ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh inna (إِنَّ) bermakna : “sesungguhnya”, sedangkan alladzina (الَّذِينَ) artinya “orang-orang yang”. Lalu yaktumuna (يَكْتُمُونَ) sendiri asalnya dari (كَتَمَ - يَكْتُمُ), maknanya adalah : “menyembunyikan”. Sedangkan ungkapan maa anzalallah (مَا أَنْزَلَ اللَّهُ) secara harfiyah berarti : “apa yang Allah SWT turunkan”. Lalu lafazh minal-kitab (مِنَ الْكِتَابِ) maknanya adalah : “yang ada di dalam kitab”, maksudnya kitab suci yang turun kepada bangsa Yahudi yaitu Kitab Taurat.
Pertanyaannya dalam urusan menyebunyikan ini adalah : siapa menyembunyikan apa dari siapa?
Jawabannya pihak yang menyembunyikan itu adalah para pemuka dan agamawan Yahudi. Mereka menyembunyikan informasi kenabian Muhammad yang sebenarnya ada di dalam Taurat. Sedangkan siapakah pihak yang disembunyikan, tidak lain adalah para pemeluk agama Yahudi alias orang-orang awam mereka.
Menurut Al-Mawardi ada dua hal yang disembunyikan dari isi Taurat. Pertama, mereka menyembunyikan informasi yang menjelaskan ciri-ciri fisik Nabi Muhammad SAW dengan cirinya yang terkonfirmasi secara sah 100% mengarah kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua, mereka juga menyembunyikan informasi akan adanya nabi yang akan turun sebagai nabi terakhir sebelum terjadinya kiamat, yang posisinya mengangulir semua syariat samawi yang pernah diturunkan.[1]
Pertanyaan berikutnya : dengan cara apa mereka menyembunyikan informasi tentang kenabian Muhammad SAW kepada umatnya? Bukankah semua orang yahudi pun bisa membaca sendiri isi Taurat mereka? Jawabannya ada dua kemungkinan :
Pertama, kitab Taurat itu konon hanya ada di kalangan elit agamawan, sedangkan umatnya tidak membacanya. Maka tokoh agama mereka memanfaatkan keawaman umatnya dengan cara tidak membahas isi Taurat terkait kedatangan nabi Muhammad SAW.
Kedua, ada yang mengatakan isi Taurat itu bisa diakses oleh semua kalangan, bahkan kalangan awam pun bisa membaca isinya yang salah satunya ada informasi terkait kenabian Muhammad SAW. Namun para tokoh agamawan yahudi itu kemudian membelokkan tafsirannya dengan yang lain.
[1] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1), jilid 1 hal. 223