ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh al-fitnah (الْفِتْنَةُ) diartikan menjadi fitnah juga. Fakruddin Ar-Razi mengatakan bahwa secara makna bahasa asalnya, kata fitnah ini adalah tindakan membakar atau mencairkan emas dengan dibakar sehingga unsur yang bukan emasnya bisa dibersihkan menjadi emas murni (عَرْضُ الذَّهَبِ عَلى النّارِ لِاسْتِخْلاصِهِ مِنَ الغِشِّ). Kemudian semua bentuk-bentuk kekerasan atau penyiksaan terhadap sesuatu akhirnya menggunakan kata fitnah[1].
Lafazh asyaddu (أَشَدُّ) diterjemahkan menjadi : lebih besar bahayanya, sedangkan lafazh minal-qatl (مِنَ الْقَتْلِ) maknanya : dari pembunuhan. Yang sedikit menjadi ganjalan adalah kata fitnah yang terjemahannya bermasalah dari dua sisi.
Pertama, kata fitnah dalam bahasa Arab punya banyak sekali makna, namun fitnah dalam bahasa Indonesia diartikan jadi : menuduh orang lain dengan tuduhan yang tidak berdasar.
Kedua, masalahnya dari sekian banyak makna fitnah dalam bahasa Arab, tidak ada satu pun yang maknanya sesuai dengan kata fitnah dalam bahasa Indonesia.
Sehingga kalau kata fitnah dalam ayat ini diartikan menjadi : menuduh orang lain dengan tuduhan yang keji, tentu akan sangat-sangat bermasalah. Dan kalau benar menuduh orang lain lebih kejam dari pada pembunuhan, kenapa tidak kita bunuh saja sekalian? Toh dosanya lebih ringan ketimbang kita tuduh dengan tuduhan negatif.
Khusus untuk ayat ini makna fitnah menurut Ibnu Abbas adalah al-kufru (الكُفْرُ) atau kekafiran kepada Allah SWT. Kekafiran itu disebut dengan fitnah karena sama-sama membawa kepada malapetaka. Hal itu sebagaimana dikutipkan oleh Al-Mawardi[2] di dalam An-Nukat wa Al-Uuyun, sebagaimana juga dikutipkan oleh Ibnu Katsir[3] dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim.
As-Syaukani dalam Fathul Qadir mengatakan bahwa fitnah itu punya beberapa makna, antara lain[4] :
§ Kembalinya seorang muslim kepada kekafiran (رُجُوعُكم إلى الكُفْرِ).
§ Cobaan dan ujian yang menimpa seseorang baik nyawa, keluarga, harta atau pun kehormatan (المِحْنَةُ الَّتِي تَنْزِلُ بِالإنْسانِ في نَفْسِهِ أوْ أهْلِهِ أوْ مالِهِ أوْ عِرْضِهِ،)
§ Perbuatan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin (الشِّرْكُ الَّذِي عَلَيْهِ المُشْرِكُونَ)
§ Melarang masuknya orang ke Masjid Al-Haram (بِصَدِّكم عَنِ المَسْجِدِ الحَرامِ)
Namun pada akhirnya Asy-Syaukani menegaskan bahwa segala macam bentuk metode dalam rangka memerangi umat Islam bisa termasuk ke dalam fitnah.
Lantas apa saja makna fitnah yang biasa digunakan di dalam bahasa Al-Quran?
1. Syirik
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
Dan fitnah (syirik) itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS. Al-Baqarah : 191)
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (syirik) dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. (QS. Al-Anfal : 39)
2. Kesesatan
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah (kesesatan) untuk mencari-cari ta´wilnya. (QS. Ali Imran : 7)
وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. (QS. Al-Maidah : 41)
3. Penyerangan
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. (QS. An-Nisa : 101)
4. Memalingkan
وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ
Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (QS. Al-Maidah : 49)
5. Permintaan maaf
ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ
Kemudian tiadalah permintaan maaf mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah". (QS. Al-Anam : 23)
6. Vonis Hukuman
أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا ۖ إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ
Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan (hukuman) dari Engkau. (QS. Al-Araf : 155)
7. Dosa
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا
Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah". Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. (QS. At-Taubah : 49)
8. Penyakit
أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ
Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji dengan penyakit sekali atau dua kali setiap tahun. (QS. At-Taubah : 126)
9. Pelajaran
فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Lalu mereka berkata: "Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami fitnah (pelajaran) bagi kaum yang´zalim, (QS. Yunus : 85)
10. Hukuman
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan (hukuman) atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur : 63)
11. Ujian
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. (QS. Al-Ankabut : 3)
12. Azab
فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ
Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah (azab) manusia itu sebagai azab Allah. (QS. Al-Ankabut : 10)
13. Dibakar
يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ
(Hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (QS. Adz-Dzariyat : 13)
14. Gila
بِأَيْيِكُمُ الْمَفْتُونُ
siapa di antara kamu yang gila. (QS. Al-Qalam : 6)
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid hal.
[2] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1), jilid hal.
[3] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M) , jilid hal.
[4] Asy-Syaukani (w. 1250 H), Fathul Qadir, (Beirut, Darul Kalim ath-Thayyib, Cet. 1, 1414 H), jilid hal.