ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh ad-dda’i (الدَّاعِ) artinya : “orang yang memanggil”, maksudnya orang yang meminta. Lafazh idza da’ani (إِذَا دَعَانِ) artinya : “apabila dia meminta kepadaku”. Dari penggalan ini setidaknya ada dua perkara penting dalam konteks ini.
Pertama adanya permintaan. Permintaan itu adalah ucapan secara lisan, bukan sekedar keinginan atau kehendak di dalam hati. Maka Iblis ketika meminta dipanjangkan umurnya, dia bercakap-cakap secara langsung dengan Allah SWT dan bukan hanya sekedar memendam keinginan di dalam hati.
Kedua, permintaan itu dilakukan oleh orang yang statusnya resmi sebagai orang yang meminta. Artinya memintanya bukan hanya sekali tetapi berkali-kali sehingga disebut sebagai ad-da’i (الدّاعي). Bedakan antara penyanyi dengan orang yang bernyanyi. Penyanyi adalah orang yang menyanyi sudah jadi pekerjaannya, bukan sekedar sesekali menyanyi.
Kalau penggalan ini dikaitkan dengan Allah yang ‘dekat’, maka maksudnya bukan dekat secara posisi, melainkan sebuah metafora atau ungkapan yang mendalam tentang bagaimana Allah SWT mendengar semua permohonan hamba-Nya dan mengabulkannya.
Terkait dengan ungkapan bahwa Allah SWT mengabulkan semua permintaan siapa pun yang meminta kepada-Nya, memang unik juga. Sebab tidak harus orang itu punya prestasi dalam ibadah sekalipun, tetap bisa saja Allah SWT kabulkan permintaannya.
Bayangkan bagaimana durhakanya Iblis laknatullah ketika menolak diperintah untuk sujud kepada Adam. Seharusnya permintaan Iblis untuk bisa hidup lama hingga hari akhir tidak perlu dikabulkan. Ternyata meski Iblis durhaka kepada Allah, namun dia tetap saja meminta kepada Allah SWT dengan permintaan yang aneh, yaitu minta dipanjangkan umur. Dan permintaan itu dikabulkan Allah SWT.
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ
Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh". (QS. Al-A’raf : 14-15)
Namun sekali lagi bahwa fenomena pengabulan doa ini memang unik. Tidak mentang-mentang ada hamba yang taat dan menjalani semua perintah Allah SWT, lantas semua doa yang dipanjatkan pasti langsung dikabulkan.
Boleh jadi dikabulkan tetapi tidak dalam waktu dekat, bisa saja ditunda selama sekian waktu, seperti yang dialami oleh Nabi Zakaria.
ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya´qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai".
Setelah tua renta barulah Allah SWT mengabulkan doanya.
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.