ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Berbeda dengan ayat ke-2 surat Al-Baqarah yang menyebutkan bahwa Al-Quran adalah petunjuk bagi orang yang bertakqwa, di ayat ini justru ditegaskan bahwa Al-Quran menjadi petunjuk buat umat manusia. Lantas apakah telah terjadi ta’arudh atau pertentangan antara kedua ayat ini?
Jawabannya tentu saja tidak, namun dari kedua ayat itu bisa kita gabungkan pemahaman bahwa memang ada dua jenis hidayah, yaitu hidayah dalalah (هِدَيَةُ دَلَالَة) dan hidayah irsyad (هِدَيَةُ إرشاد).
Ketika Al-Quran menyebutkan dirinya adalah petunjuk buat semua manusia, maksudnya sedang menyebut hidayah orang bertaqwa, maksudnya sedang menyebut jenis hidayah dalalah (هِدَيَةُ دَلَالَة), dimana Al-Quran menjadi petunjuk yang sudah tersedia bagi umat manusia. Siapa saja yang bisa menggunakan hidayah itu. Kemudian bila ada di antara manusia mengambil hidayah dari Al-Quran dan menjadi orang bertaqwa, jadilah saat itu Al-Quran berfungsi sebagai hidayah irsyad (هِدَيَةُ إرشاد).
Dengan kata lain bisa juga hidayah itu dibagi dua, yaitu hidayah umum dan hidayah khusus. Contoh hidayah umum ketika Allah SWT menyebutkan telah memberi hidayah kepada kaum Tsamud (وأما ثمود فهدينهم) pada surat Fushshilat ayat 17. Itu maksudnya hidayah dalam arti yang sangat umum, yaitu sudah diutus kepada mereka nabi yang membawa hidayah.
Namun apakah mereka mengambil hidayah itu atau tidak, itu lain cerita. Dan ternyata mereka lebih suka kebutaan dari pada petunjuk (فَاسْتَحَبُّوا العُمْيَ عَلىَ الهُدَى), maka mereka tidak mendapatkan hidayah dalam arti hidayah yang khusus.
Maka kalau dikaitkan dengan ayat ini yang menyebut Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, maksudnya sedang bicara terkait hidayah umum, bahwa semua manusia dengan turunnya Al-Quran ini sudah diberi kesempatan mendapatkan hidayah. Tinggal mereka pilih apakah mau menjadikan Al-Quran betul-betul sebagai hidayah atau tidak.