ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Ramadhan adalah nama bulan yang berada pada urutan kesembilan dari 12 bulan dalam kalender qamariyah atau hijriyah.
Nama Ramadhan sudah digunakan oleh bangsa Arab jauh sebelum masa kenabian Muhammad. Para ahli bahasa Arab mengatakan bahwa istilah Ramadhan itu bermakna sesuatu yang amat panas.
Namun Mujahid agak enggan menggunakan istilah Ramadhan, karena menurut beliau ada kemungkinan istilah Ramadhan adalah salah satu bagian dari nama-nama Allah yang baik (al-asma al-husna). Namun karena Allah SWT sendiri menyebut bulan tersebut dengan istilah Syahru Ramadhan, maka kita tetap boleh memakainya.[1]
Kewajiban puasa bulan Ramadhan disyariatkan pada tanggal 10 Sya‘ban di tahun kedua setelah hijrah Nabi SAW ke Madinah. Waktunya kira-kira sesudah diturunkannya perintah penggantian kiblat dari masjidil Al-Aqsha ke Masjid Al-Haram.
Semenjak itulah Rasulullah SAW menjalankan puasa Ramadhan hingga akhir hayatnya sebanyak sembilan kali dalam sembilan tahun. Berikut tabel rinciannya :
Tahun ke 2 hijriah
Ramadhan Pertama
Tahun ke 3 hijriah
Ramadhan Kedua
Tahun ke 4 hijriah
Ramadhan Ketiga
Tahun ke 5 hijriah
Ramadhan Keempat
Tahun ke 6 hijriah
Ramadhan Kelima
Tahun ke 7 hijriah
Ramadhan Keenam
Tahun ke 8 hijriah
Ramadhan Ketujuh
Tahun ke 9 hijriah
Ramadhan Kedelapan
Tahun ke 10 hijriah
Ramadhan Kesembilan
Tahun ke 11 hijriah
- Sudah wafat pada Rabiul Awal -
An-Nawawi (w. 676 H) menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :
صام رسول الله صلى الله عليه وسلم رمضان تسع سنين لأنه فرض في شعبان في السنة الثانية من الهجرة وتوفي النبي صلى الله عليه وسلم في شهر ربيع الأول سنة إحدى عشرة من الهجرة
Rasulullah SAW berpuasa Ramadhan selama 9 tahun. Sebab puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua hijriyah, lalu beliau SAW wafat bulan Rabi'ul Awwal tahun kesebelas hijriyah.[2]
[1] Al-Imam Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan an Ta’wil Ayil Quran (Tafsir Ath-Tahabari), jilid 3 hal. 444
[2] An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 6 hal. 250