ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh fa-in (فَإِنِ) merupakan salah satu bentuk adatus-syarth yang maknanya : “jika”. Sedangkan lafazh intahau (انْتَهَوْا) adalah fi’il madhi yang bentuk mudhari’nya adalah (انتهى - ينتهي). Maknanya : mereka berhenti, maksudnya berhenti dari memusuhi kaum muslimin.
Penggalan ayat ini menunjukkan bahwa perintah untuk membunuh penduduk Mekkah itu tidak berlaku mutlak. Perintah itu ada syarat-syaratnya dan yang paling utama adalah hanya apabila mereka berusaha melawan dan memerangi kaum muslimin.
Dalam kenyataannya semua menyerah tanpa perlawanan sedikit pun. Sebab tokoh besar mereka yaitu Abu Sufyan justru sudah masuk Islam di malam sebelum penaklukan kota Mekkah. Abu Sufyan di tengah penduduk Mekkah memang seorang tokoh besar dan legendaris. Sosoknya bukan hanya kaya raya karena jadi raja bisnis di tengah konglomerat Mekkah, namun juga kemampuan intelektualnya yang diakui oleh semua kalangan.
Abu Sufyan adalah anak atau cucu dari Al-Harb, yang dalam sejarah ilmu pengetahuan adalah sosok yang memperkenalkan bangsa Arab kepada budaya tulis menulis. Awalnya orang Arab benar-benar tidak bisa baca tulis, namun akhirnya mereka melek baca tulis, karena jasa-jasa leluhur Abu Sufyan. Khat Arab di masa itu cenderung kotak-kotak karena terpengaruh dari aksara Kufah yang kotak-kotak. Di masa kini kita mengenalnya sebagai khat aliran Kufi.
Sebenarnya kalau Nabi SAW mau untuk membunuh Abu Sufyan, sangat bisa dan memang sudah dapat izin dari Allah SWT. Namun apalah gunanya memenggal kepala orang yang sudah tidak punya kekuatan apapun, salah-salah malah hanya akan menimbulkan sakit hati di tengah penduduk Mekkah. Oleh karena itulah Nabi SAW bersyukur ketika Abu Sufyan mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebab dengan masuk Islamnya Abu Sufyan, diharapkan penduduk Mekkah pun akan mengikuti jejak langkahnya.