ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh rabbana (رَبَّنَا) merupakan sapaan dan panggilan, yang menujukkan kesantunan dan adab dalam berdoa. Artinya : “Wahai Tuhan kami”.
Sedangkan lafazh aatinaa (آتِنَا) merupakan fi’il amr yang secara umum bermakna perintah. Namun karena perintah ini datang dari pihak hamba kepada tuhannya, tidak disebut dengan perintah melainkan sebuah permohonan atau permintaan. Maknanya adalah : “berikan kepada kami”.
Lalu lafazh fid-dun-ya (فِي الدُّنْيَا) artinya di dunia. Maksudnya meminta untuk hal-hal yang terkait dengan urusan dunia. Dalam hal ini pesan yang ingin disampaikan bahwa silahkan meminta kepada Allah SWT hal-hal yang terkait dengan urusan duniawi. Jangan hanya melulu meminta masalah akhirat saja.
Memang ada kalangan yang dalam berdoa hanya mementingkan masalah akhirat semata dengan menafikan kepentingan dunia. Biasanya pandangan semacam itu lahir dari pemikiran ekstrim yang memandang dunia sebagai tempat yang buruk dan hanya bersifat sementara, sedangkan akhirat itu tempat yang sesungguhnya dan abadi.
Padahal di ayat lain Allah SWT telah menegur sikap-sikap semacam itu. Misalnya dalam ayat berikut :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (QS. Al-Qashash : 77)
Lafazh hasanah (حَسَنَةً) artinya kebaikan secara umum. Dan karena kebaikannya terkait kemaslahatan duniawi, maka para mufassir banyak yang mengaitkannya dengan beragam contoh hasanah duniawiyah, antara lain :
الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. Quraisy : 4)
الصحة تاج على رؤوس الأصحاء لا يراه إلا المرضى
Kesehatan adalah mahkota yang bertengger di kepada orang sehat, namun tidak ada yang menyadarinya kecuali orang sakit.
Termasuk dalam kesehatan adalah diberi karunia usia yang panjang, namun dengan keadaan yang masih sangat baik.
Bentuk penghormatan bisa bermacam-macam, misalnya mendapatkan pangkat dan jabatan yang tinggi dan penting. Atau pun juga mendapatkan gelar kehormatan, kebangsawanan, penghargaan serta ucapan dan pujian dari masyarakat.
Dan masih banyak lagi contoh dari hasanah yang sifatnya duniawiyah. Salah satunya sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut :
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.(HR. Tirmidzi)
Di sisi lain juga ada kebahagiaan yang dirumuskan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahuanhu, dimana Beliau mengurutkannya mulai dari [1] istri yang shalihah, [2] rumah tempat tinggal yang luas, [3] tetangga yang shalih, dan [4] kendaraan yang nyaman.
أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ،
“Empat hal dari kebahagiaan; Istri yang shalihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. (HR. Ibnu Hibban)