ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh ash-shabirin (الصابرين) secara bahasa berarti orang yang sabar. Dan sabar itu sendiri bermakna menahan, atau lengkapnya adalah sebagaimana didefinisikan oleh Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-Uyun adalah :
حَبْسُ النَّفْسِ عَمّا تُنازَعُ إلَيْهِ
Menahan diri atas apa yang apa yang diperselisihkan.[1]
Ibnu Katsir mengutipkan atsar dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu bahwa ada dua kesabaran, yaitu adalah sabar atas musibah dan sabar dalam ketaatan.
الصَّبْرُ صَبْرَانِ: صَبْرٌ عِنْدَ الْمُصِيبَةِ حَسَنٌ، وَأَحْسَنُ مِنْهُ الصَّبْرُ عَنْ محارم الله
Sabar itu ada dua macam. Pertama, sabar ketika mendapat musibah dan itu baik. Kedua, sabar dari mengerjakan perbuatan diharamkan Allah dan itu lebih baik.[2]
Sedangkan Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab tafsirnya Ad-Dur Al-Mantsur fi At-Tafsir bil Ma’tsur mengutipkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib yang menyebutkan bahwa Nabi SAW membagi sabar itu menjadi tiga macam jenis kesabaran.
الصَّبْر ثَلَاثَة فَصَبْرٌ عَلىَ الْمُصِيبَة وَصَبْرُ عَلىَ الطَّاعَةِ وَصَبْرُ عَلىَ الْمعْصِيَة
Sabar itu tidak macam, yaitu sabar dari musibah, sabar atas taat dan sabar dari mengerjakan maksiat.[3]
Al-Baihaqi menuliskan dalam Syu’abul Iman sebuah riwayat Nabi SAW yang bersabda :
واعْلَمْ أنّ الصَّبْر على ما تَكْرَه خيرٌ كثيرٌ، وأنَّ النَّصْر مَع الصَّبْر، وأنّ الفَرَج مع الكَرْب، وأنّ مع العُسر يسرّا
Dan ketahuilah bahwa kesabaran terhadap apa yang kamu benci adalah kebaikan yang banyak, dan bahwa kemenangan datang dengan kesabaran, dan bahwa kemudahan datang setelah kesulitan, dan bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan.(HR. Al-Baihaqi). [4]
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menuliskan bahwa sabar di dalam ayat ini adalah sebuah ungkapan yang punya makna di luar makna aslinya tetapi makna metafora, yaitu yang dimaksud dengan sabar disini artinya adalah ibadah puasa.[5]
Makna al-ba’sa’ (الْبَأْسَاءِ) artinya keadaan yang sempit dan kemiskinan. Lafazh adh-dharra’ (وَالضَّرَّاءِ) artinya sakit. Sedangkan hinal-ba’s (وَحِينَ الْبَأْسِ) artinya dalam keadaan perang.
[1] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1), jilid 1 hal. 115
[2] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M), jilid 1 hal. 251
[3] As-Suyuthi (w. 911 H), Ad-Dur Al-Mantsur fi At-Tafsir bil Ma’tsur (Beirut, Darul-Fikr, Cet. 1) jilid 1 hal. 159
[4] Al-Baihaqi (w. 458 H), Syu’abul Iman (Riyadh, Maktabah Ar-Rusyd li An-Nasyr wa At-Tauzi’, Cet. 1, 1423 H – 2003 M), jilid 1 hal. 351
[5] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid 1 hal, 390