanan kepada hari akhir itu sudah lenyap tak berbekas di negeri mereka, kita bisa memahami konteksnya. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah dua nabi yang disebut-sebut dalam sejarah sebagai nabi yang pernah datang ke Mekkah.
Para sejarawan di hari ini memperkirakan bahwa Nabi Ibrahim itu hidup sekitar tahun 1997 sebelum Masehi. Berarti jarak waktu yang terbentang hingga kehidupan bangsa Arab di masa kelahiran Nabi Muhammad SAW tahun 571 Masehi cukup jauh. Kira-kira 26 abad lamanya. Wajar bila mereka masih kenal Allah, Baitullah dan Ibrahim, tetapi mereka sudah kehilangan jejak terhadap keyakinan samawi, baik itu kitab suci, kenabian, malaikat dan juga konsep hari akhir.
Keadaannya jauh berbeda dengan karakteristik kekafiran orang-orang di Madinah sewaktu Nabi SAW hijrah. Mereka kebanyakannya sudah banyak bergaul dengan para pendatang Yahudi sejak lama, sehingga konsep keimanan kepada malaikat, kenabian, kitab suci, syariah, hari akhir dan lainnya, bukan hal yang asing lagi bagi Arab Madinah di masa itu.
Oleh karena itulah ketika menyatakan beriman, orang-orang munafikin yang mana mereka merupakan penduduk Madinah, sudah dengan lengkap menyebutkan point-point utama keimanan, yaitu beriman kepada Allah dan kepada hari akhir.