ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Ayat ke-174 ini menelanjangi perilaku busuk para ulama Bani Israil yang menyembunyikan bukti kenabian Muhammad SAW di dalam Taurat dan menjualnya dengan harga yang sedikit. Kepada mereka Allah mengancam bahwa di akhirat nanti mereka akan memakan api neraka dan tidak akan diajak bicara oleh Allah SWT, juga tidak akan disucikan.
Kita bisa mengetahui penjelasan seperti di atas berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas radhiyallahuanhu sebagaimana dikutipkan oleh Fakhruddin Ar-Razi.[1]
Menurut Ibnu Abbas ayat ini diturunkan demi untuk membongkar kebusukan para pemuka agama Yahudi. Nama-nama mereka antara lain adalah Ka’ab bin Al-Asyraf, Ka’ab bin Asad, Malik bin Ash-Shaif, Huyai bin Akhtab, Abu Yasir bin Akhtab. Tokoh agamawan ini mendapatkan kedudukan yang cukup tinggi di tengah-tengah para pemeluk agama Yahudi dan berlimpah ruah dengan hadiah dan berbagai penghargaan yang bersifat material. Dari hasil sumbangan para pengikut agama yahudi itulah mereka hidup makmur dan berlimpah dengan kekayaan.
Lalu mereka merasa terancam apabila Allah SWT menurunkan seorang nabi di tengah-tengah mereka. Sebab secara logika, kedudukan mereka yang sudah enak pasti akan tergeser. Tidak bisa lagi menikmati keuntungan secara material karena perhatian orang pasti teralihkan untuk langsung mentaati seorang nabi yang memang utusan Allah, ketimbang mengikuti tokoh agama yang kedudukannya hanya manusia biasa.
Oleh karena itulah mereka bersekongkol dengan sesama untuk menyembunyikan informasi tentang kenabian Muhammad SAW yang ada di dalam kitab suci Taurat.
Kalau kita cermati, tema seperti ini punya kesamaan tema dan objek dengan ayat ke-159, yaitu sama-sama menelanjangi perilaku busuk ulama Yahudi yang sama-sama menyembunyikan informasi kenabian Muhammad SAW di dalam Taurat.
Bedanya kalau di ayat ke-159 hukumannya dilaknat oleh Allah, malaikat dan manusia, maka di ayat ke-174 ini ancamannya adalah dikaitkan dengan memasukkan api ke dalam perut dan tidak diajak bicara di hari kiamat nanti.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid 5 hal. 204