ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Selain Ramadhan juga ada bulan Dzul-hijjah yang juga terkait dengan ritual haji, yaitu pada tanggal 9 untuk melakukan ibadah wuquf di padang Arafah. Tanggal 9 itu pun jadi tanggal penting untuk berpuasa sunnah. Lalu pada tanggal 10 ada ritual shalat Idul Adha dan menyembelih hewan qurban. Khusus untuk menyembelih hewan qurban, tanggalnya bisa dieksten dengan tanggal 11, 12 dan 13.
Lalu bagaimana nasib pertanyaan ilmiyah terkait perubahan bentuk bulan? Kenapa Allah SWT sepertinya enggan menjelaskannya?
Ada banyak dugaan dan kemungkinan. Namun yang paling menarik dari semua itu bahwa pertanyaan para shahabat itu kurang relevan dengan tema besar Al-Quran yang merupakan kitab petunjuk dalam ritual ibadah. Sementara tema yang diajukan sama sekali tidak terkait dengan peribadatan, tetapi tema yang sifatnya ilmiyah.
Lantas kenapa Al-Quran tidak menjelaskan saja bagaimana proses perubahan bentuk bulan? Bukankah Al-Quran merupakan kitab ilmu pengetahuan juga?
Al-Quran vs Sains
Penulis cenderung kepada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran memang tidak meladeni pertanyaan yang bersifat sains, karena beberapa faktor :
Pertama, urusan sains itu tidak perlu dijelaskan dalam Al-Quran. Sebab kalau pun dijelaskan, pastinya tidak akan percaya juga. Kalau di abad ke 7 masehi itu secara tegas Al-Quran membicarakan bahwa bulan tidak pernah berubah bentuk, tentu mereka menolak mentah-mentah. Sebab yang mereka lihat bulan setiap hari berubah bentuk.
Kita di zaman modern ini dengan mudah sudah menemukan jawabannya. Sebenarnya yang kita lihat dari bumi atas berubah-ubahnya bentuk bulan ternyata tidak terkait dengan perubahan bentuk fisik bulan, melainkan lebih kepada permainan cahaya.
Bulan sendiri bentuknya bulat seperti bola raksasa yang berjarak 380 juta km dari bumi. Bulan bergerak para porosnya sekaligus juga bergerak mengelilingi bumi sebulan sekali. Namun bulan tidak mengeluarkan cahaya sendiri, sehingga di angkasa bulan itu sebenarnya tidak akan nampak.
Adapun yang kita lihat ada bagian belahan bulan yang terkena sinar matahari di permukaannya. Sebenarnya setiap saat bulan itu tidak pernah sekalipun tidak mendapat cahaya matahari. Namun karena bentuknya yang bulat, tentu tidak semua permukaan bulan bisa terkena sinar matahari. Permukaan bulan yang terkena sinar matahari itu akan nampak di mata kita dari bumi, sementara permukaan bulan yang tidak terkena sinar matahari tentunya tidak bisa terlihat dari bumi.
Dalam kondisi tertentu, posisi bumi berada pada bagian belakang bulan yang tidak menghadap matahari, maka dari bumi bulan tidak nampak, meskipun sebenarnya ada disitu. Nanti di hari yang lain, posisi bumi berada sudut bisa melihat semua bagian permukaan bulan yang terkena sinar matahari. Akibatnya di mata kita, terkesan bulan itu bulat penuh yang kita sebut sebagai bulan purnama.
Kapan waktu lagi, yang kelihatan dari bumi hanya separuh permukaan bulan yang terkena sinar matahari. Kita kemudian mengatakan bulan setengah. Sampai pada satu posisi dari bumi yang nampak hanya bagian kecil sekali permukaan bulan yang terkena sinar matahari. Saat itulah kita sebut bulan sabit alias hilal.
Lantas kenapa Al-Quran tidak menjelaskan saja seperti penjelasan kita yang hidup di abad ke-21 ini?
Jawabannya bahwa penjelasan semacam itu belum tentu bisa dipahami oleh umat manusia di masa itu. Sehingga ayat yang menjelaskan itu hanya akan jadi bahan perdebatan di kalangan umat mnusia.
Nampaknya Allah SWT tidak menjawab di dalam Al-Quran karena memang konsep isi Al-Quran bukan untuk menjawab hal-hal yang bersifat teknis di bidang astronomi. Biar umat manusia saja yang melakukan penelitian, sampai akhirnya misteri itu bisa terpecahkan.
Pemahaman semacam ini tidak terjadi pada satu tahun tertentu yang spesifik, melainkan lewat proses yang berlangsung selama berabad-abad dan melibatkan kontribusi dari banyak ilmuwan, peneliti, dan pemikir di berbagai periode sejarah.
Salah satu tonggak penting dalam perkembangan ini adalah ketika munculnya tokoh seperti Nicolaus Copernicus pada abad ke-16 dan pada abad ke-17 muncul hasil-hasil Johannes Kepler dan Galileo Galilei, serta teori gravitasi yang dikembangkan oleh Isaac Newton. Baru sejak saat itulah misteri alam semesta seperti terbuka sedikit demi sedikit.
Uniknya misteri itu akhirnya dipecahkan oleh umat manusia sendiri, bukan oleh wahyu samawi. Al-Quran sendiri tidak pernah secara tegas dan eksplisit bercerita tentang fenomena fisika, kimia ataupun juga astronomi.
Ungkapan-ungkapan Al-Quran terkait tema sains banyak yang tidak sejalan dengan penjelasan modern tentang gambaran fisik alam semesta. Sebutlah yang mudah ketika Al-Quran bicara tentang tujuh lapis langit dan juga konsep tujuh bumi. Kita tidak pernah bisa menyambungkan ungkapan Al-Quran dengan apa yang kita pelajari dari ilmu astronomi.
Sebenarnya kejadian semacam ini dialami juga oleh kitab-kitab suci yang lain, seperti Zabur, Taurat dan Injil. Hanya saja penjelasan di dalamnya nyaris banyak yang tidak masuk akal. Sementara penjelasan dari Al-Quran sendiri cenderung sangat minim dan hemat informasi. Penulis lebih cenderung mengatakan Al-Quran memang sengaja tidak menjawab pertanyaan yang bersifat sains ini.
Alasanya karena Al-Quran bukan kitab sains, selain itu jawaban atas pertanyaan ini harus sesuai dengan realitas kesiapan peradaban manusia di masing-masing zamannya. Al-Quran tidak akan memberikan jawaban berdasarkan fakta sains yang baru terkuak di abad ke 17, untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia di sepuluh abad sebelumnya.
Biarkan peradaban manusia sendiri yang nanti akan menjawabnya, lewat berbagai macam penelitian dan analisa ilmiyah. Jangan bebankan masalah di bidang itu kepada Al-Quran.