ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Quraish Shihab mengatakan muhsin itu bukan sekedar orang melakukan perbuatan baik, tetapi lebih dari itu, dia selalu berbuat baik dalam setiap waktunya.
Jawabnya dalam beberapa ayat kita menemukan penyebutan istilah muhsinin (مُحْسِنِيْن) yang maknanya orang-orang yang berderma atau memberi tanpa imbalan. Salah satunya ayat berikut ini :
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran : 134)
Banyak juga kalangan yang menyebut bahwa muhsin itu sebutan untuk orang yang banyak memberi kepada orang lain, entah itu berupa harta atau bentuk-bentuk pertolongan yang lain. Sehingga padanan kata yang tepat adalah : dermawan.
Maka dari petikan akhir ayat ini banyak kalangan yang menjadikannya sebagai dalil bahwa orang yang banyak berderma alias muhsin, rejekinya tidak akan pernah berhenti mengalir, karena selalu Allah SWT tambahkan. Dan istilah tambahan disini berarti lebih banyak jumlahnya dari pada sekedar digantikan.
Maksudnya harta yang didermakan di jalan Allah SWT itu tidak berkurang, karena pastinya akan diganti oleh Allah SWT. Bahkan malah penggantiannya melebihi apa yang sudah dikeluarkannya, sehingga diksi yang digunakan adalah ‘menambahkan’, bukan sekedar mengganti.