ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Bangsa Arab musyrikin juga tidak mengenal konsep kenabian. Memang mereka mengenal leluhur mereka Nabi Ibrahim dan Ismail, namun dalam sudut pandang mereka, keduanya bukan utusan Allah. Keduanya hanya tokoh besar yang mereka muliakan. Tidak ada hubungannya dengan wahyu dan syariat yang turun dari langit.
Kalau pun dijelaskan bahwa Allah SWT mengutus nabi dan rasul membawa risalah, mereka pun mempertanyakan, kenapa utusan Allah SWT hanya berupa manusia biasa yang memakan makanan dan berjalan di pasar?
وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ ۙ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا
Dan mereka berkata: "Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?, (QS. Al-Furqan : 7)
Dalam logika mereka, kalau pun misalnya Allah SWT mengutus utusan dari langit membawa risalah, setidak-tidaknya jangan berupa manusia biasa.
فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ
Maka mereka berkata: "Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?" Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila". (QS. Al-Qamar : 24)
Konsep al-birr di bidang yang pertama berhenti sampai disini, yaitu meyakini keberadaan Allah, hari akhir, malaikat dan kitab.