ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Fakhruddin Ar-Razi mencantum delapan riwayat yang berbeda terkait asbabun-nuzul ayat ini :
1. Pertama, diriwayatkan bahwa Nabi Musa alaihissalam bertanya kepada Allah SWT tentang apakah Allah SWT itu jauh atau dekat.
يا رَبِّ أقَرِيبٌ أنْتَ فَأُناجِيكَ، أمْ بَعِيدٌ فَأُنادِيكَ؟ فَقالَ: يا مُوسى أنا جَلِيسُ مَن ذَكَرَنِي
Wahai Tuhanku, apakah Engkau dekat sehingga Aku cukup berbisik ataukah jauh sehingga Aku harus berseru memanggil-Mu? Allah SWT menjawab,”Wahai Musa, Aku bersama orang yang berdzikir kepada-Ku.
2. Kedua, ada seorang Arab dusun datang kepada Nabi SAW dan bertanya,” Tuhan kita itu dekat sehingga cukup disapa atau jauh sehingga kita harus mengeraskan suara?. Maka turunlah ayat ini.
3. Ketiga, dalam suatu peperangan ada sebagian shahabat yang berdoa dengan mengeraskan suara dalam takbir, tahlil dan doa. Lalu Nabi SAW menegur mereka dengan mengatakan bahwa kalian itu bukan sedang berdoa kepada tuhan yang tuli dan ghaib, tetapi Dia itu Maha Mendengar dan dekat.
4. Keempat, Qatadah meriwayatkan bahwa ada sebagian shahabat bertanya kepada Nabi SAW tentang bagaimana cara berdoa kepada Allah SWT. Maka turunlah ayat ini.
5. Kelima, Atha’ dan lainnya meriwayatkan bahwa para shahabat bertanya kapan waktunya memanggil Allah SWT dengan suara keras, lalu turunlah ayat ini.
6. Keenam, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa orang Yahudi di Madinah bertanya,”Wahai Muhammad, bagaimana Tuhanmu mendengar doamu?”. Maka turunlah ayat ini.
7. Ketujuh, Al-Hasan berkata bahwa ada sebagian shahabat bertanya tentang dimanakan Tuhan kita, maka turunlah ayat ini.
8. Kedelapan, bahwa ketika awal mula diwajibkan puasa sebagaimana umat terdahulu berpuasa, rupanya setelah berbuka sudah harus langsung puasa lagi, dan sebagian shahabat ada yang makan dan minum. Mereka pun menyesal dan bertaubat sambil bertanya-tanya,”Apakah Allah SWT menerima taubat mereka”. Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban.