ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh wat-taquni (وَاتَّقُونِ) adalah fi’il amr yang merupakan perintah, asalnya dari (اِتَّقَى - يَتَّقِي) yang maknanya cukup luasa, bisa takutlah, atau jagalah atau bertaqwalah.
Aslinya huruf nun kasrah di bagian akhir fi’il amr adalah dhamir atau kata ganti orang pertama, yang dalam hal ini artinya adalah : Aku. Dan yang dimaksud tidak lain adalah Allah SWT. Karena perintah untuk bertaqwa ini datangnya dari Allah SWT, sehingga perintahnya agar : kamu takutlah kepada-Ku.
Sedangkan lafazh ulul-albab (أُولِي الْأَلْبَابِ) secara harfiyah adalah orang yang punya albab. Albab adalah bentuk jama’ dari lub (اللُّبُّ) yang artinya (العقل الخالص من الشوائب) akal yang bersih dari kerancuan berpikir atau kepercayaan yang tidak ada dasar informasi yang akurat.
Penggalan terakhir ayat ini adalah perintah untuk takut atau bertaqwa kepada Allah. Kemudian Allah SWT menyapa dengan sebutan : ulul albab yang maknanya orang-orang yang cerdas, punya ilmu dan pengetahuan yang luas serta mendalam.
Ada yang mengaitkan penggalan terakhir ini dengan sikap tawakkal salah kaprah yang dilakukan oleh beberapa orang yang berhaji tanpa bekal cukup sejak dari negerinya.
Sehingga perbuatan berhaji tanpa bekal itu sangat dilarang dan tidak masuk akal. Karena secara logika, mereka yang berhaji itu memang harus orang kaya, sedangkan yang tidak punya harta benda, sejak awal tidak pernah diperintah untuk berhaji.
Lagian bagi mereka yang berhaji justru sangat diutamakan untuk datang membawa buah tangan, oleh-oleh dan hadiah untuk dipersembahkan kepada Allah SWT di tanah suci nanti, yaitu berupa hewan-hewan yang disembelih. Maka berhaji tanpa bekal itu dianggap perbuatan tidak masuk akal, tidak cerdas dan tidak paham apa yang dimaksud.