ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Makna al-fajr adalah cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Beberapa jam sebelum matahari terbit, di ufuk timur tampak cahaya kuning kemerah-merahan yang menjadi waktu berakhirnya gelap malam menuju siang yang terang benderang.
Cahaya tersebut merupakan pembiasan cahaya matahari oleh partikel-partikel yang ada di angkasa. Semakin dekat posisi matahari terhadap ufuk, semakin terang pula cahaya tersebut. Dalam astronomi, cahaya tersebut dikenal dengan istilah twilight atau cahaya fajar. Kondisi ini terjadi saat posisi matahari masih berada antara - 18˚ sampai - 12˚ di bawah ufuk. Dalam keadaan ini, benda-benda di lapangan terbuka belum tampak batas-batas bentuknya. Semua bintang baik yang terang maupun yang samar masih tampak.
Namun posisi geografis suatu tempat ternyata amat besar pengaruhnya dalam hal penampakan fajar ini. Bila atmosfer cukup tinggi baas atasnya seperti atmosfer negeri kita, maka fajar lebih cepat nampak, sebaliknya bila batas atmosfer lebih rendah, maka fajar lebih lambat terlihat.
Tinggi rendahnya atmosfir itu sangat terkait dengan garis Khatulistiwa dan bagian kutub yang merupakan dua poros bumi. Akibat gerakan rotasi bumi pada porosnya, maka konsentasri atmosfer lebih banyak di bagian khatulistiwa ketimbang di bagian kutub.
Ketebalan atmosfer yang berbeda ini bisa kita ibaratkan seperti ada dua gunung. Gunung yang satu lebih tinggi dari gunung yang kedua. Saat matahari terbit di pagi hari, maka puncak gunung yang pertama itu akan mendapat cahaya matahari terlebih dahulu baru kemudian puncak gunung yang kedua. Puncak gunung yang terkena cahaya matahari terlebih dahulu inilah yang kita ibaratkan itu namanya fajar. Karena pada hakikatnya nya fajar itu adalah pantulan sinar matahari yang tertangkap pada atmosfer kita.
Karena Indonesia berada di daerah khatulistiwa dan ketebalan atmosfer di khatulistiwa itu memang lebih tinggi dari daerah lainnya, maka orang-orang yang tinggal di Indonesia akan melihat mendapatkan fajar itu datang lebih cepat. Sebaliknya negeri yang agak jauh dari khatulistiwa, karena ketebalan atmosfer yang lebih rendah, mereka lebih lambat dalam melihat berkas cahaya matahari yang tertangkap pada lapisan terluar atmosfer nya.
Maka wajar bila di Indonesia Subuh itu lebih cepat karena fajar lebih cepat terlihat meski posisi matahari baru berada 20 derajat di bawah ufuk. Dalam posisi seperti itu ternyata sinarnya sudah tertangkap lewat atmosfer kita yang tebal.
Sementara di beberapa negara Arab yang memang jauh dari khatulistiwa, maka ketebalan atmosfer mereka lebih rendah, sehingga nampak fajar datang belakangan daripada di daerah khatulistiwa.